Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juni 2009

DISSAPOINTED IS NOT INCLUDED


Beberapa saat yang lalu saya mendatangi sebuah supermarket untuk membeli lampu. Awalnya saya berniat untuk membeli lampu bermerek “PHILIPS”, namun di dalam supermarket tersebut saya melihat sebuah lampu yang merk nya belum pernah saya ketahui sebelumnya. Lampu tersebut ber-merk “BESS”. Meskipun dengan harga yang relatif mahal dibandingkan dengan lampu sejenis yaitu IDR 31.800, saya memutuskan untuk membeli lampu tersebut. Terdapat beberapa alasan yang mendasari saya untuk membeli lampu tersebut antara lain :
1. Bergaransi satu tahun
2. Hemat energi sampai dengan 80%
3. Umur lampu 6000 jam
4. SNI dan sesuai standard IEC 968
Diantara beberapa alasan tersebut, alasan pertama merupakan alasan yang paling mendukung saya untuk membeli lampu tersebut dimana lampu akan diganti dengan yang baru jika pada masa pemakaian dibawah satu tahun terdapat kerusakan pada lampu. Ternyata sebelum genap satu tahun, lampu tersebut mati total. Sesuai dengan garansi, maka saya memutuskan untuk mengganti dengan lampu yang baru. Benar, pihak supermarket memberikan penggantian dengan lampu yang baru. Namun mereka mengatakan bahwa penggantian lampu hanya berlaku sebanyak satu kali. Sayangnya, setelah dua bulan pemakaian, lampu tersebut kembali bermasalah. Saya pun berniat kembali mengganti lampu dengan dasar bahwa pada penggantian yang pertama, pihak supermarket tidak melakukan pencatatan penggantian lampu. Sedikit berbohong memang, saya mengatakan pada petugas supermarket tersebut bahwa kali ini adalah klaim saya yang pertama. Alhasil, lampu pun diganti dengan yang baru namun kali ini disertai dengan bukti penggantian lampu dimana jika lampu kembali bermasalah maka pihak supemarket tidak akan bertanggung jawab lagi. Bisa disimpulkan bahwa dalam waktu kurang dari satu tahun, saya sudah menggunakan tiga buah lampu. Meskipun dengan satu kali membayar saja, saya tetap saja merasa rugi. Mungkin dua bulan lagi lampu tersebut bermasalah lagi dan saya sudah tidak bisa lagi mengklaim ke pihak supermarket. Mungkin jika dari awal saya membeli lampu merk PHILIPS, kekecewaan saya tidak akan terjadi. Padahal dengan harga yang lebih mahal, apa yang saya dapatkan hanya kekecewaan...dan tidak digaransi...

Rabu, 10 Juni 2009

OBAT YANG TIDAK MENGOBATI


Saya tertular penyakit “mata merah” tanpa disengaja sewaktu saya dan teman-teman saya mengadakan sebuah acara yang berlangsung selama tiga hari. Interaksi dengan salah seorang teman yang dari awal terkena penyakit ini lah yang menyebabkan saya menjadi “ikut-ikutan” tertular. Rasa sakit dan penglihatan seperti bertelanjang mata di dalam air membuat saya tidak nyaman. Saya pun memutuskan untuk membeli obat tetes mata. Rekomendasi dari seorang apoteker, saya pun membeli obat tetes mata ber-merk CENDO XYTROL. Awalnya mata saya yang tertular adalah mata sebelah kanan. Setelah saya meneteskan obat tersebut ke mata saya, beberapa saat kemudian mata saya tidak berhenti mengeluarkan air mata dan terasa sangat perih. Tadinya saya mengira bahwa memang sakit mata saya yang bertambah parah. Keesokan harinya, mata kiri saya mulai menunjukkan tanda yang sama seperti saat awal mata kanan saya terkena penyakit ini. Saya pun meneteskan CENDO XYTROL pada mata kiri saya dan beberapa menit kemudian, mata saya menjadi sangat merah dan sangat sakit. Bahkan keadaannya menjadi sama seperti mata kanan saya. Saya pun menjadi sangat khawatir. Kekhawatiran saya berujung di depan laptop untuk browsing mengenai obat tetes mata CENDO XYTROL tersebut. Saya sangat terkejut setelah membaca banyak postingan di Internet yang menuliskan bahwa obat tetes mata ini sangat keras dan bahkan dikatakan bahwa obat tetes mata ini mengandung Sodium Chloride yang dapat menyebabkan kebutaan. Saya pun sangat panik.
Mengapa obat yang sangat berbahaya seperti ini terjual bebas di pasaran? Saya mengetahui informasi mengenai obat ini di Internet dan dari banyak informasi, saya menyimpulkan bahwa obat tersebut berbahaya. Karena panik, saya berobat ke klinik kampus dan diberikan obat tetes mata yang saya tidak tahu merk nya karena dikemas dalam kemasan dari klinik tersebut. Berbeda dengan CENDO XYTROL yang ketika diteteskan terasa sangat perih, obat tetes mata dari klinik kampus sangat dingin dan melegakan. Benar saja, di malam harinya, kedua mata saya berangsur membaik bahkan seperti sembuh.
Dengan Harga Eceran Tertingi sebesar IDR 37.000, CENDO XYTROL harusnya memberikan efek penyembuhan yang memuaskan dibandingkan dengan obat tetes mata gratis yang saya dapatkan dari klinik kampus saya. Tidak lucu jika harga mati yang konsumen terima adalah kebutaan...

Sabtu, 23 Mei 2009

Mahasiswa & Karyawan Mr. Burger


Kuliah saya hari ini sudah selesai sejak jam 13.30 WIB dan mungkin ini saatnya pulang bagi saya. Bukan mungkin, tapi harus karena langit sudah sangat gelap sewaktu saya keluar dari ruang perpustakaan FEB UGM. Saya sedikit jengkel jika dalam perjalanan pulang dari kampus terdapat bonus air hujan dari langit. Oleh sebab itu saya memutuskan untuk segera pulang. Lagipula jam tangan saya menunjukkan pukul 15.26 WIB dan perpustakaan akan tutup tepat pukul 16.00 WIB. Apalah guna sisa waktu 34 menit bagi saya yang tidak sepenuhnya berkonsentrasi pada bahan bacaan saya. Di perjalanan pulang saya dari kampus, rintik-rintik air sudah terasa menyentuh tangan saya. Beberapa juga hinggap di kaca penutup helm saya. Saya juga sudah bisa menebak kalau 100 meter lagi saya harus berteduh karena gerimis mungkin akan berubah menjadi hujan deras. Benar saja, saya sudah berdiri di depan minimarket “INDOMARET” di Jalan Kaliurang Km.5.5 Yogyakarta saat hujan sudah sangat deras.

Lima belas menit pertama, kaki saya masih sanggup menopang berat badan ditambah tas yang terisi penuh ditambah helm besar di kepala saya. Tetapi hujan semakin deras dan sepertinya “berdiri” bukan opsi terpilih dari pertanyaan “Apa yang saya lakukan disaat saya menunggu hujan berhenti?”.Tepat di sebelah saya terdapat sebuah kursi plastik merah milik sebuah (mungkin namanya gerai atau gerobak atau apalah) fastfood berlogo Mr.Burger yang beroperasi di depan mimimarket tersebut. Saya meminta izin kepada karyawan pria Mr.Burger untuk menggunakan kursi itu. Izin diterima.
“Kuliah, Mas?”, karyawan itu bertanya. “Iya.”, jawab saya. “Sudah ada planning?”, tanya karyawan itu lagi. Saya agak kaget dengan kata “planning” yang diucapkan karyawan tersebut. Tidak bermaksud menerendahkan, namun bagi saya kata itu terdengar intelek untuk diucapkan oleh seorang karyawan sebuah gerai kecil makanan cepat saji. Mungkin saya saja yang terlalu berlebihan. Menjawab pertanyaan mengenai planning tadi, saya mengatakan kalau saya sudah punya beberapa gambaran dan semoga saja semuanya terwujud. Sebelumnya saya tidak berfikir bahwa ini menjadi suatu conversation sampai saya mendengar karyawan tersebut berkata, “Saya tidak pernah membayangkan saya akan berakhir sebagai karyawan seperti ini.”. Mendengar itu, sontak rasa penasaran saya timbul. Kemudian conversation pun berlanjut begitu saja.

Terakhir saya mengetahui nama karyawan itu adalah Rudi (atau Rudy). Setelah saya bertanya mengenai maksud dari Saudara Rudi itu mengatakan mengenai ucapannya tadi, dia pun menjelaskan panjang lebar. Dia mengatakan bahwa bulan ini adalah bulan kedua dia bekerja sebagai karyawan Mr.Burger. Sebelumnya dia bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan produsen suku cadang sepeda motor Yamaha bernama PT. KYOWA di Bekasi. Imbas krisis perekonomian global membawa dia dan sekitar 2000 karyawan di perusahaan itu menjadi pengangguran dadakan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dialaminya membawanya menjadi seorang karyawan merangkap juru masak di gerai kecil makanan cepat saji tersebut. Saya dapat membayangkan bagaimana kehidupan seorang karyawan perusahaan besar berubah 180 derajat saat nasib menempatkannya pada posisi yang “tidak pernah dibayangkan sebelumnya”. Saudara Rudi yang merupakan tamatan STM ini harus bisa menyambung hidup dengan bekerja jauh dari bidang yang digeluti sebelumnya. Kisahnya, sebelum menjadi karyawan PT. KYOWA, dia mulai bekerja sebagai mekanik. Rezeki membawanya menjadi karyawan dengan status “karyawan kontrak” di perusahaan suku cadang sepeda motor di daerah Bekasi. Empat tahun lamanya dia berkontribusi di perusahaan tersebut sebelum perusahaan terpaksa melepasnya untuk “pengencangan ikat pinggang” perusahaan sebagai bentuk minimizing cost dalam menghadapi krisis keuangan global. Empat tahun bekerja di satu perusahaan cukup menggambarkan loyalitasnya sebagai karyawan mengingat bahwa dia berstatus karyawan kontrak. Kekalahan seleksi alam membawanya kembali ke Yogyakarta dan beruntung dia masih bisa mendapatkan pekerjaan di Mr.Burger. Gaji yang jauh lebih rendah dari gaji sebelumnya cukup membawa dampak besar. “Saya dulu kalau mau beli sesuatu gak pernah lihat label harganya, Mas.”, kisahnya “Sekarang ya suka mikir-mikir dulu sebelum beli.”.

Dia memberitahu bahwa di PT. KYOWA dia memperoleh gaji sebesar Rp.2.000.000,- per bulan belum termasuk lembur. “Sekarang gaji saya Rp.540.000,- per bulannya.”, katanya.
Mungkin anda juga bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang “Saudara Rudi”. Bayangan saya, tidak mudah menerima keadaan dimana pada satu waktu kita berada pada keadaan yang empuk namun di waktu lain keadaan yang terkeras merupakan keadaan terempuk yang harus kita hadapi. Jika kita melihat dari sisi prestige, sungguh jauh lebih prestige bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan Jepang yang merupakan produsen suku cadang sepeda motor Yamaha daripada harus menjadi seorang juru masak sebuah gerai kecil makanan cepat saji. Bayangan saya itu sepertinya tidak jauh berbeda dengan air muka yang saya lihat dari Saudara Rudi.
Dia juga mengatakan bahwa setelah dua tahun bekerja di PT. KYOWA, dia dan temannya memutuskan nyambi membuka CV( Comanditaire Venootschap ) yang bergerak dibidang finishing suku cadang produksi PT. KYOWA. Singkatnya, apa yang dilakukan oleh Saudara Rudi pada saat itu sangat mempunyai prospek. Mungkin inilah apa yang “pernah” dibayangkan olehnya. Pemutusan Hubungan Kerja bukan satu satu nya “tangga” yang menimpanya. CV yang dibangunnya gulung tikar karena putus kerjasama dengan PT.KYOWA.
Pembicaraan kami terhenti sejenak saat seorang wanita memesan sebuah beef burger di gerai itu. Saudara Rudi dengan segera mulai mengolah pesanan si pembeli. Saat itu saya masih sempat terfikir bagaimana cara Saudara Rudi menerima keadaan seperti ini. Bagi saya yang notabene adalah seorang mahasiswa yang mulai dari outfit sampai isi perut berasal dari uang orang tua saja terkadang pusing memikirkan berjuta-juta mimpi di hari esok. Bagaimana pula dengan Saudara Rudi yang telah menggenggam mimpi nya namun dirampas secara paksa oleh keadaan. Mungkin bagi sebagian orang gaji sebesar Rp.2.000.000,- per bulan adalah bentuk riil dari gaya hidup selama beberapa hari. Namun bagi Saudara Rudi, uang sebesar ini adalah sigma gaji selama kurang lebih empat bulan. Masih beruntung Mr.Burger memberikan gaji tidak berdasar omzet per gerai melainkan dengan besaran tetap per bulannya. Dengan jam kerja kurang lebih delapan jam per hari, tentunya uang sebesar ini masih terasa kecil. Pesanan pun selesai dan si pembeli (yang merupakan satu-satunya pembeli selama saya disana) menyerahkan selembar uang lima ribu dan dua lembar uang seribuan.

Saudara Rudi juga bercerita bahwa dia mempunyai seorang sepupu yang mempunyai jabatan penting di sebuah perusahaan lain yang juga bergerak dalam produksi suku cadang sepeda motor. Namun ini sama sekali tidak mendatangkan pengaruh kepadanya. Bahkan jika politik Nepotisme menjadi Survive Exit terakhir, keadaan perekonomian dunia yang bergejolak belum mengizinkannya untuk menjadi salah satu bagian di perusahaan tersebut. Mungkin kita berfikir bahwa Channeling dan Backing akan menempatkan kita pada Comfort Zone dan Certainty yang siap ditagih pada waktu tertentu. Saya jadi teringat dengan satu ungkapan yang mengatakan bahwa satu satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri.
Tanpa maksud menggurui, saya berkata pada Saudara Rudi bahwa semua yang kita terima pada dasarnya adalah rezeki. Bekerja di Mr.Burger mungkin bukan rezeki bagi dia. Namun bagi pelamar lain yang dia kalahkan untuk mendapatkan pekerjaan ini, pasti berpendapat bahwa dia adalah orang yang “berezeki”. Bukan berarti saya juga mudah dalam menerima suatu keadaan terpuruk. Saya juga sebenarnya baru tersadar bahwa untuk bersyukur, kita harus bisa flexible menempatkan diri kita pada posisi yang appropriate dengan kadar rezeki yang kita terima. Bukan pula berarti kita melepaskan effort untuk rezeki terbesar melainkan meyakini bahwa skenario terburuk tidak selamanya buruk.

Pembicaraan pun bercabang ke arah pemilihan presiden, pemanfaatan SDM yang tidak maksimal di Indonesia, sampai mengenai franchising. Tidak terasa saya berbincang-bincang selama kurang lebih dua jam. Hujan pun sudah mulai berhenti. Saya menjabat tangan Saudara Rudi dan mengatakan semoga dia sukses dengan segala usaha yang dijalaninya. Semoga dia juga mengatakan hal yang sama di dalam hatinya. Saya pun bergegas mengendarai motor saya. Ternyata hujan dalam perjalanan pulang dari kuliah tidak selamanya menjengkelkan. Hujan kali ini cukup memberikan saya pelajaran berharga. Mungkin lain kali saya pulang kuliah di saat hujan saja. Bercanda.

Comment(s) via Facebook.com



Radhyaksa Ardaya at 8:51pm May 23
Ini beneran?
Aku masih speechless nih. Indomaret mana sih ga?

Bimantara Haryo at 9:00pm May 23
bagus ga note lo...
cukup membuat merenungkan...
laik dis lah mamen!!!

Haga Ade Wiguna at 9:03pm May 23
@caca
kan ada alamatnya di dalam note bung caca...

@Bima
beugh...lo bayangin lo ada di posisi dia...gw aja shock juga dengernya...kisah nyata.

Bimantara Haryo at 9:07pm May 23
AYO BELI BURGER HANYA DI AKANG RUDI!!! hahaha
di jakarta kaga ada si coyyyy

Harisnu Kurniawan at 9:57pm May 23
nice post,..

Musytaqul Hasan at 12:09am May 24
Oi tetangga kamar,
Post nya bagus, tulisannya bagus,

tapi kenapa bahsanya kyk lo lagi kerasukan Soekarno?

Andrea Andjaringtyas Adhi at 5:12pm May 24
HIDUP MR.BURGER. Man. Emang mr.burger itu nagih abis. Cuma 6500rupiah bisa dapet daging yang eeuuhm dengan roti yang eeeuhm pula. Jadi kalo males makan berat, ngemil itu doang aja jg kenyang. Dan kebetulan mr.burger itu langganan gw ga! HAHAHA. Jgn2 slama ni mas rudi yg mendengarkan curhatku sambil menunggu chicken prosperity gw jadi.. Hehee.

Gw ada bbrp pertanyaan (bodoh):
1. Jadi elo beli burger ato ga?
2. Elo voto juga ya mas rudinya?
3. Ko elo tumben bs inspritif seh ga? Hehehe.

Syiva Nur Malasari at 9:25pm May 24
ndre ini MR.BURGER yg kita beli pas mlm itu bkn tmpatnya?kan lagi IN bgt tuh si chiken prosperity dsana??trs lu jd beli burger apa numpang neduh doang ga?

Haga Ade Wiguna at 10:53pm May 24
@Uul
lo kaga tau nama gw haga soekarno putra? Haha

@handra
ah lo gak manggil... Parah!

Haga Ade Wiguna at 10:56pm May 24
@andrea
1. Gw ga beli krn terlanjur beli sari roti. Wakaka
2. Si mas rudiny gw foto diem2 pake digicam. Gw pura2 nunjukin foto pak bud. Trus diem2 gw matiin flash, pura pura megang kamera, sok2 nanya lg dan JEPRETTT...Haha.
3. Iya tumben. Hehe

Haga Ade Wiguna at 10:58pm May 24
@cipoy
haha agenda utamanya kan neduh...

Raras Cynanthia at 12:42pm May 25
wah gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... jadi sedih bacanya. serius. :.( tapi inspirative... !!! memotivasi agar terus maju.

Khafidh Moch Zainul at 10:05pm May 25
Mantabs...

Dian Paramita at 9:06am May 28
KOK GA BELI BURGERNYA!!!!!
Dari pertama baca ampe terakhir aku berharap ada tulisan, "untuk menambah semangat Mas Rudy, aku membeli 5 burger untuk temanku Mimit." 1 kali dayuh, 2 ampe 3 pulau terlampaui kan. Mas Rudy senang, temanmu juga senang. Cuma numpang neduh dan minta didongengin aja! Mas nya pasti kecewa. Kamu bodoh. (Modyar ga dipuji malah dibodohi)

Paragraf terakhir itu favoriteku btw. Hehe.

Haga Ade Wiguna at 9:09am May 28
@mimit
soalnya tadinya aku udah makan sari roti yang gede...mas nya juga antusias ceritanya..lupalah akan kelezatan mr.burger

btw intinya bukan diparagraf yang kamu favoritin itu loh mit.

Dian Paramita at 9:14am May 28
Apapun ceritanya, tapi pendapat terakhirmu itu yang paling bagus. Yang ini lho maksudku:

...Saya pun bergegas mengendarai motor saya. Ternyata hujan dalam perjalanan pulang dari kuliah tidak selamanya menjengkelkan. Hujan kali ini cukup memberikan saya pelajaran berharga. Mungkin lain kali saya pulang kuliah di saat hujan saja. Bercanda.

DONG NGGAK KAMU???

Haga Ade Wiguna at 9:15am May 28
Oh
*angguk2, geleng2, nunduk2

Dian Paramita at 9:17am May 28
Bagus.

Selasa, 24 Maret 2009

PS : You owe us story about your new home...HEAVEN



So let’s get this note started…it all about my grandfather this time. It’s not information because you don’t even need it. But for me, it is a story. Today (03/24/09) was a mourning day or maybe the opening of mourning week for my family. My grandpa passed away that day… I can tell you exactly what I felt. It’s just like my head was gyrating but tears won’t shed. Underline it.
Okay, touch those memories. This grandpa of mine is a very educated person. No wonder he wants us to be well educated. I can still remember how often he came to our home when I was a child. You don’t even have any idea that your future has been planned. For me, it’s a great plan. Back to the past, when he came to our home, he always found him a comfort seat next to me and my bro’s bed. There he goes, a very great story telling with passion. No, the story had never been about what so called “lullaby for your better sleep time”, believe it or not, he told us about politic and the next time was about wisdom. Yeah, I call them wisdom because wise stories are never be disappointed for teens like me and my siblings and it works today. Trust me.
Surely, the first time we know story about Soeharto’s regime,it wasn’t from school. We got it from our grandpa. He never brings us through his mind about his opinion about something. He just gave us the view and whatever our opinions, they’re excused as long as we have reason(s) to be right. So wise huh…
I remember something. That day, there was sadness on his face. I didn’t see it, I just sure about it. Because I made that face. As this note told you, my grandpa is very educated; he wants it for his lineage. So when I was watching Karate Kids –which is my favorite movie that time, he asked me to change the channel and found him a news channel. I was about nine or ten and news wasn’t my prior. I was so angry and told him that he can’t force me to watch that news in the place of my favorite movie. Even that television isn’t yours. God, I was so rude and unforgivable… For sure, he wasn’t forcing me to watch the news. He just tried to make me fond of it. I knew that he was disappointed by me but he never show it until my dad told me that I did something I shouldn’t. Let me be titled “Impolite and Guilty” in one package.
Life is so unpredictable. About eight months ago. He’s still there for my bro’s graduation. He wasn’t as healthy as ten years ago. He didn’t use the wheel chair because there’s nothing wrong with his foot. It just he didn’t have much strength for a long walk that one of us walks beside him as emergency for his sudden need and it didn’t cause any fuse. We never imagine, eight months latter, he’ll leave us. That day, I told him that it’s my pleasure if he can attend my graduation when the time is come. The invitation has answered now…he won’t be there though he want to…
Last night (03/23/2009) my mom phoned me. She said that my grandpa’s health is drop. This wasn’t the first time. But this time is sign. My mom suggested me to talk with him. I can hear his voice. I told him that I pray a heal, and he asked me about my study here. “To Mom, please.”, I said and he gave it to mom. I told mom that I shouldn’t have any conversation with grandpa because he sounds exhausted. This morning (03/24/2009) my lil bro texted me that grandpa is dyeing and unconscious. Let’s hope for the best he said. I was cared free because my grandpa passed through this one time… but I hope for the best. I turned my cell phone to silent mode because I’ll be in class. After class, there’s message. It’s my lil bro. My grandpa didn’t make it. I just don’t know what to say…but it’s fixed. He leaves us not for a while…but forever…
My grandpa gives us a message says “My grandchildren are good fellow, I’m sure that no matter where I am even if I die, I’ll always in their head forever…” Yes grandpa…you’ll always in our head forever. We pray for a best space there beside Jesus and hope you thousand times happiness… we didn’t grow slipping through your finger. We grow by your lessons and your wisdom. Tomorrow will never be the same cause there’s no you anymore… with this situation, we’ll learn something. Your death wasn’t mean that you leave us, it’s for an everlasting memories we won’t forget. We love you. Always have. Always will.

PS : You owe us story about your new home...HEAVEN

Comment(s) via Facebook.com



Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:38pm March 24
my tears fell for your grandpa too haga.
smile :)
i am sure some years ago he thought you to be strong. to thank God for what's given to you. good or bad. it depends on how we see it.
i am always ready to be a doll or clown or whatsoever.. you can make funny of me this time ga. and for ESPECIALLY for your grandpa, i'm ready not saying "diem deh elo ga" for one day. hahaha.
love you hagansos!

Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:40pm March 24
hahhaa bego gw. harusnya taught. hahahahahaa bego abis.

Raras Cynanthia at 6:44am March 25
a very touchable story about a very loveable grandpa. :)

Haga Ade Wiguna at 10:15am March 25
it's all wrapped...

Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:56am March 25
Haga.
Gw udah di rumah sakit ni. Eyang di icu.. Ugh. Hard to believe.

Selasa, 30 Desember 2008

INTERMEZO

Saya masih ingat bagaimana masa-masa kecil saya dan saudara-saudara saya. Semua berjalan sangat indah walaupun kami tidak tahu bagaimana menerbangkan layangan, memainkan kelereng atau semacamnya karena kami tidak merasa tertarik dengan itu. Saya beruntung dibesarkan ditengah keluarga yang hangat. Saudara-saudara yang begitu bersahabat. Kedua orang tua saya adalah penghuni kantor “from ten to five”. Meskipun demikian, saya masih punya “from five to ten” dari sepasang manusia super ini. Jadi, maaf kalau saya tidak pernah merasakan apa yang mereka sebut dengan “korban orangtua workoholic”. Tak berlebihan kalau saya menggunakan kata “beruntung” untuk diri saya sendiri. Begitu cepat waktu berlalu. Saya masih ingat bagaimana reaksi keluarga saya saat pertama kali suara saya berubah menjadi besar sedikit bass. Saya pun sebenarnya bingung saat itu. Pernah saya menemukan kembali celana pendek kecil berwarna biru. Tersenyum kecil, bergumam…ya, saya pernah memakainya dulu sekali sewaktu playgroup jauh sebelum bulu-bulu ini memenuhi paha sampai mata kaki. Banyak hal telah berubah. Rambut ini pernah klimis sewaktu Sekolah Dasar. Sekarang untuk menurunkan rambut yang melawan gravitasi ini saja sulit rasanya. Dulu ketika saya kecil, saya ingin cepat besar. Saya pernah sangat senang saat usia saya melebihi sepuluh, tak terasa itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Meskipun saya tidak ingin kembali menjadi kecil, saya merindukan masa-masa itu. Lihat sekarang, untuk berkumpul bersama sangat susah mencari waktu. Ruang keluarga sudah jarang terisi penuh.
Semakin hari semakin banyak yang saya pelajari. Hidup itu waktu. Rambut yang memenuhi muka akan terus tumbuh meski setiap pagi dicukur. Saya akan meninggalkan dan juga ditinggalkan. Ya Tuhan, hidup itu seperti steak. Sayang ditelan sebelum puas mengunyah meskipun akan kenyang. Saya belum ingin kenyang dengan hidup. Saya masih ingin merasakan kaldu setiap kali mengunyah perjalanan hidup saya. Tidak masalah kalau lidah saya tergigit karena saya akan berhenti sejenak untuk kembali lagi. Ya Tuhan, saya tidak ingin hidup selalu berharap, saya ingin menjadi harapan. Saya takut ”mengecewakan” melebihi takut saya dengan ”dikecewakan”. Saya ingin tersenyum dengan masa depan. Sudah siapkah saya dengan masa depan? Apa dan dimana saya tidak lama lagi? Saya tahu bahwa lelaki dipandang dari pekerjaannya, bukan dari film yang ditontonnya. Jika tiba saatnya, saya ingin memiliki pekerjaan yang terencana kalau memang benar pekerjaan adalah harga diri bagi lelaki. Bahkan jika saya berpendapat bahwa pekerjaan dan harga diri menempati koridor yang berbeda. Saya terkadang bersyukur menjadi pribadi yang memikirkan ini. Saya pun tidak memungkiri kalau saya merindukan masa-masa saya tidak memikirkan ini semua. Masa kecil saya. Tidak berarti saya menolak proses pendewasaan. Ya Tuhan, banyak yang ingin saya utarakan antara kita berdua...

Comment(s) via Facebook.com



Radhyaksa Ardaya at 6:14am December 30, 2008
hiks, haga sangat mengharukan.
besok kutraktir steak de.

Raras Cynanthia at 7:25am December 30, 2008
haga... aku padamu....

Phe Pramanto Hanggoro at 8:18am December 30, 2008
Ga....tidak ikut UAS krn sering bolos tu bs merusak masa depan dan pekerjaan lho

Haga Ade Wiguna at 9:17am December 30, 2008
@caca
emang itu tujuannya,supaya dtrktr steak.hehe

@ayas
aku juga padamu.hoho... Read More

@phe
ikut UAS wekkk.haha

Alvin Adisasmita at 12:52am January 2
Justru bukan menolak ga, yang kamu tulis ki gejala penuaan...

hmmm,,mengenai rambut,, kok semua orang gitu ya?? dulu rambutku lurus banget lo ga... saiki, bahkan untuk bertahan sesuai sisiran awal selama 1 menit sudah jadi keajaiban...

oh, inikah yang dinamakan balada rambut dan steak?

Haga Ade Wiguna at 1:10am January 2
Hahaha
penuaan dini dong mas.

iya,rambutku ga bs turun lg...wkwk
... Read More
rambut dan steak? Jangan pnh mencoba merubah judul note ini !haha

Alvin Adisasmita at 1:13am January 2
haga sudah garing lagi...
lama tidak bertemu dengan teman-temannya di kampus...

sekali ketemu mungkin jadi ceng2an anak2 lagi...
poor haga...

Haga Ade Wiguna at 1:24am January 2
Iya nih, selera humorny drop lagi cz jarang dilatih...
Harus brainstorming lg atau siap2 jd "dia yg dicemooh krn candaan jayusnya"
hahaha
PUAS...PUAS...

Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:32pm January 4
oh haga.
mengikat tali kasutmu pun aku tak layaak.. hahhaha.

Haga Ade Wiguna at 11:36pm January 4
jangan bol...jangan...jangan pernah kata2 itu terucap lagi...
kalo berpisah adalah jalan yang terbaik, aku gak mau yang terbaik...
ingat, langkah kakimu adalah langkah kakiku juga...
*makanya lepasin borgolnya!