Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2009

SI PINCANG DAN SI BUTA


Terdapat dua lelaki yang memiliki kekurangan masing masing pada dirinya. Lelaki yang pertama adalah seorang pincang. Salah satu kakinya tidak berfungsi sehingga dia dikenal dengan sebutan si pincang. Seorang lagi mengalami kebutaan pada kedua matanya. Si buta dan si pincang tinggal bersama. Si buta mempunyai tongkat yang menuntun dia untuk dapat mengarahkan langkahnya. Tongkat tersebut memberikan kemudahan baginya dalam melakukan aktivitasnya sendiri. Sedangkan si pincang tidak mempunyai kursi roda yang dapat membantunya berjalan sehingga dalam kesehariannya ada beberapa hal yang tidak dapat dilakukannya meskipun dia sangat ingin melakukannya.
Ada sesuatu yang unik dalam diri si pincang. Dimulai setiap hari ke duapuluh setiap bulannya selama sepuluh hari, dia harus menghirup udara dari seberang desa untuk menjamin agar dia dapat bertahan hidup. Desa mereka dengan desa asal udara tersebut hanya dihubungkan oleh jembatan kecil. Tepat pada hari kesembilan belas pada bulan itu, si pincang sudah mulai merasakan paru-parunya sesak. Ini merupakan pertanda bahwa dia harus segera menuju desa seberang. Dia pun meminta bantuan kepada si buta supaya dapat menolongnya seperti yang dilakukan si buta setiap bulannya. Si pincang meminta pada si buta agar si buta mau meminjamkan tongkatnya. Nantinya tongkat ini akan digunakan si pincang sebagai penyangga membantunya menyebrangi jembatan kecil agar dia tidak jatuh kedalam jurang. Si buta pun mulai hari ke dua puluh selama sepuluh hari setiap bulannya meminjamkan tongkatnya kepada si pincang dengan anggapan bahwa dia masih bisa tetap berjalan tanpa menggunakan tongkat. Dengan menggunakan tongkat yang dipinjamkan oleh si buta, si pincang pun dapat melalui jembatan kecil tersebut dan dapat menghirup udara di seberang desa sehingga dia tetap dapat hidup.
Si pincang mulai merasa tidak enak hati karena setiap bulannya dia selalu meminjam tongkat pada si buta. Akhirnya si pincang memutuskan untuk meminjam tongkat pada orang lain di bulan-bulan tertentu. Dengan cara itu dia masih tetap dapat menyebrangi jembatan kecil ke seberang desa agar dapat bertahan hidup.
Suatu bulan pada hari kesembilan belas, si buta mengalami sakit parah dan dia harus memakan tanaman obat dari suatu desa. Ternyata desa tempat tanaman obat itu adalah desa yang selalu didatangi oleh si pincang setiap bulannya. Si buta mengetahui bahwa untuk menuju desa tersebut, dia harus melalui jembatan kecil. Sebenanya, si buta dapat melangkah dengan normal di atas jembatan. Namun, karena kebutaannya, dia memerlukan penuntun yang mengarahkan langkahnya. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk meminta bantuan si pincang untuk menuntunnya. Si pincang pun menuntunnya menuju desa itu.
Keesokan harinya adalah hari kedua puluh pada bulan itu, yaitu hari dimana si pincang harus ke desa seberang. Kebetulan pula, si buta belum sembuh total dan masih harus tetap mengkonsumsi tanaman obat dari desa yang sama dengan desa yang didatangi si pincang. Si buta pun merencanakan untuk pergi bersama dengan si pincang ke desa tersebut dengan maksud agar si pincang dapat menuntunnya sampai pada desa tersebut. Namun sangat disayangkan, si pincang selalu pergi terlebih dahulu ke desa tersebut tanpa diketahui oleh si buta padahal si pincang mengetahui bahwa si buta membutuhkan bantuannya. Akhirnya setelah beberapa kali menghadapi hal yang sama, si buta meminta penjelasan pada si pincang mengapa si pincang tidak menolongnya padahal dia sangat membutuhkan penuntun. Si pincang pun menjawab bahwa selama ini si buta hanya meminjamkan tongkat maka si pincang hanya mau membalasnya dengan tongkat yang dipinjamnya dari orang lain. Si buta merasa sangat kecewa pada si pincang sebab si buta selalu meminjamkan tongkat pada si pincang, namun disaat dia membutuhkan tuntunan dari si pincang, si pincang hanya mau memberikan tongkat pinjaman pada si buta yang nyata-nyata mempunyai tongkat sendiri. Sejak saat itu, si buta menjadi sangat mempertimbangkan apakah akan meminjamkan tongkatnya pada si pincang jika dikemudian hari si pincang tidak mendapatkan pinjaman tongkat dari orang lain...


Tragis memang, ada kalanya orang lain mengandalkan bantuan dari kita dalam melalui masa-masa sulitnya. Tapi, di saat kita membutuhkan bantuan dari orang tersebut untuk membantu kita di masa-masa sulit kita, dia acuh tak acuh dan tak peduli akan kondisi kita meskipun dia tahu bahwa kita sedang membutuhkan bantuan darinya. Malah, untuk beberapa orang tertentu, mereka hanya mau membalas orang lain dengan bentuk yang sama dengan yang diterimanya

Selasa, 23 Juni 2009

You Are Inspiring Because You Are (Not) So Good

Pada suatu hari, Robert Edmund menghampiri sebuah toko buku, kemudian dia melihat sebuah buku mengenai tata cara kehidupan yang berisi beberapa contoh sifat-sifat baik manusia sehari-hari beserta langkah bagaimana agar manusia dapat berbuat sesuai dengan norma. Betapa kagetnya Edmund saat mengetahui bahwa penulis buku tersebut adalah teman satu asramanya dulu saat mengikuti wajib militer, Glenn Bazwell yang telah menjadi penulis buku terkenal. Kekagetannya semakin bertambah saat dia menyadari halaman awal buku tersebut menyebut bahwa buku tersebut didedikasikan kepadanya.


Edmund membeli buku tersebut dan sangat bangga akan penulisan namanya di salah satu lembar buku tersebut. Di setiap kesempatan, buku itu selalu dibawanya. Saat di kereta, dia menunjukkan kepada orang-orang di sebelahnya lembar yang bertuliskan namanya sambil mengatakan bahwa dia lah yang menjadi inspirasi Glenn Bazwell dalam menulis buku tersebut. Pernah saat jamuan makan besar, Edmund berdiri di atas mimbar dan mengambil pengeras suara dan mengatakan bahwa dia sangat bangga pada dirinya bahwa dia telah menjadi inspirasi dalam menghasilkan sebuah buku best seller dari seorang penulis buku terkenal di dunia. Dia bangga karena merasa selama ini telah memberikan Bazwell segala contoh sifat-sifat baik manusia. Karena seringnya dia mengabarkan penulisan namanya tersebut, Edmund pun dipanggil sebagai “ Edmund si pemberi inspirasi”. Edmund sangat bangga akan ini.
Sementara itu, Glenn Bazwell yang kini tinggal di negara bagian berbeda dengan Edmund disibukkan dengan banyaknya acara diskusi buku best seller karyanya tersebut. Di setiap kesempatan, dia ditanyai beberapa pertanyaan seputar isi buku. Suatu hari, perpustakaan negara tempat dia tinggal memberikan kesempatan padanya untuk melaksanakan diskusi buku skala nasional yang akan dihadiri oleh ribuan orang dari seluruh negara bagian.
Saat sesi tanya jawab, seorang peserta diskusi bertanya kepadanya.
“Glenn Bazwell, siapakah Robert Edmund sehingga anda mendedikasikan buku ini kepadanya?”
“Dia adalah teman satu asrama saya selama beberapa tahun. Dia menjadi inspirasi bagi saya dalam menulis buku ini.”, jawab Bazwell.
“Betapa sempurna setiap tata cara dan contoh sifat-sifat baik manusia yang anda gambarkan dalam buku ini. Apakah Robert Edmund yang mengajari anda?”, tambah si penanya.
“Hmm...Sebenarnya Edmund tidak berada pada satupun contoh yang saya tuliskan. Dia berada dalam setiap permasalahan mengenai sifat-sifat buruk manusia. Selama saya bersamanya, hampir semua sifatnya tidak patut dicontoh. Sifat kurang berterimakasih, kurang menghargai dan tidak peduli terhadap sesama yang saya perhatikan selama beberapa tahun bersamanya menginspirasi saya untuk menuangkan solusi dalam bentuk contoh dan tata cara yang berkebalikan dengan apa yang saya lihat dalam diri Edmund agar yang membacanya tidak berbuat seperi Edmund.”, jelas Bazwell.

Rabu, 17 Juni 2009

ANDA SALAH SATUNYA


Di sebuah kota hiduplah seorang wanita yang sangat cantik. Wanita ini menikah dengan seorang pria pada perjumpaan mereka yang kedua sehingga mereka belum saling mengetahui tentang diri mereka. Pada suatu hari, si wanita memberitahukan sesuatu yang paling rahasia mengenai dirinya kepada sang pria. Dia memberitahukan bahwa ketika remaja, dia pernah jatuh sewaktu menunggangi kuda dan menyebabkan empat gigi depannya tanggal. Untuk menjaga penampilannya, sang wanita memasang empat gigi palsu untuk menggantikan posisi keempat giginya terdahulu.
Dari pernikahan mereka, lahirlah seorang anak perempuan. Sayangnya, anak tersebut memiliki gigi yang kurang sempurna dimana empat gigi atas depannya lebih maju dibandingkan dengan gigi bawahnya. Begitupun, sang pria dan wanita sanagt mencintai anak mereka. Saat menginjak remaja, anak tersebut mulai tidak percaya diri karena teman-temannya menghina penampilannya yang kurang menarik tersebut. Hal ini menyebabkan si anak tidak mau keluar rumah untuk bersosialisasi dengan penduduk di sekitar. Melihat hal ini, sang Ibu merasa sangat prihatin dan mulai memotivasi anaknya bahwa penampilan bukan hal yang utama dalam pergaulan. Hari demi hari, sang wanita berusaha meyakinkan anaknya untuk tetap percaya diri.
Pada suatu hari, si wanita, si pria dan anaknya duduk di taman. Tercetus ide dari sang pria untuk mengatasi masalah sang anak. Dia mengatakan kepada anaknya agar anak tersebut bersedia untuk menanggalkan giginya dan menggantinya dengan gigi palsu yang sempurna. Sang pria mengatakan bahwa sang wanita yang merupakan ibu dari anak tersebut juga memiliki empat gigi palsu. Sang pria mengatakan kepada anaknya bahwa kemungkinan besar sang anak mendapat “gen” tersebut dari Ibunya. Kemungkinan sang wanita juga sebenarnya memiliki gigi yang tidak sempurna dan menggantinya dengan gigi palsu. Mendengar ini, sang wanita marah kepada sang pria karena ini merupakan hal yang sangat memalukan bagi dia. Sang wanita marah dengan mengatakan bahwa dia memiliki gigi palsu bukan karena penampilannya kurang menarik melainkan karena kecelakaan saat menunggangi kuda. Dia terus mengatakan bahwa sebelum kecelakaan tersebut pun dia sudah memiliki penampilan yang menarik. Wanita dan pria tersebut bertengkar hebat di taman tersebut hanya karena permasalahan ini.
Setelah kejadian tersebut, sang anak tidak pernah lagi memanggil sang wanita dan pria dengan sebutan Ibu dan Ayah. Tragisnya, sang wanita dan sang pria tidak bisa menemukan jawaban mengapa anak mereka tidak mau lagi memanggil mereka dengan sebutan Ibu dan Ayah.


Apakah anda adalah si wanita? Si pria? Atau si anak? Silahkan mengambil amanat cerita ini dalam kehidupan anda. Karena tanpa anda sadari, terkadang anda adalah salah satu orang yang menyakiti orang yang anda sayangi.

Sabtu, 23 Mei 2009

Mahasiswa & Karyawan Mr. Burger


Kuliah saya hari ini sudah selesai sejak jam 13.30 WIB dan mungkin ini saatnya pulang bagi saya. Bukan mungkin, tapi harus karena langit sudah sangat gelap sewaktu saya keluar dari ruang perpustakaan FEB UGM. Saya sedikit jengkel jika dalam perjalanan pulang dari kampus terdapat bonus air hujan dari langit. Oleh sebab itu saya memutuskan untuk segera pulang. Lagipula jam tangan saya menunjukkan pukul 15.26 WIB dan perpustakaan akan tutup tepat pukul 16.00 WIB. Apalah guna sisa waktu 34 menit bagi saya yang tidak sepenuhnya berkonsentrasi pada bahan bacaan saya. Di perjalanan pulang saya dari kampus, rintik-rintik air sudah terasa menyentuh tangan saya. Beberapa juga hinggap di kaca penutup helm saya. Saya juga sudah bisa menebak kalau 100 meter lagi saya harus berteduh karena gerimis mungkin akan berubah menjadi hujan deras. Benar saja, saya sudah berdiri di depan minimarket “INDOMARET” di Jalan Kaliurang Km.5.5 Yogyakarta saat hujan sudah sangat deras.

Lima belas menit pertama, kaki saya masih sanggup menopang berat badan ditambah tas yang terisi penuh ditambah helm besar di kepala saya. Tetapi hujan semakin deras dan sepertinya “berdiri” bukan opsi terpilih dari pertanyaan “Apa yang saya lakukan disaat saya menunggu hujan berhenti?”.Tepat di sebelah saya terdapat sebuah kursi plastik merah milik sebuah (mungkin namanya gerai atau gerobak atau apalah) fastfood berlogo Mr.Burger yang beroperasi di depan mimimarket tersebut. Saya meminta izin kepada karyawan pria Mr.Burger untuk menggunakan kursi itu. Izin diterima.
“Kuliah, Mas?”, karyawan itu bertanya. “Iya.”, jawab saya. “Sudah ada planning?”, tanya karyawan itu lagi. Saya agak kaget dengan kata “planning” yang diucapkan karyawan tersebut. Tidak bermaksud menerendahkan, namun bagi saya kata itu terdengar intelek untuk diucapkan oleh seorang karyawan sebuah gerai kecil makanan cepat saji. Mungkin saya saja yang terlalu berlebihan. Menjawab pertanyaan mengenai planning tadi, saya mengatakan kalau saya sudah punya beberapa gambaran dan semoga saja semuanya terwujud. Sebelumnya saya tidak berfikir bahwa ini menjadi suatu conversation sampai saya mendengar karyawan tersebut berkata, “Saya tidak pernah membayangkan saya akan berakhir sebagai karyawan seperti ini.”. Mendengar itu, sontak rasa penasaran saya timbul. Kemudian conversation pun berlanjut begitu saja.

Terakhir saya mengetahui nama karyawan itu adalah Rudi (atau Rudy). Setelah saya bertanya mengenai maksud dari Saudara Rudi itu mengatakan mengenai ucapannya tadi, dia pun menjelaskan panjang lebar. Dia mengatakan bahwa bulan ini adalah bulan kedua dia bekerja sebagai karyawan Mr.Burger. Sebelumnya dia bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan produsen suku cadang sepeda motor Yamaha bernama PT. KYOWA di Bekasi. Imbas krisis perekonomian global membawa dia dan sekitar 2000 karyawan di perusahaan itu menjadi pengangguran dadakan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dialaminya membawanya menjadi seorang karyawan merangkap juru masak di gerai kecil makanan cepat saji tersebut. Saya dapat membayangkan bagaimana kehidupan seorang karyawan perusahaan besar berubah 180 derajat saat nasib menempatkannya pada posisi yang “tidak pernah dibayangkan sebelumnya”. Saudara Rudi yang merupakan tamatan STM ini harus bisa menyambung hidup dengan bekerja jauh dari bidang yang digeluti sebelumnya. Kisahnya, sebelum menjadi karyawan PT. KYOWA, dia mulai bekerja sebagai mekanik. Rezeki membawanya menjadi karyawan dengan status “karyawan kontrak” di perusahaan suku cadang sepeda motor di daerah Bekasi. Empat tahun lamanya dia berkontribusi di perusahaan tersebut sebelum perusahaan terpaksa melepasnya untuk “pengencangan ikat pinggang” perusahaan sebagai bentuk minimizing cost dalam menghadapi krisis keuangan global. Empat tahun bekerja di satu perusahaan cukup menggambarkan loyalitasnya sebagai karyawan mengingat bahwa dia berstatus karyawan kontrak. Kekalahan seleksi alam membawanya kembali ke Yogyakarta dan beruntung dia masih bisa mendapatkan pekerjaan di Mr.Burger. Gaji yang jauh lebih rendah dari gaji sebelumnya cukup membawa dampak besar. “Saya dulu kalau mau beli sesuatu gak pernah lihat label harganya, Mas.”, kisahnya “Sekarang ya suka mikir-mikir dulu sebelum beli.”.

Dia memberitahu bahwa di PT. KYOWA dia memperoleh gaji sebesar Rp.2.000.000,- per bulan belum termasuk lembur. “Sekarang gaji saya Rp.540.000,- per bulannya.”, katanya.
Mungkin anda juga bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang “Saudara Rudi”. Bayangan saya, tidak mudah menerima keadaan dimana pada satu waktu kita berada pada keadaan yang empuk namun di waktu lain keadaan yang terkeras merupakan keadaan terempuk yang harus kita hadapi. Jika kita melihat dari sisi prestige, sungguh jauh lebih prestige bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan Jepang yang merupakan produsen suku cadang sepeda motor Yamaha daripada harus menjadi seorang juru masak sebuah gerai kecil makanan cepat saji. Bayangan saya itu sepertinya tidak jauh berbeda dengan air muka yang saya lihat dari Saudara Rudi.
Dia juga mengatakan bahwa setelah dua tahun bekerja di PT. KYOWA, dia dan temannya memutuskan nyambi membuka CV( Comanditaire Venootschap ) yang bergerak dibidang finishing suku cadang produksi PT. KYOWA. Singkatnya, apa yang dilakukan oleh Saudara Rudi pada saat itu sangat mempunyai prospek. Mungkin inilah apa yang “pernah” dibayangkan olehnya. Pemutusan Hubungan Kerja bukan satu satu nya “tangga” yang menimpanya. CV yang dibangunnya gulung tikar karena putus kerjasama dengan PT.KYOWA.
Pembicaraan kami terhenti sejenak saat seorang wanita memesan sebuah beef burger di gerai itu. Saudara Rudi dengan segera mulai mengolah pesanan si pembeli. Saat itu saya masih sempat terfikir bagaimana cara Saudara Rudi menerima keadaan seperti ini. Bagi saya yang notabene adalah seorang mahasiswa yang mulai dari outfit sampai isi perut berasal dari uang orang tua saja terkadang pusing memikirkan berjuta-juta mimpi di hari esok. Bagaimana pula dengan Saudara Rudi yang telah menggenggam mimpi nya namun dirampas secara paksa oleh keadaan. Mungkin bagi sebagian orang gaji sebesar Rp.2.000.000,- per bulan adalah bentuk riil dari gaya hidup selama beberapa hari. Namun bagi Saudara Rudi, uang sebesar ini adalah sigma gaji selama kurang lebih empat bulan. Masih beruntung Mr.Burger memberikan gaji tidak berdasar omzet per gerai melainkan dengan besaran tetap per bulannya. Dengan jam kerja kurang lebih delapan jam per hari, tentunya uang sebesar ini masih terasa kecil. Pesanan pun selesai dan si pembeli (yang merupakan satu-satunya pembeli selama saya disana) menyerahkan selembar uang lima ribu dan dua lembar uang seribuan.

Saudara Rudi juga bercerita bahwa dia mempunyai seorang sepupu yang mempunyai jabatan penting di sebuah perusahaan lain yang juga bergerak dalam produksi suku cadang sepeda motor. Namun ini sama sekali tidak mendatangkan pengaruh kepadanya. Bahkan jika politik Nepotisme menjadi Survive Exit terakhir, keadaan perekonomian dunia yang bergejolak belum mengizinkannya untuk menjadi salah satu bagian di perusahaan tersebut. Mungkin kita berfikir bahwa Channeling dan Backing akan menempatkan kita pada Comfort Zone dan Certainty yang siap ditagih pada waktu tertentu. Saya jadi teringat dengan satu ungkapan yang mengatakan bahwa satu satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri.
Tanpa maksud menggurui, saya berkata pada Saudara Rudi bahwa semua yang kita terima pada dasarnya adalah rezeki. Bekerja di Mr.Burger mungkin bukan rezeki bagi dia. Namun bagi pelamar lain yang dia kalahkan untuk mendapatkan pekerjaan ini, pasti berpendapat bahwa dia adalah orang yang “berezeki”. Bukan berarti saya juga mudah dalam menerima suatu keadaan terpuruk. Saya juga sebenarnya baru tersadar bahwa untuk bersyukur, kita harus bisa flexible menempatkan diri kita pada posisi yang appropriate dengan kadar rezeki yang kita terima. Bukan pula berarti kita melepaskan effort untuk rezeki terbesar melainkan meyakini bahwa skenario terburuk tidak selamanya buruk.

Pembicaraan pun bercabang ke arah pemilihan presiden, pemanfaatan SDM yang tidak maksimal di Indonesia, sampai mengenai franchising. Tidak terasa saya berbincang-bincang selama kurang lebih dua jam. Hujan pun sudah mulai berhenti. Saya menjabat tangan Saudara Rudi dan mengatakan semoga dia sukses dengan segala usaha yang dijalaninya. Semoga dia juga mengatakan hal yang sama di dalam hatinya. Saya pun bergegas mengendarai motor saya. Ternyata hujan dalam perjalanan pulang dari kuliah tidak selamanya menjengkelkan. Hujan kali ini cukup memberikan saya pelajaran berharga. Mungkin lain kali saya pulang kuliah di saat hujan saja. Bercanda.

Comment(s) via Facebook.com



Radhyaksa Ardaya at 8:51pm May 23
Ini beneran?
Aku masih speechless nih. Indomaret mana sih ga?

Bimantara Haryo at 9:00pm May 23
bagus ga note lo...
cukup membuat merenungkan...
laik dis lah mamen!!!

Haga Ade Wiguna at 9:03pm May 23
@caca
kan ada alamatnya di dalam note bung caca...

@Bima
beugh...lo bayangin lo ada di posisi dia...gw aja shock juga dengernya...kisah nyata.

Bimantara Haryo at 9:07pm May 23
AYO BELI BURGER HANYA DI AKANG RUDI!!! hahaha
di jakarta kaga ada si coyyyy

Harisnu Kurniawan at 9:57pm May 23
nice post,..

Musytaqul Hasan at 12:09am May 24
Oi tetangga kamar,
Post nya bagus, tulisannya bagus,

tapi kenapa bahsanya kyk lo lagi kerasukan Soekarno?

Andrea Andjaringtyas Adhi at 5:12pm May 24
HIDUP MR.BURGER. Man. Emang mr.burger itu nagih abis. Cuma 6500rupiah bisa dapet daging yang eeuuhm dengan roti yang eeeuhm pula. Jadi kalo males makan berat, ngemil itu doang aja jg kenyang. Dan kebetulan mr.burger itu langganan gw ga! HAHAHA. Jgn2 slama ni mas rudi yg mendengarkan curhatku sambil menunggu chicken prosperity gw jadi.. Hehee.

Gw ada bbrp pertanyaan (bodoh):
1. Jadi elo beli burger ato ga?
2. Elo voto juga ya mas rudinya?
3. Ko elo tumben bs inspritif seh ga? Hehehe.

Syiva Nur Malasari at 9:25pm May 24
ndre ini MR.BURGER yg kita beli pas mlm itu bkn tmpatnya?kan lagi IN bgt tuh si chiken prosperity dsana??trs lu jd beli burger apa numpang neduh doang ga?

Haga Ade Wiguna at 10:53pm May 24
@Uul
lo kaga tau nama gw haga soekarno putra? Haha

@handra
ah lo gak manggil... Parah!

Haga Ade Wiguna at 10:56pm May 24
@andrea
1. Gw ga beli krn terlanjur beli sari roti. Wakaka
2. Si mas rudiny gw foto diem2 pake digicam. Gw pura2 nunjukin foto pak bud. Trus diem2 gw matiin flash, pura pura megang kamera, sok2 nanya lg dan JEPRETTT...Haha.
3. Iya tumben. Hehe

Haga Ade Wiguna at 10:58pm May 24
@cipoy
haha agenda utamanya kan neduh...

Raras Cynanthia at 12:42pm May 25
wah gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... jadi sedih bacanya. serius. :.( tapi inspirative... !!! memotivasi agar terus maju.

Khafidh Moch Zainul at 10:05pm May 25
Mantabs...

Dian Paramita at 9:06am May 28
KOK GA BELI BURGERNYA!!!!!
Dari pertama baca ampe terakhir aku berharap ada tulisan, "untuk menambah semangat Mas Rudy, aku membeli 5 burger untuk temanku Mimit." 1 kali dayuh, 2 ampe 3 pulau terlampaui kan. Mas Rudy senang, temanmu juga senang. Cuma numpang neduh dan minta didongengin aja! Mas nya pasti kecewa. Kamu bodoh. (Modyar ga dipuji malah dibodohi)

Paragraf terakhir itu favoriteku btw. Hehe.

Haga Ade Wiguna at 9:09am May 28
@mimit
soalnya tadinya aku udah makan sari roti yang gede...mas nya juga antusias ceritanya..lupalah akan kelezatan mr.burger

btw intinya bukan diparagraf yang kamu favoritin itu loh mit.

Dian Paramita at 9:14am May 28
Apapun ceritanya, tapi pendapat terakhirmu itu yang paling bagus. Yang ini lho maksudku:

...Saya pun bergegas mengendarai motor saya. Ternyata hujan dalam perjalanan pulang dari kuliah tidak selamanya menjengkelkan. Hujan kali ini cukup memberikan saya pelajaran berharga. Mungkin lain kali saya pulang kuliah di saat hujan saja. Bercanda.

DONG NGGAK KAMU???

Haga Ade Wiguna at 9:15am May 28
Oh
*angguk2, geleng2, nunduk2

Dian Paramita at 9:17am May 28
Bagus.

Selasa, 30 Desember 2008

Berjalan atau Berlari (?)



Terkadang saat akan melakukan sesuatu, ada desakan dalam hati untuk mengatakan ”nanti saja”, ”besok saja”, ”kapan-kapan saja”, atau apapun yang sejenis. Ada kalanya desakan itu terealisasi dan datang dalam bentuk penyesalan. Kenapa nanti? Kenapa besok? Kenapa kapan-kapan? Mereka bilang kegagalan adalah pembelajaran. Saya tidak mau gagal tapi saya mau belajar. Bahkan pepatah pun berteriak ”jangan tunggu sampai besok apa yang dapat kau kerjakan hari ini”. Saya bisa menyalahkan waktu kalau apa yang dapat saya kerjakan hari ini, saya realisasikan besok. Tapi saya akan menyalahkan diri saya sendiri kalau apa yang seharusnya dapat saya kerjakan besok tidak terealisasi karena besok saya harus mengerjakan yang seharusnya saya kerjakan hari ini. Saya tidak mau bibir dan hati ini berucap, ”Seharusnya saya yang menempati jabatan itu...” atau ” Seharusnya saya yang menjadi pasangan gadis itu...” atau yang paling buruk ”Andai dulu saya lebih serius merencanakan masa depan...”.
Saya tidak ingin merasa sedang menunggu padahal saya sudah tertinggal. Saya tidak ingin merasa menemukan sesuatu yang baru padahal mereka sudah lebih dulu. Mereka menggoyangkan kaki menapaki tanah saat saya menggoyangkan kaki diatas kursi. Saya ingin bertemu dengan si individu yang menyatakan ”waktu terus berjalan”. Kenapa berjalan? Disaat yang lain mengatakan time is running out. Berlari!!! Tidak aneh kalau ”besok saja” dan kawan-kawan sering terucap karena merasa tidak harus mengejar. Tidak aneh kalau ada saat-saat ketinggalan.
Saya ingin menjadi sepasang sepatu bagi waktu yang sedang berlari bukan pemandangan bagi waktu yang ternyata tak pernah berjalan...

Comment(s) via Facebook.com



Yosephin Dewiani at 10:18am December 30, 2008
nyesel emang pasti datengnya belakangan koq...hehm...

Haga Ade Wiguna at 1:48pm December 30, 2008
Ya,biasanya seperti itu.
Saya pgn yang gak biasa.
Penyesalan bisa jd awal buat ketidakgagalan berikutnya...
Thx 4 comment:)

Alvin Adisasmita at 12:55am January 2
...” Seharusnya saya yang menjadi pasangan gadis itu...”

bagian tu menampar muka saya dengan begitu keras bung...
haha...
... Read More
ya tu berarti uda sifat dasarmu menunda-nunda...
kalo belum "kena" beneran brarti belum bakalan berubah...

nah, abis tu tinggal milih, mau nunggu "kena" atau mau berubah dulu?
silikan memilih temanku yang bijak...

cheers!
Alvin

Haga Ade Wiguna at 1:06am January 2
Aku jg pnh tertampar krn menunda2 pada seorang gadis.

haha
mari mulai tidak menunda2 lagi.
*i wish

Paramita Wulandari at 11:14pm May 23
menohok sekali ga

Jumat, 28 Maret 2008

CONECTION

Saya hari ini (28/03/08) dalam keadaan yang sangat malas untuk beraktifitas dan lebih memilih untuk menonton TV. Saya memilih sebuah acara di METRO TV yang berjudul “2020”. Saya tahu acara ini, tapi ada sesuatu yang beda dari acara ini. Sepertinya konsepnya berbeda dengan apa yang saya pernah lihat. Dengan tema “CONECTION”, konsep acara ini pada hari ini adalah berusaha menghubungkan satu orang (A) dengan orang lain (B) yang bahkan mereka belum pernah saling bertemu sebelumnya dan tidak mengetahui informasi apapun tentang orang tersebut.
Awalnya A (Ibu rumah tangga) melihat B (petinju) hanya dari foto yang ditunjukkan oleh si pembawa acara. Ini mengenai bagaimana caranya mereka bisa saling bertemu padahal mereka tidak saling kenal. A kemudian menghubungi A1 yang tidak lain merupakan temannya. A1 mengenalkan A kepada A2 yang mengerti dunia tinju.. A2 mengenalkan A kepada A3 (seorang supplier barang mewah) yang mengenal A4 (pria 80an tahun yang merupakan seorang juara tinju pada masanya). Dengan mengenal A4, A akhirnya bisa bertemu dan mengenal B. Pertemuan A dan B diisi dengan saling bertukar kado, bercerita tentang kehidupan masing-masing dimana mereka adalah sama sama anak yatim. B menyambut A dengan sangat ramah.
Tantangan selanjutnya adalah, B ditantang balik. Tantangannya adalah, B harus dapat menemui C (seorang penari Broadway yang terkenal). Sama seperti diatas, B tidak pernah mengenal dan bertemu dengan C dan hanya mengetahuinya dari foto yang diperlihatkan oleh pembawa acara. B kemudian menghubungi B1 (seorang pemilik label parfum terkenal) yang merupakan kakak asuhnya sewaktu kecil. B1 mengenalkan B kepada B2 (seorang pemilik perusahaan majalah). B2 mengenalkan B dengan B3 (seorang pramusaji wanita). B3 mengenalkan B kepada B4 yang merupakan teman dekat C. Akhirnya, dengan mengenal B4, B dapat bertemu dan mengenal C. Pertemuan ini diisi dengan pemberian DVD dari B kepada C. Selain itu, C juga mengajari B sedikit gerakan tari Broadway. Keramahan yang diberikan C kepada B sama baiknya dengan keramahan yang diberikan B kepada A.
Apa yang bisa kita ambil dari cerita diatas adalah, bahwa ada kalanya istilah ”dunia itu sempit” benar. Pernahkah kita membayangkan bahwa seseorang diluar sana yang mungkin adalah orang terkenal dapat pula menjadi teman kita karena kita memiliki koneksi. Bayangkan bagaimana A yang hanya ibu rumah tangga dapat menjadi teman bagi B yang merupakan petinju. Bagaimana B yang seorang petinju dapat menjadi teman bagi C yang merupakan penari Broadway yang terkenal. Bagaimana A bisa mengenal orang-orang terkenal dalam tahapan mencari B. Begitu juga dengan B pada tahapan mencari C.
Selain itu, first impression sangatlah penting bagi seseorang yang baru kita kenal. Contohnya sewaktu B meminta bantuan B3 (pramusaji wanita) yang pada saat itu sedang dalam shift kerja. B berkata kepada B3, ”Bisakah anda mengenalkan saya kepada seseorang yang mengenal C? Ini foto C, dia sangat cantik seperti anda.”. Cara yang diambil B sangatlah luar biasa. Dia memuji B3 secara tidak langsung untuk mengambil hatinya dan alhasil B3 dengan senang hati meninggalkan shift kerjanya untuk membantu B menemui kenalannya.
Itu merupakan first impression yang bisa kita lakukan jika posisi kita sebagai B. Berusahalah menarik hati seseorang dengan cara-cara yang membuat seseorang senang. Dengan cara itu, kehadiran kita yang mungkin pada awalnya merupakan gangguan bagi dia dapat berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Kemudian bagaimana jika posisi kita sebagai C? Kita juga jangan sombong apabila posisi kita sebagai orang yang dibutuhkan ataupun dicari. Kita harus dapat mengahargai orang yang berjuang dan berusaha menemui kita. Contohnya sewaktu C menerima 2 DVD film dari B. Dengan memasang muka bahagia C berkata, ” Luar biasa, ini adalah film yang sangat bagus dan merupakan film favoritku.”. Kalau kita pikirkan, tidaklah mungkin B yang sama sekali tidak mengenal C dan tidak tau apa-apa tentang C bisa memberikan DVD yang sangat disukai oleh C. Ini pasti cara C membuat B merasa dihargai kerja kerasnya. Ada kalanya kita ”mendramatisir” keadaan untuk membuat orang ikut bahagia dan merasa dihargai. Dengan menunjukkan rasa senang akan sesuatu yang diberikan oleh orang lain (dalam taraf wajar tentunya), kita telah menciptakan first impression yang baik kepada orang lain baik orang yang baru kita kenal maupun our old pal. Dengan demikian, pembentukan ”CONECTION” ke tahap selanjutnya akan menjadi sangat mudah.
Saya mulai berfikir, besar kemungkinan saya bisa mengenal seorang CEO yang bisa memberikan saya posisi di perusahaannya kelak. Mungkin dengan cara mengenal anda dan mulai membentuk ”CONECTION” dan memberikan first impression yang baik...

Jumat, 16 Februari 2007

Sosok Yang Sedang Saya Idolakan : Alex Tew



Mungkin sebagian besar orang sudah tidak asing lagi dengan nama ini meskipun nama ini bukanlah apa-apa bagi kebanyakan orang. Tapi nama yang satu ini bisa dijadikan salah satu nama yang ada di list orang-orang hebat yang sedang kita gandrungi. Saya sudah menggandrunginya...
Siapa sebenarnya Alex Tew? Saya juga sebenarnya tidak mengenal dia dikarenakan beda negara, tapi saya tahu dia dari surat kabar yang memberitakan kesuksesan dia. Sungguh luar biasa...
Memang rezeki orang tidak kemana kalau kita sudah merencanakan dan mengusahakan, pasti semua akan jadi lebih baik tentunya dengan doa juga. Bayangkan saja kalau tiba-tiba kita kehujanan uang. Luar biasa bukan...
Jadi, sebenarnya Alex Tew adalah seorang mahasiswa yang sedang kebingungan untuk membiayai kuliahnya. Istilah kasarnya seorang mahasiswa yang tidak ber-duit. Jadi dia ingin kalau kuliahnya tidak terbebani dengan masalah keuangan yang membelit. Dengan sedikit imajinasi, dia membayangkan suatu pemecahan terhadap masalah pelik ini. Remaja 22 tahun ini kemudian memikirkan untuk mebuat suatu domain website iklan dengan konsep unik yaitu mengubah halaman website ke ukuran 1.000.000 pixel yang masing-masing pixel bisa dibuatkan link ke website yang diinginkan oleh si pengiklan. Setiap pixel yang dihargai satu dollar dan minimal pembelian adalah 100 dollar atau setiap orang akan memiliki minimal 100 pixel untuk beriklan. Dia memulai bisnis ini hanya dengan bermodalkan US $90 atau tak lebih dari Rp.900.000. Bayangkan keuntungan yang dihasilkannya dari bisnis ini. Kalau dia berhasil menjual semua pixel yang ada di website tersebut, maka dia akan mengantongi US $1.000.000 atau senilai kurang lebih Rp.10 milyar!
Sekitar satu-dua bulan lalu, dia berhasil menjual semua pixel yang terdapat di website-nya dan hebatnya, banyak yang bersaing untuk mendapatkan pixel di website tersebut. Dan akhirnya beberapa pixel harus dilelang di rumah lelang untuk menentukan siapa yang akan mendapatkannya. Dan luar biasa, harga pixel tersebut melonjak sehingga pendapatan Alex Tew melebihi US$1.000.000 atau Rp.10 milyar lebih. Kalu penasaran, buka saja situs www.onemilliondollarhomepage.com
Malahan sekarang dia sudah mempunyai satu website lagi dengan konsep yang sama (1.000.000 pixel) namun dengan harga US $2 per pixel atau akan mendapat penjualan sebesar US $2.000.000 kira kira Rp.20 milyar. Tetapi kali ini dia memutuskan untuk membiarkan US$ 1.000.000 dari penjualan sebagai hadiah undian untuk satu pemenang dari orang-orang yang memasang iklan di website itu. Singkatnya, salah satu pengiklan di website itu akan mendapatkan US $1.000.000. Lihat saja di situs www.pixelotto.com
Kita lihat keadaan orang Indonesia, kalau anda sudah membuka kedua situs diatas, silahkan buka lagi situs www.halamanjutaanrupiah.com
Situs terakhir yang ada diatas adalah situs tiruan dari kesuksesan Alex Tew dan tentunya asli Indonesia...Apakah kita bangga sebagai negara dengan trademark ”plagiat”?.