Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juni 2009

Michael Jackson dan Ayat-Ayat Cinta


Sebagaimana anda ketahui dari beberapa liputan di beberapa media, Michael Jackson telah meninggal dunia. Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai apapun yang berhubungan dengan penyebab kematian Michael Jackson karena saya pun tidak mengetahuinya, tapi lebih ke beberapa hal yang menurut saya cukup mengganggu. Mungkin anda juga mengetahui bahwa Michael Jackson adalah seorang Mualaf. Benar, dia dilahirkan dengan menganut agama/aliran kepercayaan bernama “Saksi Jehovah”. Namun sejak tahun 1989, dia mengikuti agama sang kakak Jermaine Jackson menjadi seorang Muslim. Jika anda menganggap saya sebagai seseorang yang tidak menyukai Mualaf, silahkan untuk berhenti membaca tulisan saya ini karena anda salah. Saya adalah orang yang sangat Open Minded dalam memandang kebebasan beragama. Sama seperti Michael Jackson, adalah hak manusiawi nya untuk memeluk agama Muslim.
Mengapa saya membahas ini? Begini, semenjak kematian Michael Jackson banyak sekali komentar yang membahas mengenai ini dari orang Indonesia. Pantas-pantas saja jika memang masih dalam taraf wajar.

Saya membaca beberapa status dari beberapa teman di Facebook yang menulis diantaranya seperti ini :
1. “Selamat jalan Michael Jackson, teman Muslim ku…”
2. “Alhamdullilah… Michael Jackson meninggal sebagai seorang Islam”
3. “R.I.P : MIKAEEL Jackson”
( Perhatikan penulisan “Mikaeel” yang Upper Case)

Bagi saya, kalimat status tersebut sangat mengganggu dan sebaiknya tidak dipublish secara universal. Status-status tersebut memiliki “taraf mengganggu” yang sama jika saya membaca tulisan seperti ini (maaf) : “Halelujah…Mosab Hassan Yousef menjadi saudara seiman saya.”
Ada sisi-sisi yang harus kita perhatikan dalam hal ini. Dalam status-status yang saya kutip dari Facebook tersebut, terdapat kesan “Saya bangga karena Michael Jackson menjadi Islam”. Sangat wajar jika terdapat kebanggaan seperti itu. Saya pun sangat bangga ada pemeluk agama lain seperti Mosab Hassan Yousef yang beralih ke agama saya. Namun, ada baiknya kebanggaan tersebut tidak ditunjukkan di kalangan luas. Seperti status-status yang SEHARUSNYA mengenal apa yang namanya “Konsumsi Kalangan Sendiri” dimana sedapat mungkin dinamika kebanggaan kita hanya berada dalam lingkup kalangan kita dalam hal ini kalangan Muslim. Pahami bahwa tidak semua orang yang membaca status tersebut adalah Muslim. Di Indonesia juga terdapat banyak pemeluk “Saksi Jehovah” yang mungkin jika membaca status tersebut timbul kekecewaan bahwa terdapat pendukung penolakan seseorang terhadap keyakinan tersebut. Bukankah beralihnya Michael Jackson menjadi Muslim merupakan sebuah bentuk penolakan dirinya terhadap “Saksi Jehovah”? Dan kepindahan agama Michael Jackson ini pasti menimbulkan kekecewaan di kalangan “Saksi Jehovah” sama seperti kekecewaan saudara-saudari Muslim yang mengetahui bahwa Mosab Hassan Yousef beralih menjadi Kristiani. Indonesia memang aneh, di saat Michael Jackson yang sama sekali tidak berkoar-koar mengenai agama barunya tersebut, beberapa dari kita justru over memberitakannya.

Saya jadi teringat dengan film super laris “Ayat-Ayat Cinta”. Selama pemutaran, saya sangat mengapresiasi film tersebut sampai pada bagian yang menceritakan bahwa tokoh Maria Girgis berpindah agama menjadi Muslim. Saya pasti sangat menerima jika pada awalnya tokoh Maria diceritakan tidak memiliki agama. Namun sangat disayangkan, tokoh Maria Girgis awalnya adalah seorang pemeluk Kristen Koptik. Wajar-wajar saja jika Habibu Rahman El Zirazy mengarang cerita sedemikian rupa karena itu hak nya. Namun sayang sekali, yang bersangkutan kurang sensitif terhadap isu yang dibawa di dalamnya. Yakinlah, pasti banyak sekali orang yang kecewa dengan bagian ini. Saya salah satu diantaranya meskipun saya bukanlah penganut Kristen Koptik. Dan lagi, novel serta film ini dikonsumsi oleh masyarakat dari keyakinan yang berbeda-beda. Ada baiknya pada awal publish-nya cerita seperti ini diberi label “Untuk Kalangan Sendiri” supaya tidak timbul pemikiran yang menganggap novel dan film tersebut provokatif.

Dari kedua contoh diatas, terlihat sekali bahwa banyak dari masyarakat kita kurang respect terhadap keberadaan agama lain. “Mayoritas” bukanlah sebuah "special privilege” melainkan sebuah pengungkit yang membuka kesadaran kita terhadap keberadaan “Minoritas”. Jangan lupa! “Mayoritas” di sebuah negara adalah “Minoritas” di Negara lain…

Minggu, 28 Juni 2009

SI PINCANG DAN SI BUTA


Terdapat dua lelaki yang memiliki kekurangan masing masing pada dirinya. Lelaki yang pertama adalah seorang pincang. Salah satu kakinya tidak berfungsi sehingga dia dikenal dengan sebutan si pincang. Seorang lagi mengalami kebutaan pada kedua matanya. Si buta dan si pincang tinggal bersama. Si buta mempunyai tongkat yang menuntun dia untuk dapat mengarahkan langkahnya. Tongkat tersebut memberikan kemudahan baginya dalam melakukan aktivitasnya sendiri. Sedangkan si pincang tidak mempunyai kursi roda yang dapat membantunya berjalan sehingga dalam kesehariannya ada beberapa hal yang tidak dapat dilakukannya meskipun dia sangat ingin melakukannya.
Ada sesuatu yang unik dalam diri si pincang. Dimulai setiap hari ke duapuluh setiap bulannya selama sepuluh hari, dia harus menghirup udara dari seberang desa untuk menjamin agar dia dapat bertahan hidup. Desa mereka dengan desa asal udara tersebut hanya dihubungkan oleh jembatan kecil. Tepat pada hari kesembilan belas pada bulan itu, si pincang sudah mulai merasakan paru-parunya sesak. Ini merupakan pertanda bahwa dia harus segera menuju desa seberang. Dia pun meminta bantuan kepada si buta supaya dapat menolongnya seperti yang dilakukan si buta setiap bulannya. Si pincang meminta pada si buta agar si buta mau meminjamkan tongkatnya. Nantinya tongkat ini akan digunakan si pincang sebagai penyangga membantunya menyebrangi jembatan kecil agar dia tidak jatuh kedalam jurang. Si buta pun mulai hari ke dua puluh selama sepuluh hari setiap bulannya meminjamkan tongkatnya kepada si pincang dengan anggapan bahwa dia masih bisa tetap berjalan tanpa menggunakan tongkat. Dengan menggunakan tongkat yang dipinjamkan oleh si buta, si pincang pun dapat melalui jembatan kecil tersebut dan dapat menghirup udara di seberang desa sehingga dia tetap dapat hidup.
Si pincang mulai merasa tidak enak hati karena setiap bulannya dia selalu meminjam tongkat pada si buta. Akhirnya si pincang memutuskan untuk meminjam tongkat pada orang lain di bulan-bulan tertentu. Dengan cara itu dia masih tetap dapat menyebrangi jembatan kecil ke seberang desa agar dapat bertahan hidup.
Suatu bulan pada hari kesembilan belas, si buta mengalami sakit parah dan dia harus memakan tanaman obat dari suatu desa. Ternyata desa tempat tanaman obat itu adalah desa yang selalu didatangi oleh si pincang setiap bulannya. Si buta mengetahui bahwa untuk menuju desa tersebut, dia harus melalui jembatan kecil. Sebenanya, si buta dapat melangkah dengan normal di atas jembatan. Namun, karena kebutaannya, dia memerlukan penuntun yang mengarahkan langkahnya. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk meminta bantuan si pincang untuk menuntunnya. Si pincang pun menuntunnya menuju desa itu.
Keesokan harinya adalah hari kedua puluh pada bulan itu, yaitu hari dimana si pincang harus ke desa seberang. Kebetulan pula, si buta belum sembuh total dan masih harus tetap mengkonsumsi tanaman obat dari desa yang sama dengan desa yang didatangi si pincang. Si buta pun merencanakan untuk pergi bersama dengan si pincang ke desa tersebut dengan maksud agar si pincang dapat menuntunnya sampai pada desa tersebut. Namun sangat disayangkan, si pincang selalu pergi terlebih dahulu ke desa tersebut tanpa diketahui oleh si buta padahal si pincang mengetahui bahwa si buta membutuhkan bantuannya. Akhirnya setelah beberapa kali menghadapi hal yang sama, si buta meminta penjelasan pada si pincang mengapa si pincang tidak menolongnya padahal dia sangat membutuhkan penuntun. Si pincang pun menjawab bahwa selama ini si buta hanya meminjamkan tongkat maka si pincang hanya mau membalasnya dengan tongkat yang dipinjamnya dari orang lain. Si buta merasa sangat kecewa pada si pincang sebab si buta selalu meminjamkan tongkat pada si pincang, namun disaat dia membutuhkan tuntunan dari si pincang, si pincang hanya mau memberikan tongkat pinjaman pada si buta yang nyata-nyata mempunyai tongkat sendiri. Sejak saat itu, si buta menjadi sangat mempertimbangkan apakah akan meminjamkan tongkatnya pada si pincang jika dikemudian hari si pincang tidak mendapatkan pinjaman tongkat dari orang lain...


Tragis memang, ada kalanya orang lain mengandalkan bantuan dari kita dalam melalui masa-masa sulitnya. Tapi, di saat kita membutuhkan bantuan dari orang tersebut untuk membantu kita di masa-masa sulit kita, dia acuh tak acuh dan tak peduli akan kondisi kita meskipun dia tahu bahwa kita sedang membutuhkan bantuan darinya. Malah, untuk beberapa orang tertentu, mereka hanya mau membalas orang lain dengan bentuk yang sama dengan yang diterimanya

Selasa, 23 Juni 2009

You Are Inspiring Because You Are (Not) So Good

Pada suatu hari, Robert Edmund menghampiri sebuah toko buku, kemudian dia melihat sebuah buku mengenai tata cara kehidupan yang berisi beberapa contoh sifat-sifat baik manusia sehari-hari beserta langkah bagaimana agar manusia dapat berbuat sesuai dengan norma. Betapa kagetnya Edmund saat mengetahui bahwa penulis buku tersebut adalah teman satu asramanya dulu saat mengikuti wajib militer, Glenn Bazwell yang telah menjadi penulis buku terkenal. Kekagetannya semakin bertambah saat dia menyadari halaman awal buku tersebut menyebut bahwa buku tersebut didedikasikan kepadanya.


Edmund membeli buku tersebut dan sangat bangga akan penulisan namanya di salah satu lembar buku tersebut. Di setiap kesempatan, buku itu selalu dibawanya. Saat di kereta, dia menunjukkan kepada orang-orang di sebelahnya lembar yang bertuliskan namanya sambil mengatakan bahwa dia lah yang menjadi inspirasi Glenn Bazwell dalam menulis buku tersebut. Pernah saat jamuan makan besar, Edmund berdiri di atas mimbar dan mengambil pengeras suara dan mengatakan bahwa dia sangat bangga pada dirinya bahwa dia telah menjadi inspirasi dalam menghasilkan sebuah buku best seller dari seorang penulis buku terkenal di dunia. Dia bangga karena merasa selama ini telah memberikan Bazwell segala contoh sifat-sifat baik manusia. Karena seringnya dia mengabarkan penulisan namanya tersebut, Edmund pun dipanggil sebagai “ Edmund si pemberi inspirasi”. Edmund sangat bangga akan ini.
Sementara itu, Glenn Bazwell yang kini tinggal di negara bagian berbeda dengan Edmund disibukkan dengan banyaknya acara diskusi buku best seller karyanya tersebut. Di setiap kesempatan, dia ditanyai beberapa pertanyaan seputar isi buku. Suatu hari, perpustakaan negara tempat dia tinggal memberikan kesempatan padanya untuk melaksanakan diskusi buku skala nasional yang akan dihadiri oleh ribuan orang dari seluruh negara bagian.
Saat sesi tanya jawab, seorang peserta diskusi bertanya kepadanya.
“Glenn Bazwell, siapakah Robert Edmund sehingga anda mendedikasikan buku ini kepadanya?”
“Dia adalah teman satu asrama saya selama beberapa tahun. Dia menjadi inspirasi bagi saya dalam menulis buku ini.”, jawab Bazwell.
“Betapa sempurna setiap tata cara dan contoh sifat-sifat baik manusia yang anda gambarkan dalam buku ini. Apakah Robert Edmund yang mengajari anda?”, tambah si penanya.
“Hmm...Sebenarnya Edmund tidak berada pada satupun contoh yang saya tuliskan. Dia berada dalam setiap permasalahan mengenai sifat-sifat buruk manusia. Selama saya bersamanya, hampir semua sifatnya tidak patut dicontoh. Sifat kurang berterimakasih, kurang menghargai dan tidak peduli terhadap sesama yang saya perhatikan selama beberapa tahun bersamanya menginspirasi saya untuk menuangkan solusi dalam bentuk contoh dan tata cara yang berkebalikan dengan apa yang saya lihat dalam diri Edmund agar yang membacanya tidak berbuat seperi Edmund.”, jelas Bazwell.

Rabu, 17 Juni 2009

ANDA SALAH SATUNYA


Di sebuah kota hiduplah seorang wanita yang sangat cantik. Wanita ini menikah dengan seorang pria pada perjumpaan mereka yang kedua sehingga mereka belum saling mengetahui tentang diri mereka. Pada suatu hari, si wanita memberitahukan sesuatu yang paling rahasia mengenai dirinya kepada sang pria. Dia memberitahukan bahwa ketika remaja, dia pernah jatuh sewaktu menunggangi kuda dan menyebabkan empat gigi depannya tanggal. Untuk menjaga penampilannya, sang wanita memasang empat gigi palsu untuk menggantikan posisi keempat giginya terdahulu.
Dari pernikahan mereka, lahirlah seorang anak perempuan. Sayangnya, anak tersebut memiliki gigi yang kurang sempurna dimana empat gigi atas depannya lebih maju dibandingkan dengan gigi bawahnya. Begitupun, sang pria dan wanita sanagt mencintai anak mereka. Saat menginjak remaja, anak tersebut mulai tidak percaya diri karena teman-temannya menghina penampilannya yang kurang menarik tersebut. Hal ini menyebabkan si anak tidak mau keluar rumah untuk bersosialisasi dengan penduduk di sekitar. Melihat hal ini, sang Ibu merasa sangat prihatin dan mulai memotivasi anaknya bahwa penampilan bukan hal yang utama dalam pergaulan. Hari demi hari, sang wanita berusaha meyakinkan anaknya untuk tetap percaya diri.
Pada suatu hari, si wanita, si pria dan anaknya duduk di taman. Tercetus ide dari sang pria untuk mengatasi masalah sang anak. Dia mengatakan kepada anaknya agar anak tersebut bersedia untuk menanggalkan giginya dan menggantinya dengan gigi palsu yang sempurna. Sang pria mengatakan bahwa sang wanita yang merupakan ibu dari anak tersebut juga memiliki empat gigi palsu. Sang pria mengatakan kepada anaknya bahwa kemungkinan besar sang anak mendapat “gen” tersebut dari Ibunya. Kemungkinan sang wanita juga sebenarnya memiliki gigi yang tidak sempurna dan menggantinya dengan gigi palsu. Mendengar ini, sang wanita marah kepada sang pria karena ini merupakan hal yang sangat memalukan bagi dia. Sang wanita marah dengan mengatakan bahwa dia memiliki gigi palsu bukan karena penampilannya kurang menarik melainkan karena kecelakaan saat menunggangi kuda. Dia terus mengatakan bahwa sebelum kecelakaan tersebut pun dia sudah memiliki penampilan yang menarik. Wanita dan pria tersebut bertengkar hebat di taman tersebut hanya karena permasalahan ini.
Setelah kejadian tersebut, sang anak tidak pernah lagi memanggil sang wanita dan pria dengan sebutan Ibu dan Ayah. Tragisnya, sang wanita dan sang pria tidak bisa menemukan jawaban mengapa anak mereka tidak mau lagi memanggil mereka dengan sebutan Ibu dan Ayah.


Apakah anda adalah si wanita? Si pria? Atau si anak? Silahkan mengambil amanat cerita ini dalam kehidupan anda. Karena tanpa anda sadari, terkadang anda adalah salah satu orang yang menyakiti orang yang anda sayangi.

Kamis, 11 Juni 2009

HAGA FOR A BETTER WORLD


Globalization could make us to be confronted with a lot of problems that can threaten the social relation inter humanity if we couldn’t avoid the peculiar situations that could come out. We have to be able to appreciate our own country without ignoring other countries. We must have to create a positive view about all the things that can be happened to our society. Actually, the negative things do not occur due to globalization. Certain type of attitude that give no respect to each other which tend to selfishness consideration by individual or certain group will make them think that they are greater than the other. This thought can create unbalance relation in our society.
Youth community problem that occur in this country, Indonesia is that there’re certain groups which still have a thought that they are superior. They make themselves above everything; they don’t accept the argument comes out from the one which not in group. Certainly, such a thing not only cause disunity in relationship inter community but also disunity of a nation. We have to prevent this problem. We must make equality and human rights balance in our society. Every mankind lives with the same rights. There’s no certain group that better than the other group. Every group has the same opportunity in country’s development. Every group has their own role in expressing their argument. We must be able to make sure ourselves in building up a positive environment that finally can create positive advance in our human relationship. In gender issue, we must be able to erase the mainstream said that male is better than female. Female also has capability in helping country’s development. On that account, we must help the United Nations (UN) program against on gender issue that happened in some part of this world. The availability of education tools for female must be come to reality so the rate of female illiteracy could be minimized. We can start it by giving our government some suggestions to join the international donation program that can help certain country to improve their education quality.
Indonesia as one of countries which has so many ethnic group and culture also facing some serious problem related to cultural heritage. Such various cultures make other country shout their own claim said that these cultures are belong to them, not belongs to Indonesia. This problem could appear caused by the lost of respect inter country where the plus point of one country caused another country also wants to own it without think of the negative impact that could appear. In facing this problem, we don’t need to raise our arms and make a war against other country. All we have to do is to use our country tools in diplomacy. A good conversation must be creating a good result for each country’s good. Government can also take a tactical step in preventing the intellectual wealth robbery by registering their intellectual and cultural wealth internationally so that other countries can appreciate the culture owned by certain country. Growing the “respect each other” attitude up is one main key that must be done in preventing conflict that might be happened in our society.
From the environmental side, we are faced with a global problem where there’s “global warming” that profitless for the earth. The number of factories and industries that heedless of environmental problems make such kind of industries only concern with the “how to produce outputs for profit accumulation”. The implementation of international conference in facing “global warming” is an advance step that can be done in growing international conscious thought to the danger impact that could be created by global warming. The arranging of fundamental laws that give constraint to industries could be helpful in minimizing these problems. The activities of whole industries must be controlled in serious way; giving certain standardization to industry must be implemented seriously so it will guarantee that those industries’ activities won’t endanger the environment.
In economic problem, Indonesia facing several economic unbalances. The number of small industries in Indonesia that couldn’t feel equal to grow due to morbidity in business competition must be handled immediately. Interstate cooperation in economic sectors must be able to give profitable result. Foreign investment in one country highly expected not only centralized in big industries. These small industries need financial capital and qualified business policies that will help such kind of industry to spread their market. The export-import policies among countries must be set up well so it will give balance profit to each country.
By implementing all the plans mentioned above, it’s highly expected that all the problems come out in our society around the world can be finish in order to create positive change in our environment that will foster sustainable development in our community. Hopefully.

Rabu, 10 Juni 2009

BEAUTY + SMART = PERFECT



Apakah anda penikmat berita? Saya bukanlah orang yang addicted pada berita namun ada kalanya saya menyaksikan berita selama berjam-jam. Saya mempunyai dua alasan. Yang pertama, berita yang disuguhkan merupakan hot news yang sangat sayang jika terlewatkan karena dapat membuat saya up to date dengan permasalahan terkini. Yang kedua, karena pembawa beritanya memiliki penampilan yang menarik dan komunikatif. Mungkin alasan yang kedua lebih mewakili. Saya sangat tertarik dengan pembawa acara berita wanita. Menurut saya, mereka memiliki paras yang cantik, pembawaan yang santai, penampilan yang berkelas, terlebih dengan kepintaraan dan daya kritis yang mumpuni. Lelaki mana yang tidak tertarik. Saya mengambil contohnya Tina Talisa. Dia merupakan pembawa acara berita di TVOne. Sebelum di TVOne, saya sudah mengetahui sosok pembawa berita ini. Sebelumnya, dia adalah pembawa berita di Trans TV. Berbeda dengan beberapa pembawa berita di stasiun TV lain yang menurut saya cuma bisa membaca saja, Tina Talisa memiliki daya pikir dan pengetahuan yang patut diacungi jempol. Setidaknya ini yang dapat saya tangkap dari beberapa program yang dibawakannya. Terlebih semenjak dia bekerja di TVOne, potensi yang dimilikinya terlihat semakin terasah dengan baik. Jika ditanya pada saya, apakah sosok seperti ini merupakan idola pria, saya pasti akan menjawab “Ya”. sebab, saya sangat mengagumi pemikiran seorang wanita. Wanita yang kritis dan mampu mengutarakan pendapatnya dengan referensi yang valid dan fondasi pemikiran yang kokoh menunjukkan kadar ilmu yang mereka miliki tidak sekedar isapan jempol. Jika dibandingkan dengan para wanita yang hanya bisa mendandani diri mereka dan duduk manis menunggu setoran suami, tentunya sosok seperti Tina Talisa ini merupakan saingan yang berat bagi mereka. Sekarang ini, sebagai lelaki jangan hanya memandang wanita dari lekukan tubuhnya atau kepiawaiannya dalam memuaskan hasrat anda. Pandanglah juga dari keterampilan berbahasanya, kepintarannya, kekritisannya, serta daya komunikasinya. Sebab wanita seperti ini mempunyai potensi berhasil di dunia karir juga di keluarga. Kalau saya ditanya “Siapakah yang lebih sexy, Julia Perez atau Tina Talisa?”. Pasti saya akan menjawab Tina Talisa. Bukan karena lekukan tubuhnya, namun karena kepintarannya yang membuatnya semakin sexy. Dan jangan salah, sebab sexy dalam artian ini mengandung makna yang lebih mahal, berkelas dan terhormat dibandingkan dengan sexy seorang biduan umbar aurat yang terkesan sangat cheap. Biarkan saya memahkotai wanita cantik dan pintar sebagai wanita yang Perfect.

Sabtu, 23 Mei 2009

Mahasiswa & Karyawan Mr. Burger


Kuliah saya hari ini sudah selesai sejak jam 13.30 WIB dan mungkin ini saatnya pulang bagi saya. Bukan mungkin, tapi harus karena langit sudah sangat gelap sewaktu saya keluar dari ruang perpustakaan FEB UGM. Saya sedikit jengkel jika dalam perjalanan pulang dari kampus terdapat bonus air hujan dari langit. Oleh sebab itu saya memutuskan untuk segera pulang. Lagipula jam tangan saya menunjukkan pukul 15.26 WIB dan perpustakaan akan tutup tepat pukul 16.00 WIB. Apalah guna sisa waktu 34 menit bagi saya yang tidak sepenuhnya berkonsentrasi pada bahan bacaan saya. Di perjalanan pulang saya dari kampus, rintik-rintik air sudah terasa menyentuh tangan saya. Beberapa juga hinggap di kaca penutup helm saya. Saya juga sudah bisa menebak kalau 100 meter lagi saya harus berteduh karena gerimis mungkin akan berubah menjadi hujan deras. Benar saja, saya sudah berdiri di depan minimarket “INDOMARET” di Jalan Kaliurang Km.5.5 Yogyakarta saat hujan sudah sangat deras.

Lima belas menit pertama, kaki saya masih sanggup menopang berat badan ditambah tas yang terisi penuh ditambah helm besar di kepala saya. Tetapi hujan semakin deras dan sepertinya “berdiri” bukan opsi terpilih dari pertanyaan “Apa yang saya lakukan disaat saya menunggu hujan berhenti?”.Tepat di sebelah saya terdapat sebuah kursi plastik merah milik sebuah (mungkin namanya gerai atau gerobak atau apalah) fastfood berlogo Mr.Burger yang beroperasi di depan mimimarket tersebut. Saya meminta izin kepada karyawan pria Mr.Burger untuk menggunakan kursi itu. Izin diterima.
“Kuliah, Mas?”, karyawan itu bertanya. “Iya.”, jawab saya. “Sudah ada planning?”, tanya karyawan itu lagi. Saya agak kaget dengan kata “planning” yang diucapkan karyawan tersebut. Tidak bermaksud menerendahkan, namun bagi saya kata itu terdengar intelek untuk diucapkan oleh seorang karyawan sebuah gerai kecil makanan cepat saji. Mungkin saya saja yang terlalu berlebihan. Menjawab pertanyaan mengenai planning tadi, saya mengatakan kalau saya sudah punya beberapa gambaran dan semoga saja semuanya terwujud. Sebelumnya saya tidak berfikir bahwa ini menjadi suatu conversation sampai saya mendengar karyawan tersebut berkata, “Saya tidak pernah membayangkan saya akan berakhir sebagai karyawan seperti ini.”. Mendengar itu, sontak rasa penasaran saya timbul. Kemudian conversation pun berlanjut begitu saja.

Terakhir saya mengetahui nama karyawan itu adalah Rudi (atau Rudy). Setelah saya bertanya mengenai maksud dari Saudara Rudi itu mengatakan mengenai ucapannya tadi, dia pun menjelaskan panjang lebar. Dia mengatakan bahwa bulan ini adalah bulan kedua dia bekerja sebagai karyawan Mr.Burger. Sebelumnya dia bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan produsen suku cadang sepeda motor Yamaha bernama PT. KYOWA di Bekasi. Imbas krisis perekonomian global membawa dia dan sekitar 2000 karyawan di perusahaan itu menjadi pengangguran dadakan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dialaminya membawanya menjadi seorang karyawan merangkap juru masak di gerai kecil makanan cepat saji tersebut. Saya dapat membayangkan bagaimana kehidupan seorang karyawan perusahaan besar berubah 180 derajat saat nasib menempatkannya pada posisi yang “tidak pernah dibayangkan sebelumnya”. Saudara Rudi yang merupakan tamatan STM ini harus bisa menyambung hidup dengan bekerja jauh dari bidang yang digeluti sebelumnya. Kisahnya, sebelum menjadi karyawan PT. KYOWA, dia mulai bekerja sebagai mekanik. Rezeki membawanya menjadi karyawan dengan status “karyawan kontrak” di perusahaan suku cadang sepeda motor di daerah Bekasi. Empat tahun lamanya dia berkontribusi di perusahaan tersebut sebelum perusahaan terpaksa melepasnya untuk “pengencangan ikat pinggang” perusahaan sebagai bentuk minimizing cost dalam menghadapi krisis keuangan global. Empat tahun bekerja di satu perusahaan cukup menggambarkan loyalitasnya sebagai karyawan mengingat bahwa dia berstatus karyawan kontrak. Kekalahan seleksi alam membawanya kembali ke Yogyakarta dan beruntung dia masih bisa mendapatkan pekerjaan di Mr.Burger. Gaji yang jauh lebih rendah dari gaji sebelumnya cukup membawa dampak besar. “Saya dulu kalau mau beli sesuatu gak pernah lihat label harganya, Mas.”, kisahnya “Sekarang ya suka mikir-mikir dulu sebelum beli.”.

Dia memberitahu bahwa di PT. KYOWA dia memperoleh gaji sebesar Rp.2.000.000,- per bulan belum termasuk lembur. “Sekarang gaji saya Rp.540.000,- per bulannya.”, katanya.
Mungkin anda juga bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang “Saudara Rudi”. Bayangan saya, tidak mudah menerima keadaan dimana pada satu waktu kita berada pada keadaan yang empuk namun di waktu lain keadaan yang terkeras merupakan keadaan terempuk yang harus kita hadapi. Jika kita melihat dari sisi prestige, sungguh jauh lebih prestige bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan Jepang yang merupakan produsen suku cadang sepeda motor Yamaha daripada harus menjadi seorang juru masak sebuah gerai kecil makanan cepat saji. Bayangan saya itu sepertinya tidak jauh berbeda dengan air muka yang saya lihat dari Saudara Rudi.
Dia juga mengatakan bahwa setelah dua tahun bekerja di PT. KYOWA, dia dan temannya memutuskan nyambi membuka CV( Comanditaire Venootschap ) yang bergerak dibidang finishing suku cadang produksi PT. KYOWA. Singkatnya, apa yang dilakukan oleh Saudara Rudi pada saat itu sangat mempunyai prospek. Mungkin inilah apa yang “pernah” dibayangkan olehnya. Pemutusan Hubungan Kerja bukan satu satu nya “tangga” yang menimpanya. CV yang dibangunnya gulung tikar karena putus kerjasama dengan PT.KYOWA.
Pembicaraan kami terhenti sejenak saat seorang wanita memesan sebuah beef burger di gerai itu. Saudara Rudi dengan segera mulai mengolah pesanan si pembeli. Saat itu saya masih sempat terfikir bagaimana cara Saudara Rudi menerima keadaan seperti ini. Bagi saya yang notabene adalah seorang mahasiswa yang mulai dari outfit sampai isi perut berasal dari uang orang tua saja terkadang pusing memikirkan berjuta-juta mimpi di hari esok. Bagaimana pula dengan Saudara Rudi yang telah menggenggam mimpi nya namun dirampas secara paksa oleh keadaan. Mungkin bagi sebagian orang gaji sebesar Rp.2.000.000,- per bulan adalah bentuk riil dari gaya hidup selama beberapa hari. Namun bagi Saudara Rudi, uang sebesar ini adalah sigma gaji selama kurang lebih empat bulan. Masih beruntung Mr.Burger memberikan gaji tidak berdasar omzet per gerai melainkan dengan besaran tetap per bulannya. Dengan jam kerja kurang lebih delapan jam per hari, tentunya uang sebesar ini masih terasa kecil. Pesanan pun selesai dan si pembeli (yang merupakan satu-satunya pembeli selama saya disana) menyerahkan selembar uang lima ribu dan dua lembar uang seribuan.

Saudara Rudi juga bercerita bahwa dia mempunyai seorang sepupu yang mempunyai jabatan penting di sebuah perusahaan lain yang juga bergerak dalam produksi suku cadang sepeda motor. Namun ini sama sekali tidak mendatangkan pengaruh kepadanya. Bahkan jika politik Nepotisme menjadi Survive Exit terakhir, keadaan perekonomian dunia yang bergejolak belum mengizinkannya untuk menjadi salah satu bagian di perusahaan tersebut. Mungkin kita berfikir bahwa Channeling dan Backing akan menempatkan kita pada Comfort Zone dan Certainty yang siap ditagih pada waktu tertentu. Saya jadi teringat dengan satu ungkapan yang mengatakan bahwa satu satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri.
Tanpa maksud menggurui, saya berkata pada Saudara Rudi bahwa semua yang kita terima pada dasarnya adalah rezeki. Bekerja di Mr.Burger mungkin bukan rezeki bagi dia. Namun bagi pelamar lain yang dia kalahkan untuk mendapatkan pekerjaan ini, pasti berpendapat bahwa dia adalah orang yang “berezeki”. Bukan berarti saya juga mudah dalam menerima suatu keadaan terpuruk. Saya juga sebenarnya baru tersadar bahwa untuk bersyukur, kita harus bisa flexible menempatkan diri kita pada posisi yang appropriate dengan kadar rezeki yang kita terima. Bukan pula berarti kita melepaskan effort untuk rezeki terbesar melainkan meyakini bahwa skenario terburuk tidak selamanya buruk.

Pembicaraan pun bercabang ke arah pemilihan presiden, pemanfaatan SDM yang tidak maksimal di Indonesia, sampai mengenai franchising. Tidak terasa saya berbincang-bincang selama kurang lebih dua jam. Hujan pun sudah mulai berhenti. Saya menjabat tangan Saudara Rudi dan mengatakan semoga dia sukses dengan segala usaha yang dijalaninya. Semoga dia juga mengatakan hal yang sama di dalam hatinya. Saya pun bergegas mengendarai motor saya. Ternyata hujan dalam perjalanan pulang dari kuliah tidak selamanya menjengkelkan. Hujan kali ini cukup memberikan saya pelajaran berharga. Mungkin lain kali saya pulang kuliah di saat hujan saja. Bercanda.

Comment(s) via Facebook.com



Radhyaksa Ardaya at 8:51pm May 23
Ini beneran?
Aku masih speechless nih. Indomaret mana sih ga?

Bimantara Haryo at 9:00pm May 23
bagus ga note lo...
cukup membuat merenungkan...
laik dis lah mamen!!!

Haga Ade Wiguna at 9:03pm May 23
@caca
kan ada alamatnya di dalam note bung caca...

@Bima
beugh...lo bayangin lo ada di posisi dia...gw aja shock juga dengernya...kisah nyata.

Bimantara Haryo at 9:07pm May 23
AYO BELI BURGER HANYA DI AKANG RUDI!!! hahaha
di jakarta kaga ada si coyyyy

Harisnu Kurniawan at 9:57pm May 23
nice post,..

Musytaqul Hasan at 12:09am May 24
Oi tetangga kamar,
Post nya bagus, tulisannya bagus,

tapi kenapa bahsanya kyk lo lagi kerasukan Soekarno?

Andrea Andjaringtyas Adhi at 5:12pm May 24
HIDUP MR.BURGER. Man. Emang mr.burger itu nagih abis. Cuma 6500rupiah bisa dapet daging yang eeuuhm dengan roti yang eeeuhm pula. Jadi kalo males makan berat, ngemil itu doang aja jg kenyang. Dan kebetulan mr.burger itu langganan gw ga! HAHAHA. Jgn2 slama ni mas rudi yg mendengarkan curhatku sambil menunggu chicken prosperity gw jadi.. Hehee.

Gw ada bbrp pertanyaan (bodoh):
1. Jadi elo beli burger ato ga?
2. Elo voto juga ya mas rudinya?
3. Ko elo tumben bs inspritif seh ga? Hehehe.

Syiva Nur Malasari at 9:25pm May 24
ndre ini MR.BURGER yg kita beli pas mlm itu bkn tmpatnya?kan lagi IN bgt tuh si chiken prosperity dsana??trs lu jd beli burger apa numpang neduh doang ga?

Haga Ade Wiguna at 10:53pm May 24
@Uul
lo kaga tau nama gw haga soekarno putra? Haha

@handra
ah lo gak manggil... Parah!

Haga Ade Wiguna at 10:56pm May 24
@andrea
1. Gw ga beli krn terlanjur beli sari roti. Wakaka
2. Si mas rudiny gw foto diem2 pake digicam. Gw pura2 nunjukin foto pak bud. Trus diem2 gw matiin flash, pura pura megang kamera, sok2 nanya lg dan JEPRETTT...Haha.
3. Iya tumben. Hehe

Haga Ade Wiguna at 10:58pm May 24
@cipoy
haha agenda utamanya kan neduh...

Raras Cynanthia at 12:42pm May 25
wah gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... jadi sedih bacanya. serius. :.( tapi inspirative... !!! memotivasi agar terus maju.

Khafidh Moch Zainul at 10:05pm May 25
Mantabs...

Dian Paramita at 9:06am May 28
KOK GA BELI BURGERNYA!!!!!
Dari pertama baca ampe terakhir aku berharap ada tulisan, "untuk menambah semangat Mas Rudy, aku membeli 5 burger untuk temanku Mimit." 1 kali dayuh, 2 ampe 3 pulau terlampaui kan. Mas Rudy senang, temanmu juga senang. Cuma numpang neduh dan minta didongengin aja! Mas nya pasti kecewa. Kamu bodoh. (Modyar ga dipuji malah dibodohi)

Paragraf terakhir itu favoriteku btw. Hehe.

Haga Ade Wiguna at 9:09am May 28
@mimit
soalnya tadinya aku udah makan sari roti yang gede...mas nya juga antusias ceritanya..lupalah akan kelezatan mr.burger

btw intinya bukan diparagraf yang kamu favoritin itu loh mit.

Dian Paramita at 9:14am May 28
Apapun ceritanya, tapi pendapat terakhirmu itu yang paling bagus. Yang ini lho maksudku:

...Saya pun bergegas mengendarai motor saya. Ternyata hujan dalam perjalanan pulang dari kuliah tidak selamanya menjengkelkan. Hujan kali ini cukup memberikan saya pelajaran berharga. Mungkin lain kali saya pulang kuliah di saat hujan saja. Bercanda.

DONG NGGAK KAMU???

Haga Ade Wiguna at 9:15am May 28
Oh
*angguk2, geleng2, nunduk2

Dian Paramita at 9:17am May 28
Bagus.

Sabtu, 14 Februari 2009

Pengaruh Lingkungan Terhadap Keputusan Managerial


Dalam suatu manajemen perusahaan, pastilah diperlukan suatu keputusan yang tepat demi kegiatan operasional perusahaan yang diharapkan. Dalam mengambil sebuah keputusan, manager juga harus mempertimbangkan faktor lingkungan sekitar perusahaan agar tercapai keputusan yang diharapkan dan tidak merugikan pihak manapun baik dari pihak internal perusahaan maupun pihak eksternal perusahaan. Faktor lingkungan ini dibagi dalam berbagai kategori antara lain tenaga kerja dengan latar belakang yang berbeda baik dari segi ekonomi, ethnic, usia dan juga dari segi-segi lainnya. Suatu cara melaksanakan keputusan merupakan seleksi dari beberapa alternatif, yang dapat menghasilkan alokasi dari uang, personil, waktu dan lain sebagainya. Dalam hal ini, bisa terjadi keputusan yang baik, didasarkan atas pemikiran logis, dimana hasilnya bisa baik juga.
Untuk memberikan pengertian yang lebih luas yang menyangkut proses suatu keputusan, pengklasifikasian keputusan-keputusan dapat dibagi dalam dua hal yaitu keputusan yang bisa direncanakan dan yang tidak bisa direncanakan. Keputusan yang direncanakan merupakan pengulangan dan rutin, mempunyai prosedur yang sudah ditentukan dan tidak memerlukan banyak cerita lagi didalam pendekatanya, bila terjadi suatu masalah.
Keputusan-keputusan manager juga dapat dibagi didalam tingkatan yang logis dan yang tidak logis. Melaksanakan suatu keputusan secara logis memerlukan berfikir secara sadar, waspada dan didasarkan atas akal. Proses dapat dikemukakan dengan kata-kata verbal dan simbol-simbol lain. Sedangkan yang tidak logis, tidak mungkin untuk dikemukakan melalui kata-kata verbal atau sebagai suatu akal dan hanya dapat dikemukakan melalui pengaplikasiannya itu sendiri. Seorang manager merasakan hal ini karena proses cara memutuskan itu merupakan hal keadaan antara sadar dan tidak sadar.
Berdasarkan pembagian keputusan-keputusan tersebut, maka pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita adalah kapankah suatu cara dari sekian cara tersebut dapat dipergunakan? Jawabannya adalah, tergantung dari berbagai faktor luar yang mempengaruhi perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor eksternal itu antara lain adalah faktor lingkungan. Dalam hal ini kita mengkaitkan dengan hal etikal sebuah perusahaan. Dalam mengambil sebuah keputusan, pertimbangan etika yang kuat haruslah dilakukan sehingga masyarakat mendapatkan kesempatan untuk diperlakukan secara adil dan sejahtera sehingga keputusan yang diambil oleh seorang manager tidak bersifat melawan hukum. Dalam mengambil keputusan yang memperhatikan faktor-faktor luar, tidak jarang dapat mempengaruhi keefektifan perusahaan. Hal ini secara sadar dapat meningkatkan keuntungan kompetitif. Salah satu contoh keputusan yang dapat dilakukan seorang manager dengan memperhatikan faktor lingkungan yang memiliki masyarakat kaum minoritas adalah dengan menawarkan kuota lowongan kerja kepada mereka yang berpotensi diantara kaum minoritas tersebut. Tentunya perbedaan ini seharusnya tidak turut menjadikan upah/gaji yang diterima berbeda dengan mereka yang mayoritas pada level tingkatan kerja yang sama sehingga akhirnya kredibilitas perusahaan dapat terlihat. Tentunya hal ini menguntungkan kedua belah pihak baik dari perusahaan itu sendiri maupun dari pihak masyarakat.
Faktor lingkungan lain (dalam hal ini tenaga kerja) yang juga berhubungan secara tidak langsung antara lain adalah dari segi suku, usia dan hal lainnya. Keputusan manager dalam perekrutan tenaga kerja dari latar belakang yang berbeda sebenarnya memang mendatangkan keuntungan yang cukup bermanfaat bagi perusahaan. Keuntungan-keuntungan yang didapat oleh perusahaan antara lain dari segi cost. Dalam hal ini perusahaan tidak harus mengeluarkan dana yang lebih banyak untuk melakukan sejumlah survey karena orang-orang yang ada didalam perusahaan tersebut terdiri dari sudut pandang yang berbeda-beda. Hal ini juga akan berhubungan dengan decision making advantage.
Materi yang digunakan dalam suatu keputusan dapat diklasifikasikan sebagai data yang tepat, data dengan kualitas rendah atau mempunyai keterbatasan, validasi yang tidak dapat diandalkan, mengenai mutu dan lain sebagainya. Kemudian informasi yang sifatnya spekulatif yang tak ada hubungan dengan ukuran matematis atau dapat dikatakan banyak kemungkinan berubah, data yang banyak tidak ada kepastian, sulit untuk dijadikan ketentuan. Manager dalam memutuskan sesuatu, telah belajar untuk selalu menggantungkan diri pada fakta dan logika, tetapi ternyata data-data yang digunakan untuk membuat keputusan tidak mempunyai sangkutan pada proses yang logika. Bahwa banyak keputusan-keputusan tidak didasarkan pada pendekatan logika, tapi banyak atas pendekatan emosional. Orang justru curiga pada keputusan yang ditimbulkan oleh seseorang yang sifatnya individualistis. Jadi, oleh karena itu para pelaksana keputusan selalu akan berusaha supaya sesuatu terlihat obyektif.
Sebab itulah seorang manager memerlukan bantuan dari lingkungan perusahaan untuk ditempatkan/diadopsi sebagai bantuan dalam pembentukan keputusan managerial. Bahwa pengaruh lingkungan terhadap keputusan managerial bisa jadi sangat besar dimana lingkungan dapat memberikan kontribusi dalam bentuk data fisik maupun tenaga kerja yang akhirnya dijadikan sebagai salah satu sumber yang dapat membantu seorang manager dalam menentukan keputusan yang akan dibuatnya. Faktor lingkungan yang mempengaruhi perusahaan dalam hal ini mendatangkan keuntungan bagi kedua pihak yaitu pihak internal perusahaan itu sendiri maupun pihak luar.

Selasa, 30 Desember 2008

Berjalan atau Berlari (?)



Terkadang saat akan melakukan sesuatu, ada desakan dalam hati untuk mengatakan ”nanti saja”, ”besok saja”, ”kapan-kapan saja”, atau apapun yang sejenis. Ada kalanya desakan itu terealisasi dan datang dalam bentuk penyesalan. Kenapa nanti? Kenapa besok? Kenapa kapan-kapan? Mereka bilang kegagalan adalah pembelajaran. Saya tidak mau gagal tapi saya mau belajar. Bahkan pepatah pun berteriak ”jangan tunggu sampai besok apa yang dapat kau kerjakan hari ini”. Saya bisa menyalahkan waktu kalau apa yang dapat saya kerjakan hari ini, saya realisasikan besok. Tapi saya akan menyalahkan diri saya sendiri kalau apa yang seharusnya dapat saya kerjakan besok tidak terealisasi karena besok saya harus mengerjakan yang seharusnya saya kerjakan hari ini. Saya tidak mau bibir dan hati ini berucap, ”Seharusnya saya yang menempati jabatan itu...” atau ” Seharusnya saya yang menjadi pasangan gadis itu...” atau yang paling buruk ”Andai dulu saya lebih serius merencanakan masa depan...”.
Saya tidak ingin merasa sedang menunggu padahal saya sudah tertinggal. Saya tidak ingin merasa menemukan sesuatu yang baru padahal mereka sudah lebih dulu. Mereka menggoyangkan kaki menapaki tanah saat saya menggoyangkan kaki diatas kursi. Saya ingin bertemu dengan si individu yang menyatakan ”waktu terus berjalan”. Kenapa berjalan? Disaat yang lain mengatakan time is running out. Berlari!!! Tidak aneh kalau ”besok saja” dan kawan-kawan sering terucap karena merasa tidak harus mengejar. Tidak aneh kalau ada saat-saat ketinggalan.
Saya ingin menjadi sepasang sepatu bagi waktu yang sedang berlari bukan pemandangan bagi waktu yang ternyata tak pernah berjalan...

Comment(s) via Facebook.com



Yosephin Dewiani at 10:18am December 30, 2008
nyesel emang pasti datengnya belakangan koq...hehm...

Haga Ade Wiguna at 1:48pm December 30, 2008
Ya,biasanya seperti itu.
Saya pgn yang gak biasa.
Penyesalan bisa jd awal buat ketidakgagalan berikutnya...
Thx 4 comment:)

Alvin Adisasmita at 12:55am January 2
...” Seharusnya saya yang menjadi pasangan gadis itu...”

bagian tu menampar muka saya dengan begitu keras bung...
haha...
... Read More
ya tu berarti uda sifat dasarmu menunda-nunda...
kalo belum "kena" beneran brarti belum bakalan berubah...

nah, abis tu tinggal milih, mau nunggu "kena" atau mau berubah dulu?
silikan memilih temanku yang bijak...

cheers!
Alvin

Haga Ade Wiguna at 1:06am January 2
Aku jg pnh tertampar krn menunda2 pada seorang gadis.

haha
mari mulai tidak menunda2 lagi.
*i wish

Paramita Wulandari at 11:14pm May 23
menohok sekali ga

INTERMEZO

Saya masih ingat bagaimana masa-masa kecil saya dan saudara-saudara saya. Semua berjalan sangat indah walaupun kami tidak tahu bagaimana menerbangkan layangan, memainkan kelereng atau semacamnya karena kami tidak merasa tertarik dengan itu. Saya beruntung dibesarkan ditengah keluarga yang hangat. Saudara-saudara yang begitu bersahabat. Kedua orang tua saya adalah penghuni kantor “from ten to five”. Meskipun demikian, saya masih punya “from five to ten” dari sepasang manusia super ini. Jadi, maaf kalau saya tidak pernah merasakan apa yang mereka sebut dengan “korban orangtua workoholic”. Tak berlebihan kalau saya menggunakan kata “beruntung” untuk diri saya sendiri. Begitu cepat waktu berlalu. Saya masih ingat bagaimana reaksi keluarga saya saat pertama kali suara saya berubah menjadi besar sedikit bass. Saya pun sebenarnya bingung saat itu. Pernah saya menemukan kembali celana pendek kecil berwarna biru. Tersenyum kecil, bergumam…ya, saya pernah memakainya dulu sekali sewaktu playgroup jauh sebelum bulu-bulu ini memenuhi paha sampai mata kaki. Banyak hal telah berubah. Rambut ini pernah klimis sewaktu Sekolah Dasar. Sekarang untuk menurunkan rambut yang melawan gravitasi ini saja sulit rasanya. Dulu ketika saya kecil, saya ingin cepat besar. Saya pernah sangat senang saat usia saya melebihi sepuluh, tak terasa itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Meskipun saya tidak ingin kembali menjadi kecil, saya merindukan masa-masa itu. Lihat sekarang, untuk berkumpul bersama sangat susah mencari waktu. Ruang keluarga sudah jarang terisi penuh.
Semakin hari semakin banyak yang saya pelajari. Hidup itu waktu. Rambut yang memenuhi muka akan terus tumbuh meski setiap pagi dicukur. Saya akan meninggalkan dan juga ditinggalkan. Ya Tuhan, hidup itu seperti steak. Sayang ditelan sebelum puas mengunyah meskipun akan kenyang. Saya belum ingin kenyang dengan hidup. Saya masih ingin merasakan kaldu setiap kali mengunyah perjalanan hidup saya. Tidak masalah kalau lidah saya tergigit karena saya akan berhenti sejenak untuk kembali lagi. Ya Tuhan, saya tidak ingin hidup selalu berharap, saya ingin menjadi harapan. Saya takut ”mengecewakan” melebihi takut saya dengan ”dikecewakan”. Saya ingin tersenyum dengan masa depan. Sudah siapkah saya dengan masa depan? Apa dan dimana saya tidak lama lagi? Saya tahu bahwa lelaki dipandang dari pekerjaannya, bukan dari film yang ditontonnya. Jika tiba saatnya, saya ingin memiliki pekerjaan yang terencana kalau memang benar pekerjaan adalah harga diri bagi lelaki. Bahkan jika saya berpendapat bahwa pekerjaan dan harga diri menempati koridor yang berbeda. Saya terkadang bersyukur menjadi pribadi yang memikirkan ini. Saya pun tidak memungkiri kalau saya merindukan masa-masa saya tidak memikirkan ini semua. Masa kecil saya. Tidak berarti saya menolak proses pendewasaan. Ya Tuhan, banyak yang ingin saya utarakan antara kita berdua...

Comment(s) via Facebook.com



Radhyaksa Ardaya at 6:14am December 30, 2008
hiks, haga sangat mengharukan.
besok kutraktir steak de.

Raras Cynanthia at 7:25am December 30, 2008
haga... aku padamu....

Phe Pramanto Hanggoro at 8:18am December 30, 2008
Ga....tidak ikut UAS krn sering bolos tu bs merusak masa depan dan pekerjaan lho

Haga Ade Wiguna at 9:17am December 30, 2008
@caca
emang itu tujuannya,supaya dtrktr steak.hehe

@ayas
aku juga padamu.hoho... Read More

@phe
ikut UAS wekkk.haha

Alvin Adisasmita at 12:52am January 2
Justru bukan menolak ga, yang kamu tulis ki gejala penuaan...

hmmm,,mengenai rambut,, kok semua orang gitu ya?? dulu rambutku lurus banget lo ga... saiki, bahkan untuk bertahan sesuai sisiran awal selama 1 menit sudah jadi keajaiban...

oh, inikah yang dinamakan balada rambut dan steak?

Haga Ade Wiguna at 1:10am January 2
Hahaha
penuaan dini dong mas.

iya,rambutku ga bs turun lg...wkwk
... Read More
rambut dan steak? Jangan pnh mencoba merubah judul note ini !haha

Alvin Adisasmita at 1:13am January 2
haga sudah garing lagi...
lama tidak bertemu dengan teman-temannya di kampus...

sekali ketemu mungkin jadi ceng2an anak2 lagi...
poor haga...

Haga Ade Wiguna at 1:24am January 2
Iya nih, selera humorny drop lagi cz jarang dilatih...
Harus brainstorming lg atau siap2 jd "dia yg dicemooh krn candaan jayusnya"
hahaha
PUAS...PUAS...

Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:32pm January 4
oh haga.
mengikat tali kasutmu pun aku tak layaak.. hahhaha.

Haga Ade Wiguna at 11:36pm January 4
jangan bol...jangan...jangan pernah kata2 itu terucap lagi...
kalo berpisah adalah jalan yang terbaik, aku gak mau yang terbaik...
ingat, langkah kakimu adalah langkah kakiku juga...
*makanya lepasin borgolnya!

Kamis, 27 November 2008

MENYILANGKAN TANGAN SENDIRI DIANTARA KEDUA PAHA SENDIRI

Sebenarnya saya sudah lama memikirkan ini...Gak penting tapi penting...
Tadinya saya pikir hanya saya yang melakukan hal ini, tapi ternyata banyak dan hampir semua pria melakukannya...

Hal yang dimaksud adalah seperti ini:
Sejak dari dulu, saya kalau sedang duduk baik di bangku kelas, di sofa, di jok mobil, dsb terlebih jika ada orang lain di depan saya ketika saya duduk, secara sadar atau tidak sadar 90an% pasti menyilangkan kedua tangan saya di antara kedua paha. Tidak harus menyilangkan tangan, bisa juga lipat tangan di antara kedua paha. Intinya adalah selalu ada tangan di antara kedua paha saya (tangan saya maksudnya..haha). Pengecualian, hal ini tidak saya lakukan jika saya duduk di jok motor saat mengendarai motor (yang nanya kenapa, saya tinju!!!).

Nah, akhirnya saya mengemukakan pikiran saya pada seorang teman. Teman saya pun menyetujuinya. Kemudian kita melakukan pembuktian. Pembuktian yang dimaksud adalah dengan cara menonton televisi dimana bintang tamu pria nya duduk (ada gitu yang berdiri???).

Acara yang kita tonton :
(1) TATAP MATA : Di acara ini terdapat dua bintang tamu pria yang menyilangkan tangan diantara kedua pahanya. Bahkan saat si bintang tamu berdiri dan duduk lagi, secara tidak sadar tangannya langsung menyilang lagi di antara kedua pahanya. Beda dengan bintang tamu wanita (walaupun duduknya tidak sila kaki), tangannya tidak pernah menyilang diantara kedua pahanya.
(2) APA KABAR INDONESIA MALAM : Ketiga bintang tamu pria yang terdiri dari Anggota KPU, Direktur salah satu Organisasi, PANWASLU juga menyilangkan tangannya di antara kedua paha. Berbeda dengan Tina Talisa yang menurut saya sangat cantik dan pintar (beda konteks pak!).
(3) ACARA LAIN-LAIN : Yang tetap saja bintang tamu prianya menyilangkan tangan diantara kedua pahanya.

Intinya mengapa kebanyakan pria jika duduk selalu menyilangkan tangan diantara kedua pahanya?
Saya punya jawaban saya sendiri, tapi terlalu vulgar jadi saya rahasiakan.
Menurut anda???



Comment(s) via Facebook.com



Andrean Malta at 11:17am November 30, 2008
ujian jaman saya muda dulu memerintahkan para siswa untuk 'silanglah jawaban yang anda anggap paling benar'. akan tetapi modernisasi menyebabkan penyilangan tidak tren lagi dan digantikan oleh 'bulatkan jawaban yang anda anggap paling benar'

oleh karena itu,pertahankan idealisme anda dengan tetap menyilang.karena itu semua merupakan takdir dari yang maha kuasa.

Syahna Alisya at 9:41pm November 30, 2008
kak haga aku ga ngertiiiii.
polos bgt akunya.

Alvin Adisasmita at 11:30pm November 30, 2008
menyilangkan tangan di antara paha merupakan tanda bentuk tak sadar melindungi sesuatu yang lemah...
hmmm, kekuatan sekaligus kelemahan pria tampaknya...

wah mal, ga bisa bayangin deh kalo semua mengikuti trend 'bulatkan jawaban yang anda anggap paling benar'...
bayangin aja, 'silangkan jawaban yang anda anggap paling benar' aja pada nyilangin tangan diantara paha... gimana kalo pada membentuk huruf o diantara paha???? seakan-akan siap terbang ke angkasa...... Read More

nooooo.....

Haga Ade Wiguna at 11:40pm November 30, 2008
oh saya lupa,kalau mengendarai motor dengan santai (menggunakan satu tangan), pasti tangan saya yang satunya juga berada diantara kedua paha.
atau juga terkadang saya meletakkan tas saya diatas kedua paha sewaktu mengendarai motor...

pendapat mas malta kurang saya mengerti (maap2..hehe)
pendapatnya mas alvin mendekati bayangan saya:P

Andrean Malta at 2:37am December 1, 2008
anda kurang berimajinasi.cobalah beberapa saat lagi.

Haga Ade Wiguna at 10:15am December 1, 2008
saya sudah memaksa imajinasi saya.. tapi saya jadi diperbudak imajinasi..bahkan waktu pun tidak mau menguasai saya dan imajinasi saya.

*apa si

Ibnu Hajar Ulinnuha at 9:33pm December 3, 2008
menurut David De Angelo - Body language..

one of the way to make a women "sexually attracted" to you, is to place one of your hand while sitting, on your inner thigh, but not touching the crotch.

Ibnu Hajar Ulinnuha at 9:37pm December 3, 2008
fyi ... women are a thousands times aware of noticing body language than what mens are ..

Ibnu Hajar Ulinnuha at 9:42pm December 3, 2008
ga, kalo lo bilang body language itu ga penting.
itu salah.

pernah denger
"tidak penting apa yg kamu katakan, tapi bagaimana kamu mengatakannya"... Read More

hal itu karena komunikasi yg efektif dipengaruhi oleh

60 % body language
25 % intonasi
15% kata2

well,perhaps u should go read my favourite e-book.

"Attraction isn't a choice"
hehehe.

Ibnu Hajar Ulinnuha at 9:44pm December 3, 2008
u can see James Bond in Quantom of Solace for a figure.
thats a perfect body language.
and it works like a CHARM.

Haga Ade Wiguna at 3:35pm December 4, 2008
iya nu...gw juga ga bilang bahasa tubuh itu gak penting...mnrut gw penting banget malah..
berarti kebanyakan cowok itu secara ga langsung "sexually attractive" dong???
kalo gw sih udah tau dari lama kalo gw menarik secra seksual...
*ZONK
coba gw minta e-book nya nu...

yeah,,,because i myself is the James Bond...and the last sentence for this comment is " I WISH"..hahaha

Ibnu Hajar Ulinnuha at 6:28pm December 4, 2008
hahaha... that was just one of the aspects, theres a lot more like eye contacts, sitting position..etc. that picture u showed isnt sexuall attractive at all .. thats because they sit with their back folded. U've got to lift your chest, sitting in a secure position and feeling "confidence" is a must.

email lo apaan cuiy?

Minggu, 23 November 2008

SUBSIDI BBM DAN DAMPAKNYA TERHADAP INVESTASI

Sebagaimana yang kita ketahui, perekonomian Indonesia tidaklah selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan dimana perekonomian Indonesia layaknya perekonomian negara-negara berkembang lainnya bahkan negara maju sekalipun ada kalanya mengalami ketidakseimbangan perekonomian. Sesuai apa yang dikatakan oleh Keynes, bahwa dalam perekonomian dibutuhkan peran serta pemerintah untuk melakukan interfensi penyeimbangan kondisi perekonomian. Dalam masalah harga misalnya, heterogenitas daya beli masyarakat Indonesia yang sebagian besar mempunyai rata-rata daya beli yang rendah mau tidak mau harus membutuhkan penyesuaian harga yang dapat membantu meningkatkan daya beli masyarakat sehingga semua lapisan masyarakat dapat mencapai tingkatan harga yang telah disesuaikan tersebut.
Begitu pula dengan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengalami peningkatan harga yang drastis yang diakibatkan oleh kenaikan harga minyak dunia. Dengan daya beli masyarakat Indonesia yang rendah, sudah pasti akan menjadi kendala tersendiri bagi mayoritas masyarakat Indonesia untuk dapat mencapai harga yang cukup tiinggi tersebut. Dalam hal ini lah pemerintah menunjukkan perannya. Dengan menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan mengalokasikan jumlah tertentu untuk menutupi tingginya harga BBM melalui kebijakan subsidi, pemerintah mengaharapkan bahwa daya beli masyarakat secara umum akan meningkat.
Memang kebijakan subsidi telah berhasil dalam hal meningkatkan daya beli masyarakat. Namun, masalah tidak hanya berhenti disini saja. Masyarakat dari kalangan bawah secara mayoritas hanya membutuhkan BBM berupa minyak tanah dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari padahal pemerintah memberikan subsidi bukan hanya minyak tanah tetapi juga BBM untuk kendaraan bermotor. Sudah barang tentu dengan kondisi daya beli masyarakat yang didominasi oleh kalangan berdaya beli rendah, adalah hal yang cukup irrasional jika kalangan masyarakat tersebut yang menjadi konsumen terbesar BBM untuk kendaraan bermotor. Tentunya yang merupakan konsumen terbesar berasal dari kalangan ekonomi menengah keatas yang memiliki daya beli yang lebih tinggi. Dengan kata lain, terdapat kesalahan sasaran pemberian subsidi tersebut. Data Susenas terakhir menunjukkan 82% dari subsidi jatuh kepada kelompok 60% pendapatan teratas dan sisanya hanya 17% subsidi tersebut hanya jatuh kepada kelompok 40% terbawah. Dalam hal ini jelas terlihat bahwa kebijakan yang dilakukan pemerintah memiliki “dua mata pedang” dimana di satu sisi menguntungkan namun disisi lain terdapat situasi mubazir anggaran karena ternyata yang menikmati subsidi yang diberikan pemerintah tersebut lebih banyak jatuh di tangan masyarakat yang memiliki daya beli yang lebih tinggi yakni masyarakat yang membeli BBM untuk kendaraan bermotor. Pemerintah pun akhirnya mengurangi subsidi dan menggantikannya dengan kebijakan lain.
Dengan mengurangi subsidi, dengan harapan harga minyak Indonesia sama dengan asumsi dalam RAPBN pada tahun sebelumnya, perhitungan sementara menunjukkan akan terdapat sekitar Rp 20-25 trilyun netto anggaran tambahan (setelah diperhitungkan anggaran tambahan untuk Subsidi Langsung Tunai dan Program-Program Kompensasi Lainnya serta kenaikan gaji pegawai negeri sebesar 20%) yang bisa digunakan untuk keperluan lain. Jadi penghematan ini bisa digunakan untuk kegiatan yang lebih produktif seperti yang dicantumkan Rencana Kerja Tahunan yang akan datang yaitu program penanggulangan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar khusunya infrastruktur pedesaan, pertanian dan pertahanan keamanan.
Bagaimanakah dampak dari pemberian subsidi terhadap perekonomian secara keseluruhan. Dengan mengganggap bahwa pemerintah membiarkan pajak konstan, maka akan terdapat kenaikan konsumsi pemerintah (G) untuk membiayai pengeluaran subsidi. Karena pajak tetap namun pengeluaran pemerintah bertambah, maka akan terjadi budget deficit yang mengakibatkan tabungan pemerintah turun. Budget deficit tersebut dibiayai dari masyarakat dengan cara menaikkan suku bunga bank yang pada akhirnya menyebabkan masyarakat memiliiki preferensi untuk menabung dibandingkan untuk investasi. Dengan kata lain, memang terdapat sisi negatif dari pemberian subsidi yang dilakukan pemerintah dimana pemberian subsidi tersebut menurunkan private investment. Namun pertanyaan lain yang muncul adalah apakah penghentian pemberian subsidi berarti akan terjadi perbaikan perekonomian? Memang kebijakan selalu berupa “pedang bermata dua”;-)

Sabtu, 17 Mei 2008

“If they cry,They Buy”



Saya menonton acara 2020 di Metro TV sekarang ini. Hal yang mengejutkan yang ada di acara ini adalah cara menjual produk yang curang. Menurut saya (dan pastinya menurut kebanyakan orang termasuk menurut acara ini), cara penjualan yang dilakukan oleh suatu produk pelangsing tubuh bermerk “LA Weight Loss” sangatlah curang dan licik. Saya baru tau bahwa bagi wanita, berat badan yang bertambah itu merupakan hal yang sangat besar. Bagi pria termasuk saya, bertambahnya berat badan bukanlah hal yang sangat perlu dikhawatirkan. Saya akan panik kalau perut saya bertambah buncit. Itu pun sekedar panik dalam artian biasa, bukan sampe stress bla bla bla. Saya belum bisa menemukan apa yang menyebabkan bertambahnya berat badan bisa membuat wanita menjadi sangat panik bahkan nangis. Setidaknya hal itulah yang dibahas dalam acara 2020 yang saya tonton ini. Anda tau, seorang wanita yang menurut saya “bodoh” karena dia terlalu khawatir suaminya, orang-orang di sekitarnya akan mengolok dia jika berat badannya bertambah (padahal kalau diperhatikan, bertambahnya berat badannya sama sekali tidak berpengaruh pada bentuk tubuhnya). Dengan kata lain, panik yang dideritanya terlalu berlebihan. Hal ini lah yang digunakan oleh produk pelangsing LA Weight Loss itu sebagai “senjata” untuk memperoleh keuntungan yang lebih. Dikatakan, dalam iklan promosinya di televisi nasional Amerika, biaya yang harus dikeluarkan seseorang untuk mendapatkan produk itu setara dengan USD $7 per minggu selama satu tahun. Namun apa yang terjadi cukup mengejutkan. Pihak produk pelangsing itu dalam prakteknya juga secara persuasif menjual produk pendukung lainnya yang harganya jauh lebih mahal. Dan para konsumer yakin untuk membelinya karena rasa “panik” akan berat badan mereka. Perlu diketahui, bahwa pihak produk pelangsing itu menjual produknya melalui salesman/woman yang sama sekali bukan konsultan diet dan juga tidak mengetahui tentang takaran makanan yang sehat. Para sales ini hanya diberikan ”mantra” yang bunyinya ”If They Cry, They Buy”. Artinya para salesman/woman ini akan bermain dengan emosi calon konsumen dengan kata2 yang dalam. Mereka tidak diajarkan mengenai komposisi produk, pelatihan mengenai kegunaan produk dan segala macamnya. Mereka hanya diajarkan bagaimana cara meningkatkan penjualan dan bagaimana agar konsumen yakin untuk membeli produk mereka. Benar-benar cara penjualan yang curang. Anda bayangkan, salesman/woman itu tak segan segan mengatakan “Ayo kita lihat apa kau sanggup melihat penderitaanmu karena berat badanmu ini…” kepada seorang wanita yang akan menimbang berat badannya. Otomatis wanita itu akan menangis (cry) dan merasa malu jika berat badannya tidak berkurang. Saat seperti inilah si salesman/woman mengeluarkan jurusnya, ”Kecuali anda membeli produk camilan ini, ditambah makanan bergizi ini yang akan meningkatkan metabolisme tubuh anda bla bla bla...”. Mau tak mau, si wanita akan membeli (buy) produk yang disodorkan ini meskipun uang si wanita ini sangat tidak cukup. If they cry, they buy. Liciknya, pihak produk pelangsing ini menawarkan kartu kredit yang bisa digunakan sebagai alat pembayaran yang ”mencekik”. Dan coba tebak, si wanita ini tidak sadar bahwa dia sudah mengeluarkan USD $ 3100 lebih hanya untuk produk ini ditambah lagi dengan hutang kartu kredit ”lintah darat” yang diberikan pihak produk pelangsing dimana bunganya 22% per tahun (ingat sebelumnya bahwa iklan mengatakan bahwa untuk langsing konsumen mengeluarkan biaya USD $7 per minggu selama setahun). Sedihnya, berat badan si wanita justru semakin bertambah 6 kg. Dengan kata lain, USD $3100 for nothing. Si wanita merasa dia telah mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak akan dia dapatkan. Apakah anda (baca:kita) juga masih percaya akan trik trik penjualan seperti ini. Apakah anda (baca:kita) masih percaya akan mendapat kapal pesiar ataupun pesawat jet ataupun mercy dari kebohongan penjualan? Untung saya dari awal tidak pernah terjebak...

Jumat, 28 Maret 2008

CONECTION

Saya hari ini (28/03/08) dalam keadaan yang sangat malas untuk beraktifitas dan lebih memilih untuk menonton TV. Saya memilih sebuah acara di METRO TV yang berjudul “2020”. Saya tahu acara ini, tapi ada sesuatu yang beda dari acara ini. Sepertinya konsepnya berbeda dengan apa yang saya pernah lihat. Dengan tema “CONECTION”, konsep acara ini pada hari ini adalah berusaha menghubungkan satu orang (A) dengan orang lain (B) yang bahkan mereka belum pernah saling bertemu sebelumnya dan tidak mengetahui informasi apapun tentang orang tersebut.
Awalnya A (Ibu rumah tangga) melihat B (petinju) hanya dari foto yang ditunjukkan oleh si pembawa acara. Ini mengenai bagaimana caranya mereka bisa saling bertemu padahal mereka tidak saling kenal. A kemudian menghubungi A1 yang tidak lain merupakan temannya. A1 mengenalkan A kepada A2 yang mengerti dunia tinju.. A2 mengenalkan A kepada A3 (seorang supplier barang mewah) yang mengenal A4 (pria 80an tahun yang merupakan seorang juara tinju pada masanya). Dengan mengenal A4, A akhirnya bisa bertemu dan mengenal B. Pertemuan A dan B diisi dengan saling bertukar kado, bercerita tentang kehidupan masing-masing dimana mereka adalah sama sama anak yatim. B menyambut A dengan sangat ramah.
Tantangan selanjutnya adalah, B ditantang balik. Tantangannya adalah, B harus dapat menemui C (seorang penari Broadway yang terkenal). Sama seperti diatas, B tidak pernah mengenal dan bertemu dengan C dan hanya mengetahuinya dari foto yang diperlihatkan oleh pembawa acara. B kemudian menghubungi B1 (seorang pemilik label parfum terkenal) yang merupakan kakak asuhnya sewaktu kecil. B1 mengenalkan B kepada B2 (seorang pemilik perusahaan majalah). B2 mengenalkan B dengan B3 (seorang pramusaji wanita). B3 mengenalkan B kepada B4 yang merupakan teman dekat C. Akhirnya, dengan mengenal B4, B dapat bertemu dan mengenal C. Pertemuan ini diisi dengan pemberian DVD dari B kepada C. Selain itu, C juga mengajari B sedikit gerakan tari Broadway. Keramahan yang diberikan C kepada B sama baiknya dengan keramahan yang diberikan B kepada A.
Apa yang bisa kita ambil dari cerita diatas adalah, bahwa ada kalanya istilah ”dunia itu sempit” benar. Pernahkah kita membayangkan bahwa seseorang diluar sana yang mungkin adalah orang terkenal dapat pula menjadi teman kita karena kita memiliki koneksi. Bayangkan bagaimana A yang hanya ibu rumah tangga dapat menjadi teman bagi B yang merupakan petinju. Bagaimana B yang seorang petinju dapat menjadi teman bagi C yang merupakan penari Broadway yang terkenal. Bagaimana A bisa mengenal orang-orang terkenal dalam tahapan mencari B. Begitu juga dengan B pada tahapan mencari C.
Selain itu, first impression sangatlah penting bagi seseorang yang baru kita kenal. Contohnya sewaktu B meminta bantuan B3 (pramusaji wanita) yang pada saat itu sedang dalam shift kerja. B berkata kepada B3, ”Bisakah anda mengenalkan saya kepada seseorang yang mengenal C? Ini foto C, dia sangat cantik seperti anda.”. Cara yang diambil B sangatlah luar biasa. Dia memuji B3 secara tidak langsung untuk mengambil hatinya dan alhasil B3 dengan senang hati meninggalkan shift kerjanya untuk membantu B menemui kenalannya.
Itu merupakan first impression yang bisa kita lakukan jika posisi kita sebagai B. Berusahalah menarik hati seseorang dengan cara-cara yang membuat seseorang senang. Dengan cara itu, kehadiran kita yang mungkin pada awalnya merupakan gangguan bagi dia dapat berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Kemudian bagaimana jika posisi kita sebagai C? Kita juga jangan sombong apabila posisi kita sebagai orang yang dibutuhkan ataupun dicari. Kita harus dapat mengahargai orang yang berjuang dan berusaha menemui kita. Contohnya sewaktu C menerima 2 DVD film dari B. Dengan memasang muka bahagia C berkata, ” Luar biasa, ini adalah film yang sangat bagus dan merupakan film favoritku.”. Kalau kita pikirkan, tidaklah mungkin B yang sama sekali tidak mengenal C dan tidak tau apa-apa tentang C bisa memberikan DVD yang sangat disukai oleh C. Ini pasti cara C membuat B merasa dihargai kerja kerasnya. Ada kalanya kita ”mendramatisir” keadaan untuk membuat orang ikut bahagia dan merasa dihargai. Dengan menunjukkan rasa senang akan sesuatu yang diberikan oleh orang lain (dalam taraf wajar tentunya), kita telah menciptakan first impression yang baik kepada orang lain baik orang yang baru kita kenal maupun our old pal. Dengan demikian, pembentukan ”CONECTION” ke tahap selanjutnya akan menjadi sangat mudah.
Saya mulai berfikir, besar kemungkinan saya bisa mengenal seorang CEO yang bisa memberikan saya posisi di perusahaannya kelak. Mungkin dengan cara mengenal anda dan mulai membentuk ”CONECTION” dan memberikan first impression yang baik...

Sabtu, 30 Desember 2006

Berfikir Tentang Saya di Masa Depan



Apa yang difikirkan oleh saya di masa depan?Ternyata banyak yang memikirkan bahwa seorang saya bukan manusia serius, bukan manusia yang memikirkan hidup, hanya bisa tertawa, menghina, memaki, merendahkan atau malahan sebaliknya...maksudku ditertawakan, dihina, dimaki dan direndahkan. Delapan belas tahun sudah hidup ini tapi saya sudah lupa berapa tahun saya remaja. Jauh sebenarnya dalam kepala saya bukan tentang bagaimana menghadapi masa remaja saya, bagaimana tentang saya bisa diterima oleh mereka yang saya inginkan menjadi teman...atau bagaimana tentang mempunyai predikat ”anda pasti mengenal saya”. Semua itu memang ada dipikiran saya, tapi cuma 1 milimeter dari kulit terluar otak saya. Tapi di intinya saya sangat memikirkan tentang bagaimana saya harus mempertanggungjawabkan hidup saya di depan orangtua saya.
Seorang saya bukan terlahir sebagai saya yang pintar meskipun seorang saya tidak menolak kalau sedikit banyak saya tahu...
Seorang saya bukan terlahir sebagai saya yang punya kepribadian yang patut dibanggakan meskipun seorang saya tidak menolak kalau saya bisa membuat anda mengeluarkan kata”bangga” atas kepribadian saya..
Tapi seorang saya sangat tidak bisa memprediksi jadi apakah seorang saya dimata orangtua saya... Saya belum 100% memikirkan kalau saya juga akan mempunyai kehidupan yang akan saya tanggung sendiri.Seorang pria yang pasti akan menduduki posisi teratas di sebuah rumah yang akan saya dirikan untuk istri dan anak-anak saya. Saya juga ingin orangtua saya ikut....sebenarnya...
Coba saya ingat apa saja yang sudah saya hasilkan untuk orangtua saya...hmm...uang? belum...prestasi? segelintir...apa lagi? sudah,itu saja ternyata...
Kadang kalau saya sedang memikirkan hal ini, tangan saya pasti mengacak rambut berantakan diatas kepala saya karena saya merasa atau tepatnya memang belum menjadi apa-apa untuk mereka. Padahal 18 tahun saya hidup, sudah lebih dari 18 kali saya mendengar betapa besarnya harapan orangtua saya tentang saya di masa depan... saya pun meng”amin”inya...tapi tidak meng”iman”inya, maksudnya, saya belum serius menjawab harapan-harapan itu...
Memang masa depan itu belum datang. Seorang saya sedang duduk di bangku kuliah menanti gelar sarjana sebagai password untuk harapan-harapan orangtua saya.
Tapi saya juga pernah memikirkan menjadi seorang yang sukses dengan kehidupan yang tidak susah, mendirikan usaha yang mendukung kehidupan saya, memiliki kehidupan yang selalu memuji Tuhan saya, mempunyai istri yang bertanggung jawab, anak-anak yang berhasil, dan semua ini akan saya rangkum dalam sebuah bungkusan berpita yang saya letakkan didepan mata orangtua saya sewaktu mereka bangun pagi di masa depan saya. Saya membayangkan betapa sempurnanya melihat orangtua saya menangis sampai tak terbendung lagi sewaktu ini semua terjadi di masa depan saya. Melihat mereka berdua berpelukan, dan mengatakan kalau mereka tidak sia-sia telah mempunyai seorang saya. Tentunya kata-kata ini seharusnya diluar pendengaran saya.
Coba saya bayangkan, saat itu di masa depan, mama saya akhirnya berdiri di depan saya, memeluk saya dengan kaki jinjit karena saya lebih tinggi. Saya harus menundukkan kepala saya supaya mama saya bisa mencium kening saya sambil memegang belakang kepala saya dan membisikkan bahwa dia bangga kalau anak ketiganya adalah saya.
Coba saya lanjutkan lagi, saat itu papa saya juga menghampiri saya yang masih dipelukan mama saya, juga membuat saya agak menunduk karena saya juga lebih tinggi darinya. Dia menempelkan kepalanya (yang mungkin di masa depan sudah beruban atau mungkin tidak berambut lagi). Mata saya tepat didepan mata papa saya dan telinga saya dengan senang mendengar perkataan papa saya yang mengatakan kalau hidupnya sudah tidak mempunyai beban lagi karena dia sudah melihat saya sebagai saya yang diharapkannya...Bangganya saya...
saya lanjutkan lagi, saya pamerkan pada istri saya kalau saya sudah menjadi seseorang buat orangtua saya dan saya menawarkan untuk menemaninya melakukan hal yang sama pada orangtuanya...mertua saya...
Sedikit lagi, saya memegang tangan anak saya (atau mungkin anak-anak saya) dan mengatakan bahwa dia (atau mereka) harus minimal seperti saya...seperti saya pada orangtua saya...dan akhirnya kami semua tertawa dengan mata yang terus basah...
Itulah apa yang saya namakan ”Berfikir tentang saya di masa depan”. Apa lagi yang lebih indah dari itu? Tunggu sampai suatu saat saya diberi satu harapan...pasti semua ini akan saya bacakan ulang sebagai satu harapan saya....di masa depan...AMIN...