Selasa, 24 Maret 2009

PS : You owe us story about your new home...HEAVEN



So let’s get this note started…it all about my grandfather this time. It’s not information because you don’t even need it. But for me, it is a story. Today (03/24/09) was a mourning day or maybe the opening of mourning week for my family. My grandpa passed away that day… I can tell you exactly what I felt. It’s just like my head was gyrating but tears won’t shed. Underline it.
Okay, touch those memories. This grandpa of mine is a very educated person. No wonder he wants us to be well educated. I can still remember how often he came to our home when I was a child. You don’t even have any idea that your future has been planned. For me, it’s a great plan. Back to the past, when he came to our home, he always found him a comfort seat next to me and my bro’s bed. There he goes, a very great story telling with passion. No, the story had never been about what so called “lullaby for your better sleep time”, believe it or not, he told us about politic and the next time was about wisdom. Yeah, I call them wisdom because wise stories are never be disappointed for teens like me and my siblings and it works today. Trust me.
Surely, the first time we know story about Soeharto’s regime,it wasn’t from school. We got it from our grandpa. He never brings us through his mind about his opinion about something. He just gave us the view and whatever our opinions, they’re excused as long as we have reason(s) to be right. So wise huh…
I remember something. That day, there was sadness on his face. I didn’t see it, I just sure about it. Because I made that face. As this note told you, my grandpa is very educated; he wants it for his lineage. So when I was watching Karate Kids –which is my favorite movie that time, he asked me to change the channel and found him a news channel. I was about nine or ten and news wasn’t my prior. I was so angry and told him that he can’t force me to watch that news in the place of my favorite movie. Even that television isn’t yours. God, I was so rude and unforgivable… For sure, he wasn’t forcing me to watch the news. He just tried to make me fond of it. I knew that he was disappointed by me but he never show it until my dad told me that I did something I shouldn’t. Let me be titled “Impolite and Guilty” in one package.
Life is so unpredictable. About eight months ago. He’s still there for my bro’s graduation. He wasn’t as healthy as ten years ago. He didn’t use the wheel chair because there’s nothing wrong with his foot. It just he didn’t have much strength for a long walk that one of us walks beside him as emergency for his sudden need and it didn’t cause any fuse. We never imagine, eight months latter, he’ll leave us. That day, I told him that it’s my pleasure if he can attend my graduation when the time is come. The invitation has answered now…he won’t be there though he want to…
Last night (03/23/2009) my mom phoned me. She said that my grandpa’s health is drop. This wasn’t the first time. But this time is sign. My mom suggested me to talk with him. I can hear his voice. I told him that I pray a heal, and he asked me about my study here. “To Mom, please.”, I said and he gave it to mom. I told mom that I shouldn’t have any conversation with grandpa because he sounds exhausted. This morning (03/24/2009) my lil bro texted me that grandpa is dyeing and unconscious. Let’s hope for the best he said. I was cared free because my grandpa passed through this one time… but I hope for the best. I turned my cell phone to silent mode because I’ll be in class. After class, there’s message. It’s my lil bro. My grandpa didn’t make it. I just don’t know what to say…but it’s fixed. He leaves us not for a while…but forever…
My grandpa gives us a message says “My grandchildren are good fellow, I’m sure that no matter where I am even if I die, I’ll always in their head forever…” Yes grandpa…you’ll always in our head forever. We pray for a best space there beside Jesus and hope you thousand times happiness… we didn’t grow slipping through your finger. We grow by your lessons and your wisdom. Tomorrow will never be the same cause there’s no you anymore… with this situation, we’ll learn something. Your death wasn’t mean that you leave us, it’s for an everlasting memories we won’t forget. We love you. Always have. Always will.

PS : You owe us story about your new home...HEAVEN

Comment(s) via Facebook.com



Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:38pm March 24
my tears fell for your grandpa too haga.
smile :)
i am sure some years ago he thought you to be strong. to thank God for what's given to you. good or bad. it depends on how we see it.
i am always ready to be a doll or clown or whatsoever.. you can make funny of me this time ga. and for ESPECIALLY for your grandpa, i'm ready not saying "diem deh elo ga" for one day. hahaha.
love you hagansos!

Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:40pm March 24
hahhaa bego gw. harusnya taught. hahahahahaa bego abis.

Raras Cynanthia at 6:44am March 25
a very touchable story about a very loveable grandpa. :)

Haga Ade Wiguna at 10:15am March 25
it's all wrapped...

Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:56am March 25
Haga.
Gw udah di rumah sakit ni. Eyang di icu.. Ugh. Hard to believe.

Sabtu, 14 Februari 2009

Pengaruh Lingkungan Terhadap Keputusan Managerial


Dalam suatu manajemen perusahaan, pastilah diperlukan suatu keputusan yang tepat demi kegiatan operasional perusahaan yang diharapkan. Dalam mengambil sebuah keputusan, manager juga harus mempertimbangkan faktor lingkungan sekitar perusahaan agar tercapai keputusan yang diharapkan dan tidak merugikan pihak manapun baik dari pihak internal perusahaan maupun pihak eksternal perusahaan. Faktor lingkungan ini dibagi dalam berbagai kategori antara lain tenaga kerja dengan latar belakang yang berbeda baik dari segi ekonomi, ethnic, usia dan juga dari segi-segi lainnya. Suatu cara melaksanakan keputusan merupakan seleksi dari beberapa alternatif, yang dapat menghasilkan alokasi dari uang, personil, waktu dan lain sebagainya. Dalam hal ini, bisa terjadi keputusan yang baik, didasarkan atas pemikiran logis, dimana hasilnya bisa baik juga.
Untuk memberikan pengertian yang lebih luas yang menyangkut proses suatu keputusan, pengklasifikasian keputusan-keputusan dapat dibagi dalam dua hal yaitu keputusan yang bisa direncanakan dan yang tidak bisa direncanakan. Keputusan yang direncanakan merupakan pengulangan dan rutin, mempunyai prosedur yang sudah ditentukan dan tidak memerlukan banyak cerita lagi didalam pendekatanya, bila terjadi suatu masalah.
Keputusan-keputusan manager juga dapat dibagi didalam tingkatan yang logis dan yang tidak logis. Melaksanakan suatu keputusan secara logis memerlukan berfikir secara sadar, waspada dan didasarkan atas akal. Proses dapat dikemukakan dengan kata-kata verbal dan simbol-simbol lain. Sedangkan yang tidak logis, tidak mungkin untuk dikemukakan melalui kata-kata verbal atau sebagai suatu akal dan hanya dapat dikemukakan melalui pengaplikasiannya itu sendiri. Seorang manager merasakan hal ini karena proses cara memutuskan itu merupakan hal keadaan antara sadar dan tidak sadar.
Berdasarkan pembagian keputusan-keputusan tersebut, maka pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita adalah kapankah suatu cara dari sekian cara tersebut dapat dipergunakan? Jawabannya adalah, tergantung dari berbagai faktor luar yang mempengaruhi perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor eksternal itu antara lain adalah faktor lingkungan. Dalam hal ini kita mengkaitkan dengan hal etikal sebuah perusahaan. Dalam mengambil sebuah keputusan, pertimbangan etika yang kuat haruslah dilakukan sehingga masyarakat mendapatkan kesempatan untuk diperlakukan secara adil dan sejahtera sehingga keputusan yang diambil oleh seorang manager tidak bersifat melawan hukum. Dalam mengambil keputusan yang memperhatikan faktor-faktor luar, tidak jarang dapat mempengaruhi keefektifan perusahaan. Hal ini secara sadar dapat meningkatkan keuntungan kompetitif. Salah satu contoh keputusan yang dapat dilakukan seorang manager dengan memperhatikan faktor lingkungan yang memiliki masyarakat kaum minoritas adalah dengan menawarkan kuota lowongan kerja kepada mereka yang berpotensi diantara kaum minoritas tersebut. Tentunya perbedaan ini seharusnya tidak turut menjadikan upah/gaji yang diterima berbeda dengan mereka yang mayoritas pada level tingkatan kerja yang sama sehingga akhirnya kredibilitas perusahaan dapat terlihat. Tentunya hal ini menguntungkan kedua belah pihak baik dari perusahaan itu sendiri maupun dari pihak masyarakat.
Faktor lingkungan lain (dalam hal ini tenaga kerja) yang juga berhubungan secara tidak langsung antara lain adalah dari segi suku, usia dan hal lainnya. Keputusan manager dalam perekrutan tenaga kerja dari latar belakang yang berbeda sebenarnya memang mendatangkan keuntungan yang cukup bermanfaat bagi perusahaan. Keuntungan-keuntungan yang didapat oleh perusahaan antara lain dari segi cost. Dalam hal ini perusahaan tidak harus mengeluarkan dana yang lebih banyak untuk melakukan sejumlah survey karena orang-orang yang ada didalam perusahaan tersebut terdiri dari sudut pandang yang berbeda-beda. Hal ini juga akan berhubungan dengan decision making advantage.
Materi yang digunakan dalam suatu keputusan dapat diklasifikasikan sebagai data yang tepat, data dengan kualitas rendah atau mempunyai keterbatasan, validasi yang tidak dapat diandalkan, mengenai mutu dan lain sebagainya. Kemudian informasi yang sifatnya spekulatif yang tak ada hubungan dengan ukuran matematis atau dapat dikatakan banyak kemungkinan berubah, data yang banyak tidak ada kepastian, sulit untuk dijadikan ketentuan. Manager dalam memutuskan sesuatu, telah belajar untuk selalu menggantungkan diri pada fakta dan logika, tetapi ternyata data-data yang digunakan untuk membuat keputusan tidak mempunyai sangkutan pada proses yang logika. Bahwa banyak keputusan-keputusan tidak didasarkan pada pendekatan logika, tapi banyak atas pendekatan emosional. Orang justru curiga pada keputusan yang ditimbulkan oleh seseorang yang sifatnya individualistis. Jadi, oleh karena itu para pelaksana keputusan selalu akan berusaha supaya sesuatu terlihat obyektif.
Sebab itulah seorang manager memerlukan bantuan dari lingkungan perusahaan untuk ditempatkan/diadopsi sebagai bantuan dalam pembentukan keputusan managerial. Bahwa pengaruh lingkungan terhadap keputusan managerial bisa jadi sangat besar dimana lingkungan dapat memberikan kontribusi dalam bentuk data fisik maupun tenaga kerja yang akhirnya dijadikan sebagai salah satu sumber yang dapat membantu seorang manager dalam menentukan keputusan yang akan dibuatnya. Faktor lingkungan yang mempengaruhi perusahaan dalam hal ini mendatangkan keuntungan bagi kedua pihak yaitu pihak internal perusahaan itu sendiri maupun pihak luar.

Kamis, 29 Januari 2009

KONTROVERSI FATWA HARAM GOLPUT



Seperti yang telah saya sampaikan dalam note saya sebelum ini, dimana saya menulis bahwa MUI menetapkan bahwa Golput (Golongan Putih) adalah haram. Saya akhirnya mengetahui alasan yang melatarbelakangi pihak MUI mengkategorikan Golput sebagai sesuatu yang haram. MUI memberikan alasan sebagai berikut :
  1. Dalam Hukum Islam, adalah wajib hukumnya untuk menegakkan kepemimpinan Nasional. Dalam kasus ini, Indonesia menegakkan kepemimpinan Nasional melalui Pemilu (Pemilihan Umum). Oleh sebab itu, mengikuti Pemilu wajib hukumnya.

  2. Perkembangan Golput adalah sesuatu yang membahayakan karena adanya tendensi kepemimpinan yang akan tidak terlegitimasi. Oleh sebab itu, untuk menghindari “tidak terlegitimasi” ini maka diwajibkan untuk mengikuti Pemilu dengan mengharamkan Golput.

Kemarin saya menyaksikan Debat TV One yang berjudul sama dengan note ini (tepatnya note ini berjudul sama dengan Debat TV One) dimana dihadirkan pihak-pihak pro Fatwa terkait dan juga pihak-pihak kontra Fatwa terkait. Pihak kontra yang diwakilkan oleh Tanfidziyah MMI mengatakan bahwa Pemilu itu merupakan produk revolusi sekuler dimana ada kebebasan untuk memilih atau tidak. Saya juga sangat setuju mengapa ada pihak yang membatasi kebebasan seseorang untuk memilih atau tidak. Saya juga sebenarnya agak tertanya mengapa diharamkan? Perlukah kita menjadi pihak yang ikut serta dalam legitimasi sebuah kepemimpinan yang menurut kita sama sekali tidak ideal? Pihak kontra fatwa bertanya pada pihak pro fatwa apakah yakin dengan wajib mengikuti Pemilu akan mendapatkan kepemimpinan yang ideal? Pihak pro fatwa MUI mengatakan bahwa mengenai ideal atau tidak idealnya suatu kepemimpinan ada dalam Hadits yang mengatakan bahwa di dalam kepemimpinan pasti ada pemimpin yang baik dan tidak baik. Namun selagi pemimpin tersebut masih Sholat, maka pemimpin tersebut tidak bisa dilengserkan. Jujur saya kurang mengerti.
Pihak Tanfidziyah MMI sangat menyayangkan keputusan MUI dimana menurut mereka (dan menurut saya), Indonesia bukan negara agama sehingga MUI tidak memiliki alasan untuk mengkaitkan dan mempergunakan perangkat agama untuk menakut-nakuti pemilih. Benar, menakut-nakuti pemilih. Takut berbuat dosa karena melakukan sesuatu yang diharamkan jika menjadi Golput. Saya jujur lebih memihak pada sisi kontra fatwa tersebut karena memang menurut saya ini adalah sebuah pembatasan hak seseorang dalam memilih. Seperti yang dikatakan oleh Tanfidziyah MMI, mengapa MUI sangat terkesan repot menetapkan Golput sebagai sesuatu yang haram? Mengapa tidak merancang apa saja yang haram jika dilakukan oleh seorang pemimpin? Pihak MUI tetap mengatakan bahwa untuk menegakkan kepemimpinan Nasional adalah sebuah kewajiban yaitu dengan Pemilu dan bagi para calon pemimpin juga disarankan untuk melakukan tugas sesuai amanah. Saya menggaris bawahi kata ”disarankan” dalam pikiran saya. Mengapa para calon pemimpin hanya disarankan? Mengapa rakyat tidak disarankan mengikuti Pemilu? Mengapa harus diwajibkan? Bahkan diharamkan jika tidak mengikuti Pemilu. Ada juga sesuatu yang mengganjal, bukankah Konstitusi di Indonesia memberikan hak bagi masyarakat untuk memilih dan tidak memilih meskipun disarankan untuk memilih? Sah-sah saja jika seseorang memilih menjadi Golput. Yang tidak boleh adalah mengajak, memboyong, menghasut orang supaya menjadi Golput. Sedikit flashback sejarah, Soeharto dan Orde baru tidak akan runtuh kalau tidak ada Golput. Dengan kata lain, Golput dapat digunakan sebagai perlawanan. Lalu yang mana yang harus diikuti? Konstitusi atau Fatwa? Apakah berarti Konstitusi meniadakan Fatwa atau sebaliknya? Tentunya Fatwa haram ini akan menimbulkan Konsekuensi Sosial dimana seseorang akan dianggap melakukan dosa jika tidak ikut Pemilu. Siapkah menjadi orang berdosa dihadapan manusia? Fadjroel Rachman mengatakan bahwa kita harus mempertahankan apa yang telah menjadi hak konstitusionil. Jangan sampai fatwa merampas apa yang telah menjadi hak seseorang. Saya sedikit tertegun mendengarkan perkataan beliau. Menurut Lukman Hakim Saifuddin (PPP), fatwa ini tidak merampas hak karena ada yang dikatakan dengan kaedah Usuliah dimana Pemilu adalah suatu sarana memilih pemimpin sedangkan keberadaan pemimpin adalah wajib sehingga secara otomatis sarana tersebut menjadi wajib. Perkataan ini ditimpali dengan sebuah pendapat yang sangat bijak oleh Fadjroel Rachman yang mengatakan bahwa Republik Indonesia bukan milik Islam saja. Oleh sebab itu semua masyarakat terikat oleh Konstitusi. Apakah berarti fatwa MUI yang mengharamkan Golput itu termasuk Kudeta Konstitusi?
Bagaimanapun, substansi Pemilu itu adalah untuk mengubah negara ke arah yang lebih baik. Untuk mengurangi jumlah Golput itu sebenarnya ada di tangan kandidat. Tanpa fatwa pun, Golput dapat disingkirkan asalkan Kandidat pemimpin dapat meyakinkan pemilih. Maka sangat pendek pikiran seseorang yang mengatakan ”Masalah baik tidaknya pemimpin yang terpilih adalah masalah lain. Setidak-tidaknya telah menjadi warga negara yang baik dengan mengikuti Pemilu.”. Sumpah, saya tidak percaya kalau saya mendengar ucapan ”setidak-tidaknya”. Belakangan saya mendengar kabar bahwa ada pihak yang mengharamkan Pemilu karena dianggap sebagai produk revolusi sekuler...Ada lagi???

Comment(s) via Facebook.com



Haga Ade Wiguna at 2:34pm January 29
Hot News : Ada tendensi bahwa MUI mengeluarkan fatwa Haram Golput karena kabarnya MUI didatangi oleh para "calon orang nomor 1 di Indonesia" maupun tim suksesnya. Kalau Golput diharamkan dampaknya adalah para pemilih yang beragama Muslim akan meninggalkan Golput. Indonesia mayoritas beragama Islam. Jumlah suara yang sangat banyak tentunya. Adakah informasi untuk saya mengenai ini? Trims.

Alvin Adisasmita at 7:11am January 30
Ah, saya jadi geli aku lihat tulisan ini. Bukan karena tulisanmu. Bukan. Tapi lebih kepada kenapa orang-orang sibuk untuk mempermasalahkan hal seperti ini.
Sebenarnya ini bukan permasalah yang dalam. Hal itu bisa ditilik dari berbagai hal. Pertama, Fatwa apapun yang dikeluarkan MUI bukan bersifat obligatory. Dalam artian, Fatwa tidak bisa mengikat umat muslim Indonesia untuk harus mematuhi fatwa tersebut. Terkadang masyarakat salah mengerti mengenai nilai keterikatan fatwa. Kedua, jika dikatakan fatwa itu wajib, maka kewajiban itu hanya dibebankan pada pemberi fatwa tersebut. Untuk umat muslim di Indonesia hanyalah bersifat anjuran yang berdasarkan analisis dan pertimbangan secara hati-hati dari scholars yang telah mendapatkan pendidikan secara bertahap. Bahasa kerennya, "para theologis". Ketiga, fatwa tidak seharusnya mempengaruhi selain umat Islam. Fatwa hanya digunakan untuk memperjelas sesuatu yang berada pada daerah abu-abu pada hukum Islam. Seperti rokok. [cont.]

Alvin Adisasmita at 7:17am January 30
Al-Qur'an dan Al-Hadist merupakan panduan hukum (fiqh) bagi umat Islam. MUI merupakan golongan scholars yang berusaha memperjelas apa yang berada pada daerah abu-abu. Logikanya, tidak semua yang ada sekarang sudah ada pada jaman dahulu, seperti rokok. Saya bukan ahli agama, tapi sesuatu hal menurut saya PASTI dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadist. Meskipun itu tersirat. Seperti Teori Big Bang yang sudah lama dijelaskan didalam Al-Qur'an. Jadi saya tidak berani memutuskan apakah rokok dan golput itu benar-benar haram atau tidak. Perlu kalian tahu, bahwa sleain haram, terdapat status seperti "Makruh" dan "Mubah". Penjelasan lebih lengkap mengenai kedua term itu bisa dilihat di internet. Singkat kata, hukum Islam hanya wajib ditaati umat Islam.

Alvin Adisasmita at 7:21am January 30
Maka selain Muslim tidak seharusnya mengambil pusing mengenai Fatwa. O iya sekali lagi saya ingatkan, fatwa bukan terus serta merta masuk ke bagian hukum Islam.

Maafkan kalau ada yang menyinggung. Sekali lagi ini bukan cerminan pernyataan resmi Islam. Ini hanya pembahasan dari sisi yang saya mengerti. Jika ada kekurangan, maka semua itu berasal dari saya. Jika ada benar, maka kebenaran itu berasal dari Tuhan. Semoga dapat memberikan sedikit pencerahan.

Alvin terbuka untuk diskusi lebih lanjut pada lingkup yang terbatas.

Alvin Adisasmita at 7:28am January 30
Oiya satu lagi. Apapun keputusan MUI. Baik dipengaruhi apapun tidak menjadi permasalahan. Islam mengajarkan dua hal penting. Hablum Minallah, yaitu hubungan manusia dengan Allah SWT. Juga Hablum Minannas, yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia.

Untuk pribadi saya. Saya termasuk orang yang mengacuhkan masalah-masalah seperti ini hingga saya menemukan hal yang kuat untuk mempercayainya. Karena saya percaya bahwa agama merupakan hubungan manusia dengan Tuhan. hablum minannas menurut pengertian saya sebatas bagaimana kita memperlakukan manusia sesamanya. Jadi ga ngurus mau kebijakan MUI itu dipengaruhi apapun.

Sekian dulu

Haga Ade Wiguna at 3:51pm January 30
Saya mengetahui kalau fatwa ini hanya untk muslim. Saya hanya menanggapi dlm predikat saya sbg publik. Bukankan masalah ini adalah konsumsi publik krn disiarkan di media publik.
Hak mas Alvin kok kalau gak ngurus mau kebijakan MUI it dipengaruhi siapapun. Sama seperti hak Tanfidziyah MMI dan Fadjroel Rachman untk mau mengurusi permasalahan ini. Selain itu, saya menulis note ini bkn untk tujuan negatif, ini semata2 karena hal ini menimbulkan krisis yaitu kontroversi. Tidak ada bedanya note ini dgn pemberitaan media.

Haga Ade Wiguna at 4:05pm January 30
Jujur, saya pun sdh lama mengetahui Hablum Minallah dan Hablum minannas dan saya sgt menjunjung tinggi hal itu :)
Ini sbnrny bkn mengenai mengambil pusing mengenai Muslim atau tdk melainkan krn saya merasa terinstitusi. Kalau kita bersikap skeptis, maka demonstrasi melawan kebijakan luar negeri AS berkaitan Israel-Palestine yg dilakukan oleh negara2 lain juga pada akhirnya bisa dikategorikan sbg "ikut campur". Seperti itu alasan saya. Saya jg akan berterima kasih kalau saya diingatkan jika saya scr tdk sengaja menyentuh ranah yg tdk shrusnya saya sentuh. Menurut saya sampai saat ini semuanya masih normal. Thx.

Haga Ade Wiguna at 4:08pm January 30
YLBHI : Masyarakat jangan terikat fatwa haram Golput.

Dominiria Hulu at 5:38pm February 5
hem...
orang mo milih ato ga itu terserah (menurutku)
kita ne negara demokrasi.. jadi g musti di'iket mulu ma ketentuan...
lama2 kita g ngenal apa yg jad hak dan kewajiban kita qlo diatur mulu...
nah qlo baik okelah.. nah qlo ujung2na bt sara atau sejenisnya kan barabe...
jadi sesiapapun yg mo berpartisipasi bt pemilu nt, biarkan itu dr hati nuraninya... ntar yg nyesel kan dianya (mgp golput or mengapa memilih figur yg nguber janji doank...).. peace yak-.-

Rabu, 28 Januari 2009

FATWA-FATWA MUI (?)


Beberapa hari yang lalu saya mengetahui dari berita di televisi bahwa MUI menyatakan bahwa rokok dikatakan haram. Pernyataan haram ini dibatasi dengan catatan tertentu. Batasan bahwa merokok itu adalah haram jika (1) di depan umum ; (2) dilakukan oleh anak dan remaja ; (3) dilakukan oleh Ibu hamil. Selain batasan-batasan tadi, merokok dianggap sebagai perbuatan yang tercela. Saya mengetahui bahwa merokok itu mengganggu kesehatan dan banyak dampak negatif yang dapat ditimbulkan dan di beberapa negara maju (atau juga lebih berkembang dari Indonesia) sudah sejak lama melarang merokok di kawasan umum. Lihat saja di Singapura yang bahkan untuk mengunyah permen karet di tempat umum bisa dikenai denda. Kembali ke Fatwa MUI tersebut, ternyata kalau kita menilik dan membandingkan dua sisi antara MUI dan Pemerintah, terdapat kontradiksi antar kedua sisi ini. Lihat saja pemerintah yang meskipun menyetujui melarang merokok di depan umum (Perda DKI Jakarta misalnya), tetap menyediakan fasilitas smoking area di beberapa spot bahkan menyarankan agar menyediakan smoking room bagi gedung-gedung perkantoran. Tentunya ini bertentangan dengan MUI yang secara tegas menyatakan rokok itu haram (dan tercela). Saya sebagai orang awam sebenarnya bingung membandingkan haram dan tercela bagaimana. Dalam pandangan saya yang tercela itu haram dan yang haram itu tercela. Atau dengan kata lain, yang haram dan yang tercela harus tidak dilakukan. Berarti seharusnya haramnya rokok tanpa batasan-batasan diatas bukan? Kalau dinyatakan sebagai haram, bukankah berarti rokok disandingkan sejajar dengan (maaf) babi? Wanita berusia 12 tahun yang baru-baru dinikahi oleh seorang syekh itu termasuk anak-anak,remaja atau seorang Ibu yang tidak hamil? Haramkah kalau wanita 12 tahun ini ingin merokok? atau tercela? Haram menurut MUI apakah haram menurut Pemerintah? Saya tahu bahwa Pemerintah sudah terikat dengan Perusahaan Rokok. Saya tahu bahwa Perusahaan Rokok menyumbang jumlah yang sangat besar bagi Negara ini.
Hari ini saya kembali menonton berita dan mendengar bahwa ada Fatwa lain dari MUI yang menyatakan bahwa Golput (Golongan Putih) diharamkan. Menurut pendapatnya, tidak memberikan suara dalam memilih pemimpin adalah sesuatu yang haram. Tentunya pernyataan MUI ini mendapat tanggapan yang beragam dari elemen-elemen masyarakat. Saya mendengar tanggapan dari salah satu anggota DPR yang mengatakan bahwa sebaiknya MUI tidak secara kilat menyatakan haram atau tidak haramnya sesuatu. Beliau juga mengatakan bahwa dia adalah pengikut Nadhatul Ulamah (NU) dimana NU tidak mengaharamkan Golput melainkan menganggap Golput sebagai perbuatan tidak bertanggung jawab. Menurut saya Golput itu wajar-wajar saja. Ini jaman demokrasi dimana semua orang memiliki pilihan dalam berpendapat. Menurut saya Golput itu adalah sebuah pendapat. Pendapat untuk tidak memilih siapapun. Bukankah saya mempunyai hak untuk itu? Dalam memilih pemimpin, apakah saya harus memilih jika diantara para kandidat tidak ada yang sesuai dengan apa yang memenuhi sosok seorang pemimpin? Analoginya, mana yang saya pilih, Bapak mati atau Ibu mati? Haruskah saya memilih salah satunya jika dengan tidak memilih tidak akan ada satu pun yang mati? Mengenai perbuatan yang tidak bertanggung jawab, saya penasaran apakah yang telah saya lakukan sehingga saya tidak bertanggung jawab. Bukankah dengan memilih menjadi Golput justru merupakan awal tanggung jawab? Tanggung jawab sebagai seorang Golput. Sedikit bertanya karena tidak tau, apakah haramnya NU dan MUI itu berbeda?
Bagaimanapun, saya tetap bisa merokok (kecuali di tempat yang tidak seharusnya) dan menjadi Golput kapan pun, dimanapun saya mau. Kenapa? Saya tahu kenapa...

NB : Silahkan tonton Debat TV One malam ini (28/01/09) pukul 19.30 WIB membahas haram tidaknya Golput.

Comment(s) via Facebook.com



Radhyaksa Ardaya at 1:24pm January 28
mui memang mengharamkan apa yang menurut MEREKA haram.
mungkin suatu saat MUI akan mengharamkan laki-laki dan wanita yang belum menikah/ bukan merupakan keluarga.

Radhyaksa Ardaya at 1:25pm January 28
maksudku,mengharamkan laki-laki dan wanita yang belum menikah/ bukan merupakan keluarga jalan-jalan bersama.

Alvin Adisasmita at 2:40am January 29
satu kalimat:

fatwa bukan ketetapan, hanya panduan, jadi ga perlu dipermasalahkan.

Alvin Adisasmita at 2:46am January 29
http://en.wikipedia.org/wiki/Fatw
jangan yang wikipedia indonesia...

Raras Cynanthia at 7:01am January 29
ah haram atau nggak kan tergantung interpretasi dan sudut pandang, nggak bisa digeneralisasi karena setiap org punya kondisi yang beragam dan mainset yang berbeda.
jadi mendingan kita haramkan apa yg menruut kt haram dan hajar bleh aja sesuatu yg buat kt halal.
kayak buatku, setia itu haram. misalnya.

Raras Cynanthia at 7:03am January 29
one more thing, MUI bukan siapa siapa gue so perkara setan mereka mau ngomong apa, it doesn't give me much influence... haha. biarin aja MUI ngemeng trus... mereka kan memang the best of the best yeah. hajar GA!

Alvin Adisasmita at 7:06am January 29
satu lagi... apapun komen dari siapapun disini ga mewakili umat Islam. titik.

Raras Cynanthia at 7:39am January 29
yup. bener sekali. karena komen di sini adalah filosofi dan pendapat pribadi. bukan komunitas.

Radhyaksa Ardaya at 7:40am January 29
yo.

Haga Ade Wiguna at 1:56pm January 29
Kalian semua adalah oran-orang bijak teman:)
Benar comment2 disini tidak mengatasnamakan Islam. Namun sayangnya MUI mengharamkan sesuatu secara islamiah a.k.a semua orang Islam di indonesia diwajibkan.

Alvin Adisasmita at 2:03pm January 29
ga, ga usah tak tulis yang ketiga kali ya...

tolong baca:
http://en.wikipedia.org/wiki/Fatw
ni bagian pertma biar kamu tertarik baca baru komen lagi:
A fatwā (Arabic: فتوى; plural fatāwā Arabic: فتاوى), in the Islamic faith is a religious opinion on Islamic law issued by an Islamic scholar. In Sunni Islam any fatwa is NON-BINDING, whereas in Shia Islam it could be, depending on the status of the scholar.

Alvin Adisasmita at 2:03pm January 29
read read

Haga Ade Wiguna at 2:05pm January 29
Saya hanya menulis pendapat saya mas...gak dilarang kan?
Untungnya Mas Alvin memberikan jawaban...kalo fatwanya "mengharamkan" gimana mas?Saya hanya ingin tahu dari mereka yang tahu...hehe

Haga Ade Wiguna at 2:09pm January 29
Mas, ga ditemukan.
Tulisannya :Wikipedia does not have an article with this exact name.

Haga Ade Wiguna at 2:11pm January 29
Silahkan buka : http://id.wikipedia.org/wiki/Haram

Alvin Adisasmita at 2:13pm January 29
iya sih ada benernya " Namun sayangnya MUI mengharamkan sesuatu secara islamiah a.k.a semua orang Islam di indonesia diwajibkan." Walopun sah mereka mengeluarkan fatwa...

ya boleh aja sih pendapat. tapi kalo bole akunya juga bole pendapat sih, debat yang di TV seperti memperdebatkan hal yang sudah jelas. setauku ya, sekali lagi setauku dan dari orang2 yang ngasi tau, fatwa tu NON BINDING... jadi sih akunya cueeeekkk... haha...

"masi" cuek tepatnya, menunggu dan membaca dan mendengar dan melihat dan apa ajalah... sambil ngerokok di depan media2 yang tak liat... haha...

Alvin Adisasmita at 2:20pm January 29
iya, soalnya terakhirnya ada a (pake garis atas). mending kamu ketik fatwa di google aja. langsung ketemu.

Alvin Adisasmita at 2:23pm January 29
piye ketemu ora?

dari baca ke baca semakin kebawah bakal semakin nemuin kalo fatwa malh cuma binding ke author-nya...

tulisannya gini:
"There is a binding rule that saves the fatwa pronouncements from creating judicial havoc, whether within a Muslim country or at the level of the Islamic world in general: it is unanimously agreed that a fatwā is only binding on its author."

Alvin Adisasmita at 2:25pm January 29
nah kalo ini mesti kebuka, uda dicoba:
http://en.wikipedia.org/wiki/Fatwa

Haga Ade Wiguna at 2:27pm January 29
thx mas atas informasinya. Semoga fatwa yang akan datang dapat diterima masyarakat dan tidak menjadi "senjata makan tuan" bagi para pembuatnya...

Alvin Adisasmita at 2:37pm January 29
yup yup

Raras Cynanthia at 5:06pm January 29
la la la.

Raras Cynanthia at 5:06pm January 29
KRIK.


Selasa, 30 Desember 2008

Berjalan atau Berlari (?)



Terkadang saat akan melakukan sesuatu, ada desakan dalam hati untuk mengatakan ”nanti saja”, ”besok saja”, ”kapan-kapan saja”, atau apapun yang sejenis. Ada kalanya desakan itu terealisasi dan datang dalam bentuk penyesalan. Kenapa nanti? Kenapa besok? Kenapa kapan-kapan? Mereka bilang kegagalan adalah pembelajaran. Saya tidak mau gagal tapi saya mau belajar. Bahkan pepatah pun berteriak ”jangan tunggu sampai besok apa yang dapat kau kerjakan hari ini”. Saya bisa menyalahkan waktu kalau apa yang dapat saya kerjakan hari ini, saya realisasikan besok. Tapi saya akan menyalahkan diri saya sendiri kalau apa yang seharusnya dapat saya kerjakan besok tidak terealisasi karena besok saya harus mengerjakan yang seharusnya saya kerjakan hari ini. Saya tidak mau bibir dan hati ini berucap, ”Seharusnya saya yang menempati jabatan itu...” atau ” Seharusnya saya yang menjadi pasangan gadis itu...” atau yang paling buruk ”Andai dulu saya lebih serius merencanakan masa depan...”.
Saya tidak ingin merasa sedang menunggu padahal saya sudah tertinggal. Saya tidak ingin merasa menemukan sesuatu yang baru padahal mereka sudah lebih dulu. Mereka menggoyangkan kaki menapaki tanah saat saya menggoyangkan kaki diatas kursi. Saya ingin bertemu dengan si individu yang menyatakan ”waktu terus berjalan”. Kenapa berjalan? Disaat yang lain mengatakan time is running out. Berlari!!! Tidak aneh kalau ”besok saja” dan kawan-kawan sering terucap karena merasa tidak harus mengejar. Tidak aneh kalau ada saat-saat ketinggalan.
Saya ingin menjadi sepasang sepatu bagi waktu yang sedang berlari bukan pemandangan bagi waktu yang ternyata tak pernah berjalan...

Comment(s) via Facebook.com



Yosephin Dewiani at 10:18am December 30, 2008
nyesel emang pasti datengnya belakangan koq...hehm...

Haga Ade Wiguna at 1:48pm December 30, 2008
Ya,biasanya seperti itu.
Saya pgn yang gak biasa.
Penyesalan bisa jd awal buat ketidakgagalan berikutnya...
Thx 4 comment:)

Alvin Adisasmita at 12:55am January 2
...” Seharusnya saya yang menjadi pasangan gadis itu...”

bagian tu menampar muka saya dengan begitu keras bung...
haha...
... Read More
ya tu berarti uda sifat dasarmu menunda-nunda...
kalo belum "kena" beneran brarti belum bakalan berubah...

nah, abis tu tinggal milih, mau nunggu "kena" atau mau berubah dulu?
silikan memilih temanku yang bijak...

cheers!
Alvin

Haga Ade Wiguna at 1:06am January 2
Aku jg pnh tertampar krn menunda2 pada seorang gadis.

haha
mari mulai tidak menunda2 lagi.
*i wish

Paramita Wulandari at 11:14pm May 23
menohok sekali ga

INTERMEZO

Saya masih ingat bagaimana masa-masa kecil saya dan saudara-saudara saya. Semua berjalan sangat indah walaupun kami tidak tahu bagaimana menerbangkan layangan, memainkan kelereng atau semacamnya karena kami tidak merasa tertarik dengan itu. Saya beruntung dibesarkan ditengah keluarga yang hangat. Saudara-saudara yang begitu bersahabat. Kedua orang tua saya adalah penghuni kantor “from ten to five”. Meskipun demikian, saya masih punya “from five to ten” dari sepasang manusia super ini. Jadi, maaf kalau saya tidak pernah merasakan apa yang mereka sebut dengan “korban orangtua workoholic”. Tak berlebihan kalau saya menggunakan kata “beruntung” untuk diri saya sendiri. Begitu cepat waktu berlalu. Saya masih ingat bagaimana reaksi keluarga saya saat pertama kali suara saya berubah menjadi besar sedikit bass. Saya pun sebenarnya bingung saat itu. Pernah saya menemukan kembali celana pendek kecil berwarna biru. Tersenyum kecil, bergumam…ya, saya pernah memakainya dulu sekali sewaktu playgroup jauh sebelum bulu-bulu ini memenuhi paha sampai mata kaki. Banyak hal telah berubah. Rambut ini pernah klimis sewaktu Sekolah Dasar. Sekarang untuk menurunkan rambut yang melawan gravitasi ini saja sulit rasanya. Dulu ketika saya kecil, saya ingin cepat besar. Saya pernah sangat senang saat usia saya melebihi sepuluh, tak terasa itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Meskipun saya tidak ingin kembali menjadi kecil, saya merindukan masa-masa itu. Lihat sekarang, untuk berkumpul bersama sangat susah mencari waktu. Ruang keluarga sudah jarang terisi penuh.
Semakin hari semakin banyak yang saya pelajari. Hidup itu waktu. Rambut yang memenuhi muka akan terus tumbuh meski setiap pagi dicukur. Saya akan meninggalkan dan juga ditinggalkan. Ya Tuhan, hidup itu seperti steak. Sayang ditelan sebelum puas mengunyah meskipun akan kenyang. Saya belum ingin kenyang dengan hidup. Saya masih ingin merasakan kaldu setiap kali mengunyah perjalanan hidup saya. Tidak masalah kalau lidah saya tergigit karena saya akan berhenti sejenak untuk kembali lagi. Ya Tuhan, saya tidak ingin hidup selalu berharap, saya ingin menjadi harapan. Saya takut ”mengecewakan” melebihi takut saya dengan ”dikecewakan”. Saya ingin tersenyum dengan masa depan. Sudah siapkah saya dengan masa depan? Apa dan dimana saya tidak lama lagi? Saya tahu bahwa lelaki dipandang dari pekerjaannya, bukan dari film yang ditontonnya. Jika tiba saatnya, saya ingin memiliki pekerjaan yang terencana kalau memang benar pekerjaan adalah harga diri bagi lelaki. Bahkan jika saya berpendapat bahwa pekerjaan dan harga diri menempati koridor yang berbeda. Saya terkadang bersyukur menjadi pribadi yang memikirkan ini. Saya pun tidak memungkiri kalau saya merindukan masa-masa saya tidak memikirkan ini semua. Masa kecil saya. Tidak berarti saya menolak proses pendewasaan. Ya Tuhan, banyak yang ingin saya utarakan antara kita berdua...

Comment(s) via Facebook.com



Radhyaksa Ardaya at 6:14am December 30, 2008
hiks, haga sangat mengharukan.
besok kutraktir steak de.

Raras Cynanthia at 7:25am December 30, 2008
haga... aku padamu....

Phe Pramanto Hanggoro at 8:18am December 30, 2008
Ga....tidak ikut UAS krn sering bolos tu bs merusak masa depan dan pekerjaan lho

Haga Ade Wiguna at 9:17am December 30, 2008
@caca
emang itu tujuannya,supaya dtrktr steak.hehe

@ayas
aku juga padamu.hoho... Read More

@phe
ikut UAS wekkk.haha

Alvin Adisasmita at 12:52am January 2
Justru bukan menolak ga, yang kamu tulis ki gejala penuaan...

hmmm,,mengenai rambut,, kok semua orang gitu ya?? dulu rambutku lurus banget lo ga... saiki, bahkan untuk bertahan sesuai sisiran awal selama 1 menit sudah jadi keajaiban...

oh, inikah yang dinamakan balada rambut dan steak?

Haga Ade Wiguna at 1:10am January 2
Hahaha
penuaan dini dong mas.

iya,rambutku ga bs turun lg...wkwk
... Read More
rambut dan steak? Jangan pnh mencoba merubah judul note ini !haha

Alvin Adisasmita at 1:13am January 2
haga sudah garing lagi...
lama tidak bertemu dengan teman-temannya di kampus...

sekali ketemu mungkin jadi ceng2an anak2 lagi...
poor haga...

Haga Ade Wiguna at 1:24am January 2
Iya nih, selera humorny drop lagi cz jarang dilatih...
Harus brainstorming lg atau siap2 jd "dia yg dicemooh krn candaan jayusnya"
hahaha
PUAS...PUAS...

Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:32pm January 4
oh haga.
mengikat tali kasutmu pun aku tak layaak.. hahhaha.

Haga Ade Wiguna at 11:36pm January 4
jangan bol...jangan...jangan pernah kata2 itu terucap lagi...
kalo berpisah adalah jalan yang terbaik, aku gak mau yang terbaik...
ingat, langkah kakimu adalah langkah kakiku juga...
*makanya lepasin borgolnya!

Kamis, 27 November 2008

MENYILANGKAN TANGAN SENDIRI DIANTARA KEDUA PAHA SENDIRI

Sebenarnya saya sudah lama memikirkan ini...Gak penting tapi penting...
Tadinya saya pikir hanya saya yang melakukan hal ini, tapi ternyata banyak dan hampir semua pria melakukannya...

Hal yang dimaksud adalah seperti ini:
Sejak dari dulu, saya kalau sedang duduk baik di bangku kelas, di sofa, di jok mobil, dsb terlebih jika ada orang lain di depan saya ketika saya duduk, secara sadar atau tidak sadar 90an% pasti menyilangkan kedua tangan saya di antara kedua paha. Tidak harus menyilangkan tangan, bisa juga lipat tangan di antara kedua paha. Intinya adalah selalu ada tangan di antara kedua paha saya (tangan saya maksudnya..haha). Pengecualian, hal ini tidak saya lakukan jika saya duduk di jok motor saat mengendarai motor (yang nanya kenapa, saya tinju!!!).

Nah, akhirnya saya mengemukakan pikiran saya pada seorang teman. Teman saya pun menyetujuinya. Kemudian kita melakukan pembuktian. Pembuktian yang dimaksud adalah dengan cara menonton televisi dimana bintang tamu pria nya duduk (ada gitu yang berdiri???).

Acara yang kita tonton :
(1) TATAP MATA : Di acara ini terdapat dua bintang tamu pria yang menyilangkan tangan diantara kedua pahanya. Bahkan saat si bintang tamu berdiri dan duduk lagi, secara tidak sadar tangannya langsung menyilang lagi di antara kedua pahanya. Beda dengan bintang tamu wanita (walaupun duduknya tidak sila kaki), tangannya tidak pernah menyilang diantara kedua pahanya.
(2) APA KABAR INDONESIA MALAM : Ketiga bintang tamu pria yang terdiri dari Anggota KPU, Direktur salah satu Organisasi, PANWASLU juga menyilangkan tangannya di antara kedua paha. Berbeda dengan Tina Talisa yang menurut saya sangat cantik dan pintar (beda konteks pak!).
(3) ACARA LAIN-LAIN : Yang tetap saja bintang tamu prianya menyilangkan tangan diantara kedua pahanya.

Intinya mengapa kebanyakan pria jika duduk selalu menyilangkan tangan diantara kedua pahanya?
Saya punya jawaban saya sendiri, tapi terlalu vulgar jadi saya rahasiakan.
Menurut anda???



Comment(s) via Facebook.com



Andrean Malta at 11:17am November 30, 2008
ujian jaman saya muda dulu memerintahkan para siswa untuk 'silanglah jawaban yang anda anggap paling benar'. akan tetapi modernisasi menyebabkan penyilangan tidak tren lagi dan digantikan oleh 'bulatkan jawaban yang anda anggap paling benar'

oleh karena itu,pertahankan idealisme anda dengan tetap menyilang.karena itu semua merupakan takdir dari yang maha kuasa.

Syahna Alisya at 9:41pm November 30, 2008
kak haga aku ga ngertiiiii.
polos bgt akunya.

Alvin Adisasmita at 11:30pm November 30, 2008
menyilangkan tangan di antara paha merupakan tanda bentuk tak sadar melindungi sesuatu yang lemah...
hmmm, kekuatan sekaligus kelemahan pria tampaknya...

wah mal, ga bisa bayangin deh kalo semua mengikuti trend 'bulatkan jawaban yang anda anggap paling benar'...
bayangin aja, 'silangkan jawaban yang anda anggap paling benar' aja pada nyilangin tangan diantara paha... gimana kalo pada membentuk huruf o diantara paha???? seakan-akan siap terbang ke angkasa...... Read More

nooooo.....

Haga Ade Wiguna at 11:40pm November 30, 2008
oh saya lupa,kalau mengendarai motor dengan santai (menggunakan satu tangan), pasti tangan saya yang satunya juga berada diantara kedua paha.
atau juga terkadang saya meletakkan tas saya diatas kedua paha sewaktu mengendarai motor...

pendapat mas malta kurang saya mengerti (maap2..hehe)
pendapatnya mas alvin mendekati bayangan saya:P

Andrean Malta at 2:37am December 1, 2008
anda kurang berimajinasi.cobalah beberapa saat lagi.

Haga Ade Wiguna at 10:15am December 1, 2008
saya sudah memaksa imajinasi saya.. tapi saya jadi diperbudak imajinasi..bahkan waktu pun tidak mau menguasai saya dan imajinasi saya.

*apa si

Ibnu Hajar Ulinnuha at 9:33pm December 3, 2008
menurut David De Angelo - Body language..

one of the way to make a women "sexually attracted" to you, is to place one of your hand while sitting, on your inner thigh, but not touching the crotch.

Ibnu Hajar Ulinnuha at 9:37pm December 3, 2008
fyi ... women are a thousands times aware of noticing body language than what mens are ..

Ibnu Hajar Ulinnuha at 9:42pm December 3, 2008
ga, kalo lo bilang body language itu ga penting.
itu salah.

pernah denger
"tidak penting apa yg kamu katakan, tapi bagaimana kamu mengatakannya"... Read More

hal itu karena komunikasi yg efektif dipengaruhi oleh

60 % body language
25 % intonasi
15% kata2

well,perhaps u should go read my favourite e-book.

"Attraction isn't a choice"
hehehe.

Ibnu Hajar Ulinnuha at 9:44pm December 3, 2008
u can see James Bond in Quantom of Solace for a figure.
thats a perfect body language.
and it works like a CHARM.

Haga Ade Wiguna at 3:35pm December 4, 2008
iya nu...gw juga ga bilang bahasa tubuh itu gak penting...mnrut gw penting banget malah..
berarti kebanyakan cowok itu secara ga langsung "sexually attractive" dong???
kalo gw sih udah tau dari lama kalo gw menarik secra seksual...
*ZONK
coba gw minta e-book nya nu...

yeah,,,because i myself is the James Bond...and the last sentence for this comment is " I WISH"..hahaha

Ibnu Hajar Ulinnuha at 6:28pm December 4, 2008
hahaha... that was just one of the aspects, theres a lot more like eye contacts, sitting position..etc. that picture u showed isnt sexuall attractive at all .. thats because they sit with their back folded. U've got to lift your chest, sitting in a secure position and feeling "confidence" is a must.

email lo apaan cuiy?