Sabtu, 23 Mei 2009

Mahasiswa & Karyawan Mr. Burger


Kuliah saya hari ini sudah selesai sejak jam 13.30 WIB dan mungkin ini saatnya pulang bagi saya. Bukan mungkin, tapi harus karena langit sudah sangat gelap sewaktu saya keluar dari ruang perpustakaan FEB UGM. Saya sedikit jengkel jika dalam perjalanan pulang dari kampus terdapat bonus air hujan dari langit. Oleh sebab itu saya memutuskan untuk segera pulang. Lagipula jam tangan saya menunjukkan pukul 15.26 WIB dan perpustakaan akan tutup tepat pukul 16.00 WIB. Apalah guna sisa waktu 34 menit bagi saya yang tidak sepenuhnya berkonsentrasi pada bahan bacaan saya. Di perjalanan pulang saya dari kampus, rintik-rintik air sudah terasa menyentuh tangan saya. Beberapa juga hinggap di kaca penutup helm saya. Saya juga sudah bisa menebak kalau 100 meter lagi saya harus berteduh karena gerimis mungkin akan berubah menjadi hujan deras. Benar saja, saya sudah berdiri di depan minimarket “INDOMARET” di Jalan Kaliurang Km.5.5 Yogyakarta saat hujan sudah sangat deras.

Lima belas menit pertama, kaki saya masih sanggup menopang berat badan ditambah tas yang terisi penuh ditambah helm besar di kepala saya. Tetapi hujan semakin deras dan sepertinya “berdiri” bukan opsi terpilih dari pertanyaan “Apa yang saya lakukan disaat saya menunggu hujan berhenti?”.Tepat di sebelah saya terdapat sebuah kursi plastik merah milik sebuah (mungkin namanya gerai atau gerobak atau apalah) fastfood berlogo Mr.Burger yang beroperasi di depan mimimarket tersebut. Saya meminta izin kepada karyawan pria Mr.Burger untuk menggunakan kursi itu. Izin diterima.
“Kuliah, Mas?”, karyawan itu bertanya. “Iya.”, jawab saya. “Sudah ada planning?”, tanya karyawan itu lagi. Saya agak kaget dengan kata “planning” yang diucapkan karyawan tersebut. Tidak bermaksud menerendahkan, namun bagi saya kata itu terdengar intelek untuk diucapkan oleh seorang karyawan sebuah gerai kecil makanan cepat saji. Mungkin saya saja yang terlalu berlebihan. Menjawab pertanyaan mengenai planning tadi, saya mengatakan kalau saya sudah punya beberapa gambaran dan semoga saja semuanya terwujud. Sebelumnya saya tidak berfikir bahwa ini menjadi suatu conversation sampai saya mendengar karyawan tersebut berkata, “Saya tidak pernah membayangkan saya akan berakhir sebagai karyawan seperti ini.”. Mendengar itu, sontak rasa penasaran saya timbul. Kemudian conversation pun berlanjut begitu saja.

Terakhir saya mengetahui nama karyawan itu adalah Rudi (atau Rudy). Setelah saya bertanya mengenai maksud dari Saudara Rudi itu mengatakan mengenai ucapannya tadi, dia pun menjelaskan panjang lebar. Dia mengatakan bahwa bulan ini adalah bulan kedua dia bekerja sebagai karyawan Mr.Burger. Sebelumnya dia bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan produsen suku cadang sepeda motor Yamaha bernama PT. KYOWA di Bekasi. Imbas krisis perekonomian global membawa dia dan sekitar 2000 karyawan di perusahaan itu menjadi pengangguran dadakan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dialaminya membawanya menjadi seorang karyawan merangkap juru masak di gerai kecil makanan cepat saji tersebut. Saya dapat membayangkan bagaimana kehidupan seorang karyawan perusahaan besar berubah 180 derajat saat nasib menempatkannya pada posisi yang “tidak pernah dibayangkan sebelumnya”. Saudara Rudi yang merupakan tamatan STM ini harus bisa menyambung hidup dengan bekerja jauh dari bidang yang digeluti sebelumnya. Kisahnya, sebelum menjadi karyawan PT. KYOWA, dia mulai bekerja sebagai mekanik. Rezeki membawanya menjadi karyawan dengan status “karyawan kontrak” di perusahaan suku cadang sepeda motor di daerah Bekasi. Empat tahun lamanya dia berkontribusi di perusahaan tersebut sebelum perusahaan terpaksa melepasnya untuk “pengencangan ikat pinggang” perusahaan sebagai bentuk minimizing cost dalam menghadapi krisis keuangan global. Empat tahun bekerja di satu perusahaan cukup menggambarkan loyalitasnya sebagai karyawan mengingat bahwa dia berstatus karyawan kontrak. Kekalahan seleksi alam membawanya kembali ke Yogyakarta dan beruntung dia masih bisa mendapatkan pekerjaan di Mr.Burger. Gaji yang jauh lebih rendah dari gaji sebelumnya cukup membawa dampak besar. “Saya dulu kalau mau beli sesuatu gak pernah lihat label harganya, Mas.”, kisahnya “Sekarang ya suka mikir-mikir dulu sebelum beli.”.

Dia memberitahu bahwa di PT. KYOWA dia memperoleh gaji sebesar Rp.2.000.000,- per bulan belum termasuk lembur. “Sekarang gaji saya Rp.540.000,- per bulannya.”, katanya.
Mungkin anda juga bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang “Saudara Rudi”. Bayangan saya, tidak mudah menerima keadaan dimana pada satu waktu kita berada pada keadaan yang empuk namun di waktu lain keadaan yang terkeras merupakan keadaan terempuk yang harus kita hadapi. Jika kita melihat dari sisi prestige, sungguh jauh lebih prestige bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan Jepang yang merupakan produsen suku cadang sepeda motor Yamaha daripada harus menjadi seorang juru masak sebuah gerai kecil makanan cepat saji. Bayangan saya itu sepertinya tidak jauh berbeda dengan air muka yang saya lihat dari Saudara Rudi.
Dia juga mengatakan bahwa setelah dua tahun bekerja di PT. KYOWA, dia dan temannya memutuskan nyambi membuka CV( Comanditaire Venootschap ) yang bergerak dibidang finishing suku cadang produksi PT. KYOWA. Singkatnya, apa yang dilakukan oleh Saudara Rudi pada saat itu sangat mempunyai prospek. Mungkin inilah apa yang “pernah” dibayangkan olehnya. Pemutusan Hubungan Kerja bukan satu satu nya “tangga” yang menimpanya. CV yang dibangunnya gulung tikar karena putus kerjasama dengan PT.KYOWA.
Pembicaraan kami terhenti sejenak saat seorang wanita memesan sebuah beef burger di gerai itu. Saudara Rudi dengan segera mulai mengolah pesanan si pembeli. Saat itu saya masih sempat terfikir bagaimana cara Saudara Rudi menerima keadaan seperti ini. Bagi saya yang notabene adalah seorang mahasiswa yang mulai dari outfit sampai isi perut berasal dari uang orang tua saja terkadang pusing memikirkan berjuta-juta mimpi di hari esok. Bagaimana pula dengan Saudara Rudi yang telah menggenggam mimpi nya namun dirampas secara paksa oleh keadaan. Mungkin bagi sebagian orang gaji sebesar Rp.2.000.000,- per bulan adalah bentuk riil dari gaya hidup selama beberapa hari. Namun bagi Saudara Rudi, uang sebesar ini adalah sigma gaji selama kurang lebih empat bulan. Masih beruntung Mr.Burger memberikan gaji tidak berdasar omzet per gerai melainkan dengan besaran tetap per bulannya. Dengan jam kerja kurang lebih delapan jam per hari, tentunya uang sebesar ini masih terasa kecil. Pesanan pun selesai dan si pembeli (yang merupakan satu-satunya pembeli selama saya disana) menyerahkan selembar uang lima ribu dan dua lembar uang seribuan.

Saudara Rudi juga bercerita bahwa dia mempunyai seorang sepupu yang mempunyai jabatan penting di sebuah perusahaan lain yang juga bergerak dalam produksi suku cadang sepeda motor. Namun ini sama sekali tidak mendatangkan pengaruh kepadanya. Bahkan jika politik Nepotisme menjadi Survive Exit terakhir, keadaan perekonomian dunia yang bergejolak belum mengizinkannya untuk menjadi salah satu bagian di perusahaan tersebut. Mungkin kita berfikir bahwa Channeling dan Backing akan menempatkan kita pada Comfort Zone dan Certainty yang siap ditagih pada waktu tertentu. Saya jadi teringat dengan satu ungkapan yang mengatakan bahwa satu satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri.
Tanpa maksud menggurui, saya berkata pada Saudara Rudi bahwa semua yang kita terima pada dasarnya adalah rezeki. Bekerja di Mr.Burger mungkin bukan rezeki bagi dia. Namun bagi pelamar lain yang dia kalahkan untuk mendapatkan pekerjaan ini, pasti berpendapat bahwa dia adalah orang yang “berezeki”. Bukan berarti saya juga mudah dalam menerima suatu keadaan terpuruk. Saya juga sebenarnya baru tersadar bahwa untuk bersyukur, kita harus bisa flexible menempatkan diri kita pada posisi yang appropriate dengan kadar rezeki yang kita terima. Bukan pula berarti kita melepaskan effort untuk rezeki terbesar melainkan meyakini bahwa skenario terburuk tidak selamanya buruk.

Pembicaraan pun bercabang ke arah pemilihan presiden, pemanfaatan SDM yang tidak maksimal di Indonesia, sampai mengenai franchising. Tidak terasa saya berbincang-bincang selama kurang lebih dua jam. Hujan pun sudah mulai berhenti. Saya menjabat tangan Saudara Rudi dan mengatakan semoga dia sukses dengan segala usaha yang dijalaninya. Semoga dia juga mengatakan hal yang sama di dalam hatinya. Saya pun bergegas mengendarai motor saya. Ternyata hujan dalam perjalanan pulang dari kuliah tidak selamanya menjengkelkan. Hujan kali ini cukup memberikan saya pelajaran berharga. Mungkin lain kali saya pulang kuliah di saat hujan saja. Bercanda.

Comment(s) via Facebook.com



Radhyaksa Ardaya at 8:51pm May 23
Ini beneran?
Aku masih speechless nih. Indomaret mana sih ga?

Bimantara Haryo at 9:00pm May 23
bagus ga note lo...
cukup membuat merenungkan...
laik dis lah mamen!!!

Haga Ade Wiguna at 9:03pm May 23
@caca
kan ada alamatnya di dalam note bung caca...

@Bima
beugh...lo bayangin lo ada di posisi dia...gw aja shock juga dengernya...kisah nyata.

Bimantara Haryo at 9:07pm May 23
AYO BELI BURGER HANYA DI AKANG RUDI!!! hahaha
di jakarta kaga ada si coyyyy

Harisnu Kurniawan at 9:57pm May 23
nice post,..

Musytaqul Hasan at 12:09am May 24
Oi tetangga kamar,
Post nya bagus, tulisannya bagus,

tapi kenapa bahsanya kyk lo lagi kerasukan Soekarno?

Andrea Andjaringtyas Adhi at 5:12pm May 24
HIDUP MR.BURGER. Man. Emang mr.burger itu nagih abis. Cuma 6500rupiah bisa dapet daging yang eeuuhm dengan roti yang eeeuhm pula. Jadi kalo males makan berat, ngemil itu doang aja jg kenyang. Dan kebetulan mr.burger itu langganan gw ga! HAHAHA. Jgn2 slama ni mas rudi yg mendengarkan curhatku sambil menunggu chicken prosperity gw jadi.. Hehee.

Gw ada bbrp pertanyaan (bodoh):
1. Jadi elo beli burger ato ga?
2. Elo voto juga ya mas rudinya?
3. Ko elo tumben bs inspritif seh ga? Hehehe.

Syiva Nur Malasari at 9:25pm May 24
ndre ini MR.BURGER yg kita beli pas mlm itu bkn tmpatnya?kan lagi IN bgt tuh si chiken prosperity dsana??trs lu jd beli burger apa numpang neduh doang ga?

Haga Ade Wiguna at 10:53pm May 24
@Uul
lo kaga tau nama gw haga soekarno putra? Haha

@handra
ah lo gak manggil... Parah!

Haga Ade Wiguna at 10:56pm May 24
@andrea
1. Gw ga beli krn terlanjur beli sari roti. Wakaka
2. Si mas rudiny gw foto diem2 pake digicam. Gw pura2 nunjukin foto pak bud. Trus diem2 gw matiin flash, pura pura megang kamera, sok2 nanya lg dan JEPRETTT...Haha.
3. Iya tumben. Hehe

Haga Ade Wiguna at 10:58pm May 24
@cipoy
haha agenda utamanya kan neduh...

Raras Cynanthia at 12:42pm May 25
wah gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... jadi sedih bacanya. serius. :.( tapi inspirative... !!! memotivasi agar terus maju.

Khafidh Moch Zainul at 10:05pm May 25
Mantabs...

Dian Paramita at 9:06am May 28
KOK GA BELI BURGERNYA!!!!!
Dari pertama baca ampe terakhir aku berharap ada tulisan, "untuk menambah semangat Mas Rudy, aku membeli 5 burger untuk temanku Mimit." 1 kali dayuh, 2 ampe 3 pulau terlampaui kan. Mas Rudy senang, temanmu juga senang. Cuma numpang neduh dan minta didongengin aja! Mas nya pasti kecewa. Kamu bodoh. (Modyar ga dipuji malah dibodohi)

Paragraf terakhir itu favoriteku btw. Hehe.

Haga Ade Wiguna at 9:09am May 28
@mimit
soalnya tadinya aku udah makan sari roti yang gede...mas nya juga antusias ceritanya..lupalah akan kelezatan mr.burger

btw intinya bukan diparagraf yang kamu favoritin itu loh mit.

Dian Paramita at 9:14am May 28
Apapun ceritanya, tapi pendapat terakhirmu itu yang paling bagus. Yang ini lho maksudku:

...Saya pun bergegas mengendarai motor saya. Ternyata hujan dalam perjalanan pulang dari kuliah tidak selamanya menjengkelkan. Hujan kali ini cukup memberikan saya pelajaran berharga. Mungkin lain kali saya pulang kuliah di saat hujan saja. Bercanda.

DONG NGGAK KAMU???

Haga Ade Wiguna at 9:15am May 28
Oh
*angguk2, geleng2, nunduk2

Dian Paramita at 9:17am May 28
Bagus.

Selasa, 24 Maret 2009

PS : You owe us story about your new home...HEAVEN



So let’s get this note started…it all about my grandfather this time. It’s not information because you don’t even need it. But for me, it is a story. Today (03/24/09) was a mourning day or maybe the opening of mourning week for my family. My grandpa passed away that day… I can tell you exactly what I felt. It’s just like my head was gyrating but tears won’t shed. Underline it.
Okay, touch those memories. This grandpa of mine is a very educated person. No wonder he wants us to be well educated. I can still remember how often he came to our home when I was a child. You don’t even have any idea that your future has been planned. For me, it’s a great plan. Back to the past, when he came to our home, he always found him a comfort seat next to me and my bro’s bed. There he goes, a very great story telling with passion. No, the story had never been about what so called “lullaby for your better sleep time”, believe it or not, he told us about politic and the next time was about wisdom. Yeah, I call them wisdom because wise stories are never be disappointed for teens like me and my siblings and it works today. Trust me.
Surely, the first time we know story about Soeharto’s regime,it wasn’t from school. We got it from our grandpa. He never brings us through his mind about his opinion about something. He just gave us the view and whatever our opinions, they’re excused as long as we have reason(s) to be right. So wise huh…
I remember something. That day, there was sadness on his face. I didn’t see it, I just sure about it. Because I made that face. As this note told you, my grandpa is very educated; he wants it for his lineage. So when I was watching Karate Kids –which is my favorite movie that time, he asked me to change the channel and found him a news channel. I was about nine or ten and news wasn’t my prior. I was so angry and told him that he can’t force me to watch that news in the place of my favorite movie. Even that television isn’t yours. God, I was so rude and unforgivable… For sure, he wasn’t forcing me to watch the news. He just tried to make me fond of it. I knew that he was disappointed by me but he never show it until my dad told me that I did something I shouldn’t. Let me be titled “Impolite and Guilty” in one package.
Life is so unpredictable. About eight months ago. He’s still there for my bro’s graduation. He wasn’t as healthy as ten years ago. He didn’t use the wheel chair because there’s nothing wrong with his foot. It just he didn’t have much strength for a long walk that one of us walks beside him as emergency for his sudden need and it didn’t cause any fuse. We never imagine, eight months latter, he’ll leave us. That day, I told him that it’s my pleasure if he can attend my graduation when the time is come. The invitation has answered now…he won’t be there though he want to…
Last night (03/23/2009) my mom phoned me. She said that my grandpa’s health is drop. This wasn’t the first time. But this time is sign. My mom suggested me to talk with him. I can hear his voice. I told him that I pray a heal, and he asked me about my study here. “To Mom, please.”, I said and he gave it to mom. I told mom that I shouldn’t have any conversation with grandpa because he sounds exhausted. This morning (03/24/2009) my lil bro texted me that grandpa is dyeing and unconscious. Let’s hope for the best he said. I was cared free because my grandpa passed through this one time… but I hope for the best. I turned my cell phone to silent mode because I’ll be in class. After class, there’s message. It’s my lil bro. My grandpa didn’t make it. I just don’t know what to say…but it’s fixed. He leaves us not for a while…but forever…
My grandpa gives us a message says “My grandchildren are good fellow, I’m sure that no matter where I am even if I die, I’ll always in their head forever…” Yes grandpa…you’ll always in our head forever. We pray for a best space there beside Jesus and hope you thousand times happiness… we didn’t grow slipping through your finger. We grow by your lessons and your wisdom. Tomorrow will never be the same cause there’s no you anymore… with this situation, we’ll learn something. Your death wasn’t mean that you leave us, it’s for an everlasting memories we won’t forget. We love you. Always have. Always will.

PS : You owe us story about your new home...HEAVEN

Comment(s) via Facebook.com



Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:38pm March 24
my tears fell for your grandpa too haga.
smile :)
i am sure some years ago he thought you to be strong. to thank God for what's given to you. good or bad. it depends on how we see it.
i am always ready to be a doll or clown or whatsoever.. you can make funny of me this time ga. and for ESPECIALLY for your grandpa, i'm ready not saying "diem deh elo ga" for one day. hahaha.
love you hagansos!

Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:40pm March 24
hahhaa bego gw. harusnya taught. hahahahahaa bego abis.

Raras Cynanthia at 6:44am March 25
a very touchable story about a very loveable grandpa. :)

Haga Ade Wiguna at 10:15am March 25
it's all wrapped...

Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:56am March 25
Haga.
Gw udah di rumah sakit ni. Eyang di icu.. Ugh. Hard to believe.

Sabtu, 14 Februari 2009

Pengaruh Lingkungan Terhadap Keputusan Managerial


Dalam suatu manajemen perusahaan, pastilah diperlukan suatu keputusan yang tepat demi kegiatan operasional perusahaan yang diharapkan. Dalam mengambil sebuah keputusan, manager juga harus mempertimbangkan faktor lingkungan sekitar perusahaan agar tercapai keputusan yang diharapkan dan tidak merugikan pihak manapun baik dari pihak internal perusahaan maupun pihak eksternal perusahaan. Faktor lingkungan ini dibagi dalam berbagai kategori antara lain tenaga kerja dengan latar belakang yang berbeda baik dari segi ekonomi, ethnic, usia dan juga dari segi-segi lainnya. Suatu cara melaksanakan keputusan merupakan seleksi dari beberapa alternatif, yang dapat menghasilkan alokasi dari uang, personil, waktu dan lain sebagainya. Dalam hal ini, bisa terjadi keputusan yang baik, didasarkan atas pemikiran logis, dimana hasilnya bisa baik juga.
Untuk memberikan pengertian yang lebih luas yang menyangkut proses suatu keputusan, pengklasifikasian keputusan-keputusan dapat dibagi dalam dua hal yaitu keputusan yang bisa direncanakan dan yang tidak bisa direncanakan. Keputusan yang direncanakan merupakan pengulangan dan rutin, mempunyai prosedur yang sudah ditentukan dan tidak memerlukan banyak cerita lagi didalam pendekatanya, bila terjadi suatu masalah.
Keputusan-keputusan manager juga dapat dibagi didalam tingkatan yang logis dan yang tidak logis. Melaksanakan suatu keputusan secara logis memerlukan berfikir secara sadar, waspada dan didasarkan atas akal. Proses dapat dikemukakan dengan kata-kata verbal dan simbol-simbol lain. Sedangkan yang tidak logis, tidak mungkin untuk dikemukakan melalui kata-kata verbal atau sebagai suatu akal dan hanya dapat dikemukakan melalui pengaplikasiannya itu sendiri. Seorang manager merasakan hal ini karena proses cara memutuskan itu merupakan hal keadaan antara sadar dan tidak sadar.
Berdasarkan pembagian keputusan-keputusan tersebut, maka pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita adalah kapankah suatu cara dari sekian cara tersebut dapat dipergunakan? Jawabannya adalah, tergantung dari berbagai faktor luar yang mempengaruhi perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor eksternal itu antara lain adalah faktor lingkungan. Dalam hal ini kita mengkaitkan dengan hal etikal sebuah perusahaan. Dalam mengambil sebuah keputusan, pertimbangan etika yang kuat haruslah dilakukan sehingga masyarakat mendapatkan kesempatan untuk diperlakukan secara adil dan sejahtera sehingga keputusan yang diambil oleh seorang manager tidak bersifat melawan hukum. Dalam mengambil keputusan yang memperhatikan faktor-faktor luar, tidak jarang dapat mempengaruhi keefektifan perusahaan. Hal ini secara sadar dapat meningkatkan keuntungan kompetitif. Salah satu contoh keputusan yang dapat dilakukan seorang manager dengan memperhatikan faktor lingkungan yang memiliki masyarakat kaum minoritas adalah dengan menawarkan kuota lowongan kerja kepada mereka yang berpotensi diantara kaum minoritas tersebut. Tentunya perbedaan ini seharusnya tidak turut menjadikan upah/gaji yang diterima berbeda dengan mereka yang mayoritas pada level tingkatan kerja yang sama sehingga akhirnya kredibilitas perusahaan dapat terlihat. Tentunya hal ini menguntungkan kedua belah pihak baik dari perusahaan itu sendiri maupun dari pihak masyarakat.
Faktor lingkungan lain (dalam hal ini tenaga kerja) yang juga berhubungan secara tidak langsung antara lain adalah dari segi suku, usia dan hal lainnya. Keputusan manager dalam perekrutan tenaga kerja dari latar belakang yang berbeda sebenarnya memang mendatangkan keuntungan yang cukup bermanfaat bagi perusahaan. Keuntungan-keuntungan yang didapat oleh perusahaan antara lain dari segi cost. Dalam hal ini perusahaan tidak harus mengeluarkan dana yang lebih banyak untuk melakukan sejumlah survey karena orang-orang yang ada didalam perusahaan tersebut terdiri dari sudut pandang yang berbeda-beda. Hal ini juga akan berhubungan dengan decision making advantage.
Materi yang digunakan dalam suatu keputusan dapat diklasifikasikan sebagai data yang tepat, data dengan kualitas rendah atau mempunyai keterbatasan, validasi yang tidak dapat diandalkan, mengenai mutu dan lain sebagainya. Kemudian informasi yang sifatnya spekulatif yang tak ada hubungan dengan ukuran matematis atau dapat dikatakan banyak kemungkinan berubah, data yang banyak tidak ada kepastian, sulit untuk dijadikan ketentuan. Manager dalam memutuskan sesuatu, telah belajar untuk selalu menggantungkan diri pada fakta dan logika, tetapi ternyata data-data yang digunakan untuk membuat keputusan tidak mempunyai sangkutan pada proses yang logika. Bahwa banyak keputusan-keputusan tidak didasarkan pada pendekatan logika, tapi banyak atas pendekatan emosional. Orang justru curiga pada keputusan yang ditimbulkan oleh seseorang yang sifatnya individualistis. Jadi, oleh karena itu para pelaksana keputusan selalu akan berusaha supaya sesuatu terlihat obyektif.
Sebab itulah seorang manager memerlukan bantuan dari lingkungan perusahaan untuk ditempatkan/diadopsi sebagai bantuan dalam pembentukan keputusan managerial. Bahwa pengaruh lingkungan terhadap keputusan managerial bisa jadi sangat besar dimana lingkungan dapat memberikan kontribusi dalam bentuk data fisik maupun tenaga kerja yang akhirnya dijadikan sebagai salah satu sumber yang dapat membantu seorang manager dalam menentukan keputusan yang akan dibuatnya. Faktor lingkungan yang mempengaruhi perusahaan dalam hal ini mendatangkan keuntungan bagi kedua pihak yaitu pihak internal perusahaan itu sendiri maupun pihak luar.

Kamis, 29 Januari 2009

KONTROVERSI FATWA HARAM GOLPUT



Seperti yang telah saya sampaikan dalam note saya sebelum ini, dimana saya menulis bahwa MUI menetapkan bahwa Golput (Golongan Putih) adalah haram. Saya akhirnya mengetahui alasan yang melatarbelakangi pihak MUI mengkategorikan Golput sebagai sesuatu yang haram. MUI memberikan alasan sebagai berikut :
  1. Dalam Hukum Islam, adalah wajib hukumnya untuk menegakkan kepemimpinan Nasional. Dalam kasus ini, Indonesia menegakkan kepemimpinan Nasional melalui Pemilu (Pemilihan Umum). Oleh sebab itu, mengikuti Pemilu wajib hukumnya.

  2. Perkembangan Golput adalah sesuatu yang membahayakan karena adanya tendensi kepemimpinan yang akan tidak terlegitimasi. Oleh sebab itu, untuk menghindari “tidak terlegitimasi” ini maka diwajibkan untuk mengikuti Pemilu dengan mengharamkan Golput.

Kemarin saya menyaksikan Debat TV One yang berjudul sama dengan note ini (tepatnya note ini berjudul sama dengan Debat TV One) dimana dihadirkan pihak-pihak pro Fatwa terkait dan juga pihak-pihak kontra Fatwa terkait. Pihak kontra yang diwakilkan oleh Tanfidziyah MMI mengatakan bahwa Pemilu itu merupakan produk revolusi sekuler dimana ada kebebasan untuk memilih atau tidak. Saya juga sangat setuju mengapa ada pihak yang membatasi kebebasan seseorang untuk memilih atau tidak. Saya juga sebenarnya agak tertanya mengapa diharamkan? Perlukah kita menjadi pihak yang ikut serta dalam legitimasi sebuah kepemimpinan yang menurut kita sama sekali tidak ideal? Pihak kontra fatwa bertanya pada pihak pro fatwa apakah yakin dengan wajib mengikuti Pemilu akan mendapatkan kepemimpinan yang ideal? Pihak pro fatwa MUI mengatakan bahwa mengenai ideal atau tidak idealnya suatu kepemimpinan ada dalam Hadits yang mengatakan bahwa di dalam kepemimpinan pasti ada pemimpin yang baik dan tidak baik. Namun selagi pemimpin tersebut masih Sholat, maka pemimpin tersebut tidak bisa dilengserkan. Jujur saya kurang mengerti.
Pihak Tanfidziyah MMI sangat menyayangkan keputusan MUI dimana menurut mereka (dan menurut saya), Indonesia bukan negara agama sehingga MUI tidak memiliki alasan untuk mengkaitkan dan mempergunakan perangkat agama untuk menakut-nakuti pemilih. Benar, menakut-nakuti pemilih. Takut berbuat dosa karena melakukan sesuatu yang diharamkan jika menjadi Golput. Saya jujur lebih memihak pada sisi kontra fatwa tersebut karena memang menurut saya ini adalah sebuah pembatasan hak seseorang dalam memilih. Seperti yang dikatakan oleh Tanfidziyah MMI, mengapa MUI sangat terkesan repot menetapkan Golput sebagai sesuatu yang haram? Mengapa tidak merancang apa saja yang haram jika dilakukan oleh seorang pemimpin? Pihak MUI tetap mengatakan bahwa untuk menegakkan kepemimpinan Nasional adalah sebuah kewajiban yaitu dengan Pemilu dan bagi para calon pemimpin juga disarankan untuk melakukan tugas sesuai amanah. Saya menggaris bawahi kata ”disarankan” dalam pikiran saya. Mengapa para calon pemimpin hanya disarankan? Mengapa rakyat tidak disarankan mengikuti Pemilu? Mengapa harus diwajibkan? Bahkan diharamkan jika tidak mengikuti Pemilu. Ada juga sesuatu yang mengganjal, bukankah Konstitusi di Indonesia memberikan hak bagi masyarakat untuk memilih dan tidak memilih meskipun disarankan untuk memilih? Sah-sah saja jika seseorang memilih menjadi Golput. Yang tidak boleh adalah mengajak, memboyong, menghasut orang supaya menjadi Golput. Sedikit flashback sejarah, Soeharto dan Orde baru tidak akan runtuh kalau tidak ada Golput. Dengan kata lain, Golput dapat digunakan sebagai perlawanan. Lalu yang mana yang harus diikuti? Konstitusi atau Fatwa? Apakah berarti Konstitusi meniadakan Fatwa atau sebaliknya? Tentunya Fatwa haram ini akan menimbulkan Konsekuensi Sosial dimana seseorang akan dianggap melakukan dosa jika tidak ikut Pemilu. Siapkah menjadi orang berdosa dihadapan manusia? Fadjroel Rachman mengatakan bahwa kita harus mempertahankan apa yang telah menjadi hak konstitusionil. Jangan sampai fatwa merampas apa yang telah menjadi hak seseorang. Saya sedikit tertegun mendengarkan perkataan beliau. Menurut Lukman Hakim Saifuddin (PPP), fatwa ini tidak merampas hak karena ada yang dikatakan dengan kaedah Usuliah dimana Pemilu adalah suatu sarana memilih pemimpin sedangkan keberadaan pemimpin adalah wajib sehingga secara otomatis sarana tersebut menjadi wajib. Perkataan ini ditimpali dengan sebuah pendapat yang sangat bijak oleh Fadjroel Rachman yang mengatakan bahwa Republik Indonesia bukan milik Islam saja. Oleh sebab itu semua masyarakat terikat oleh Konstitusi. Apakah berarti fatwa MUI yang mengharamkan Golput itu termasuk Kudeta Konstitusi?
Bagaimanapun, substansi Pemilu itu adalah untuk mengubah negara ke arah yang lebih baik. Untuk mengurangi jumlah Golput itu sebenarnya ada di tangan kandidat. Tanpa fatwa pun, Golput dapat disingkirkan asalkan Kandidat pemimpin dapat meyakinkan pemilih. Maka sangat pendek pikiran seseorang yang mengatakan ”Masalah baik tidaknya pemimpin yang terpilih adalah masalah lain. Setidak-tidaknya telah menjadi warga negara yang baik dengan mengikuti Pemilu.”. Sumpah, saya tidak percaya kalau saya mendengar ucapan ”setidak-tidaknya”. Belakangan saya mendengar kabar bahwa ada pihak yang mengharamkan Pemilu karena dianggap sebagai produk revolusi sekuler...Ada lagi???

Comment(s) via Facebook.com



Haga Ade Wiguna at 2:34pm January 29
Hot News : Ada tendensi bahwa MUI mengeluarkan fatwa Haram Golput karena kabarnya MUI didatangi oleh para "calon orang nomor 1 di Indonesia" maupun tim suksesnya. Kalau Golput diharamkan dampaknya adalah para pemilih yang beragama Muslim akan meninggalkan Golput. Indonesia mayoritas beragama Islam. Jumlah suara yang sangat banyak tentunya. Adakah informasi untuk saya mengenai ini? Trims.

Alvin Adisasmita at 7:11am January 30
Ah, saya jadi geli aku lihat tulisan ini. Bukan karena tulisanmu. Bukan. Tapi lebih kepada kenapa orang-orang sibuk untuk mempermasalahkan hal seperti ini.
Sebenarnya ini bukan permasalah yang dalam. Hal itu bisa ditilik dari berbagai hal. Pertama, Fatwa apapun yang dikeluarkan MUI bukan bersifat obligatory. Dalam artian, Fatwa tidak bisa mengikat umat muslim Indonesia untuk harus mematuhi fatwa tersebut. Terkadang masyarakat salah mengerti mengenai nilai keterikatan fatwa. Kedua, jika dikatakan fatwa itu wajib, maka kewajiban itu hanya dibebankan pada pemberi fatwa tersebut. Untuk umat muslim di Indonesia hanyalah bersifat anjuran yang berdasarkan analisis dan pertimbangan secara hati-hati dari scholars yang telah mendapatkan pendidikan secara bertahap. Bahasa kerennya, "para theologis". Ketiga, fatwa tidak seharusnya mempengaruhi selain umat Islam. Fatwa hanya digunakan untuk memperjelas sesuatu yang berada pada daerah abu-abu pada hukum Islam. Seperti rokok. [cont.]

Alvin Adisasmita at 7:17am January 30
Al-Qur'an dan Al-Hadist merupakan panduan hukum (fiqh) bagi umat Islam. MUI merupakan golongan scholars yang berusaha memperjelas apa yang berada pada daerah abu-abu. Logikanya, tidak semua yang ada sekarang sudah ada pada jaman dahulu, seperti rokok. Saya bukan ahli agama, tapi sesuatu hal menurut saya PASTI dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadist. Meskipun itu tersirat. Seperti Teori Big Bang yang sudah lama dijelaskan didalam Al-Qur'an. Jadi saya tidak berani memutuskan apakah rokok dan golput itu benar-benar haram atau tidak. Perlu kalian tahu, bahwa sleain haram, terdapat status seperti "Makruh" dan "Mubah". Penjelasan lebih lengkap mengenai kedua term itu bisa dilihat di internet. Singkat kata, hukum Islam hanya wajib ditaati umat Islam.

Alvin Adisasmita at 7:21am January 30
Maka selain Muslim tidak seharusnya mengambil pusing mengenai Fatwa. O iya sekali lagi saya ingatkan, fatwa bukan terus serta merta masuk ke bagian hukum Islam.

Maafkan kalau ada yang menyinggung. Sekali lagi ini bukan cerminan pernyataan resmi Islam. Ini hanya pembahasan dari sisi yang saya mengerti. Jika ada kekurangan, maka semua itu berasal dari saya. Jika ada benar, maka kebenaran itu berasal dari Tuhan. Semoga dapat memberikan sedikit pencerahan.

Alvin terbuka untuk diskusi lebih lanjut pada lingkup yang terbatas.

Alvin Adisasmita at 7:28am January 30
Oiya satu lagi. Apapun keputusan MUI. Baik dipengaruhi apapun tidak menjadi permasalahan. Islam mengajarkan dua hal penting. Hablum Minallah, yaitu hubungan manusia dengan Allah SWT. Juga Hablum Minannas, yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia.

Untuk pribadi saya. Saya termasuk orang yang mengacuhkan masalah-masalah seperti ini hingga saya menemukan hal yang kuat untuk mempercayainya. Karena saya percaya bahwa agama merupakan hubungan manusia dengan Tuhan. hablum minannas menurut pengertian saya sebatas bagaimana kita memperlakukan manusia sesamanya. Jadi ga ngurus mau kebijakan MUI itu dipengaruhi apapun.

Sekian dulu

Haga Ade Wiguna at 3:51pm January 30
Saya mengetahui kalau fatwa ini hanya untk muslim. Saya hanya menanggapi dlm predikat saya sbg publik. Bukankan masalah ini adalah konsumsi publik krn disiarkan di media publik.
Hak mas Alvin kok kalau gak ngurus mau kebijakan MUI it dipengaruhi siapapun. Sama seperti hak Tanfidziyah MMI dan Fadjroel Rachman untk mau mengurusi permasalahan ini. Selain itu, saya menulis note ini bkn untk tujuan negatif, ini semata2 karena hal ini menimbulkan krisis yaitu kontroversi. Tidak ada bedanya note ini dgn pemberitaan media.

Haga Ade Wiguna at 4:05pm January 30
Jujur, saya pun sdh lama mengetahui Hablum Minallah dan Hablum minannas dan saya sgt menjunjung tinggi hal itu :)
Ini sbnrny bkn mengenai mengambil pusing mengenai Muslim atau tdk melainkan krn saya merasa terinstitusi. Kalau kita bersikap skeptis, maka demonstrasi melawan kebijakan luar negeri AS berkaitan Israel-Palestine yg dilakukan oleh negara2 lain juga pada akhirnya bisa dikategorikan sbg "ikut campur". Seperti itu alasan saya. Saya jg akan berterima kasih kalau saya diingatkan jika saya scr tdk sengaja menyentuh ranah yg tdk shrusnya saya sentuh. Menurut saya sampai saat ini semuanya masih normal. Thx.

Haga Ade Wiguna at 4:08pm January 30
YLBHI : Masyarakat jangan terikat fatwa haram Golput.

Dominiria Hulu at 5:38pm February 5
hem...
orang mo milih ato ga itu terserah (menurutku)
kita ne negara demokrasi.. jadi g musti di'iket mulu ma ketentuan...
lama2 kita g ngenal apa yg jad hak dan kewajiban kita qlo diatur mulu...
nah qlo baik okelah.. nah qlo ujung2na bt sara atau sejenisnya kan barabe...
jadi sesiapapun yg mo berpartisipasi bt pemilu nt, biarkan itu dr hati nuraninya... ntar yg nyesel kan dianya (mgp golput or mengapa memilih figur yg nguber janji doank...).. peace yak-.-

Rabu, 28 Januari 2009

FATWA-FATWA MUI (?)


Beberapa hari yang lalu saya mengetahui dari berita di televisi bahwa MUI menyatakan bahwa rokok dikatakan haram. Pernyataan haram ini dibatasi dengan catatan tertentu. Batasan bahwa merokok itu adalah haram jika (1) di depan umum ; (2) dilakukan oleh anak dan remaja ; (3) dilakukan oleh Ibu hamil. Selain batasan-batasan tadi, merokok dianggap sebagai perbuatan yang tercela. Saya mengetahui bahwa merokok itu mengganggu kesehatan dan banyak dampak negatif yang dapat ditimbulkan dan di beberapa negara maju (atau juga lebih berkembang dari Indonesia) sudah sejak lama melarang merokok di kawasan umum. Lihat saja di Singapura yang bahkan untuk mengunyah permen karet di tempat umum bisa dikenai denda. Kembali ke Fatwa MUI tersebut, ternyata kalau kita menilik dan membandingkan dua sisi antara MUI dan Pemerintah, terdapat kontradiksi antar kedua sisi ini. Lihat saja pemerintah yang meskipun menyetujui melarang merokok di depan umum (Perda DKI Jakarta misalnya), tetap menyediakan fasilitas smoking area di beberapa spot bahkan menyarankan agar menyediakan smoking room bagi gedung-gedung perkantoran. Tentunya ini bertentangan dengan MUI yang secara tegas menyatakan rokok itu haram (dan tercela). Saya sebagai orang awam sebenarnya bingung membandingkan haram dan tercela bagaimana. Dalam pandangan saya yang tercela itu haram dan yang haram itu tercela. Atau dengan kata lain, yang haram dan yang tercela harus tidak dilakukan. Berarti seharusnya haramnya rokok tanpa batasan-batasan diatas bukan? Kalau dinyatakan sebagai haram, bukankah berarti rokok disandingkan sejajar dengan (maaf) babi? Wanita berusia 12 tahun yang baru-baru dinikahi oleh seorang syekh itu termasuk anak-anak,remaja atau seorang Ibu yang tidak hamil? Haramkah kalau wanita 12 tahun ini ingin merokok? atau tercela? Haram menurut MUI apakah haram menurut Pemerintah? Saya tahu bahwa Pemerintah sudah terikat dengan Perusahaan Rokok. Saya tahu bahwa Perusahaan Rokok menyumbang jumlah yang sangat besar bagi Negara ini.
Hari ini saya kembali menonton berita dan mendengar bahwa ada Fatwa lain dari MUI yang menyatakan bahwa Golput (Golongan Putih) diharamkan. Menurut pendapatnya, tidak memberikan suara dalam memilih pemimpin adalah sesuatu yang haram. Tentunya pernyataan MUI ini mendapat tanggapan yang beragam dari elemen-elemen masyarakat. Saya mendengar tanggapan dari salah satu anggota DPR yang mengatakan bahwa sebaiknya MUI tidak secara kilat menyatakan haram atau tidak haramnya sesuatu. Beliau juga mengatakan bahwa dia adalah pengikut Nadhatul Ulamah (NU) dimana NU tidak mengaharamkan Golput melainkan menganggap Golput sebagai perbuatan tidak bertanggung jawab. Menurut saya Golput itu wajar-wajar saja. Ini jaman demokrasi dimana semua orang memiliki pilihan dalam berpendapat. Menurut saya Golput itu adalah sebuah pendapat. Pendapat untuk tidak memilih siapapun. Bukankah saya mempunyai hak untuk itu? Dalam memilih pemimpin, apakah saya harus memilih jika diantara para kandidat tidak ada yang sesuai dengan apa yang memenuhi sosok seorang pemimpin? Analoginya, mana yang saya pilih, Bapak mati atau Ibu mati? Haruskah saya memilih salah satunya jika dengan tidak memilih tidak akan ada satu pun yang mati? Mengenai perbuatan yang tidak bertanggung jawab, saya penasaran apakah yang telah saya lakukan sehingga saya tidak bertanggung jawab. Bukankah dengan memilih menjadi Golput justru merupakan awal tanggung jawab? Tanggung jawab sebagai seorang Golput. Sedikit bertanya karena tidak tau, apakah haramnya NU dan MUI itu berbeda?
Bagaimanapun, saya tetap bisa merokok (kecuali di tempat yang tidak seharusnya) dan menjadi Golput kapan pun, dimanapun saya mau. Kenapa? Saya tahu kenapa...

NB : Silahkan tonton Debat TV One malam ini (28/01/09) pukul 19.30 WIB membahas haram tidaknya Golput.

Comment(s) via Facebook.com



Radhyaksa Ardaya at 1:24pm January 28
mui memang mengharamkan apa yang menurut MEREKA haram.
mungkin suatu saat MUI akan mengharamkan laki-laki dan wanita yang belum menikah/ bukan merupakan keluarga.

Radhyaksa Ardaya at 1:25pm January 28
maksudku,mengharamkan laki-laki dan wanita yang belum menikah/ bukan merupakan keluarga jalan-jalan bersama.

Alvin Adisasmita at 2:40am January 29
satu kalimat:

fatwa bukan ketetapan, hanya panduan, jadi ga perlu dipermasalahkan.

Alvin Adisasmita at 2:46am January 29
http://en.wikipedia.org/wiki/Fatw
jangan yang wikipedia indonesia...

Raras Cynanthia at 7:01am January 29
ah haram atau nggak kan tergantung interpretasi dan sudut pandang, nggak bisa digeneralisasi karena setiap org punya kondisi yang beragam dan mainset yang berbeda.
jadi mendingan kita haramkan apa yg menruut kt haram dan hajar bleh aja sesuatu yg buat kt halal.
kayak buatku, setia itu haram. misalnya.

Raras Cynanthia at 7:03am January 29
one more thing, MUI bukan siapa siapa gue so perkara setan mereka mau ngomong apa, it doesn't give me much influence... haha. biarin aja MUI ngemeng trus... mereka kan memang the best of the best yeah. hajar GA!

Alvin Adisasmita at 7:06am January 29
satu lagi... apapun komen dari siapapun disini ga mewakili umat Islam. titik.

Raras Cynanthia at 7:39am January 29
yup. bener sekali. karena komen di sini adalah filosofi dan pendapat pribadi. bukan komunitas.

Radhyaksa Ardaya at 7:40am January 29
yo.

Haga Ade Wiguna at 1:56pm January 29
Kalian semua adalah oran-orang bijak teman:)
Benar comment2 disini tidak mengatasnamakan Islam. Namun sayangnya MUI mengharamkan sesuatu secara islamiah a.k.a semua orang Islam di indonesia diwajibkan.

Alvin Adisasmita at 2:03pm January 29
ga, ga usah tak tulis yang ketiga kali ya...

tolong baca:
http://en.wikipedia.org/wiki/Fatw
ni bagian pertma biar kamu tertarik baca baru komen lagi:
A fatwā (Arabic: فتوى; plural fatāwā Arabic: فتاوى), in the Islamic faith is a religious opinion on Islamic law issued by an Islamic scholar. In Sunni Islam any fatwa is NON-BINDING, whereas in Shia Islam it could be, depending on the status of the scholar.

Alvin Adisasmita at 2:03pm January 29
read read

Haga Ade Wiguna at 2:05pm January 29
Saya hanya menulis pendapat saya mas...gak dilarang kan?
Untungnya Mas Alvin memberikan jawaban...kalo fatwanya "mengharamkan" gimana mas?Saya hanya ingin tahu dari mereka yang tahu...hehe

Haga Ade Wiguna at 2:09pm January 29
Mas, ga ditemukan.
Tulisannya :Wikipedia does not have an article with this exact name.

Haga Ade Wiguna at 2:11pm January 29
Silahkan buka : http://id.wikipedia.org/wiki/Haram

Alvin Adisasmita at 2:13pm January 29
iya sih ada benernya " Namun sayangnya MUI mengharamkan sesuatu secara islamiah a.k.a semua orang Islam di indonesia diwajibkan." Walopun sah mereka mengeluarkan fatwa...

ya boleh aja sih pendapat. tapi kalo bole akunya juga bole pendapat sih, debat yang di TV seperti memperdebatkan hal yang sudah jelas. setauku ya, sekali lagi setauku dan dari orang2 yang ngasi tau, fatwa tu NON BINDING... jadi sih akunya cueeeekkk... haha...

"masi" cuek tepatnya, menunggu dan membaca dan mendengar dan melihat dan apa ajalah... sambil ngerokok di depan media2 yang tak liat... haha...

Alvin Adisasmita at 2:20pm January 29
iya, soalnya terakhirnya ada a (pake garis atas). mending kamu ketik fatwa di google aja. langsung ketemu.

Alvin Adisasmita at 2:23pm January 29
piye ketemu ora?

dari baca ke baca semakin kebawah bakal semakin nemuin kalo fatwa malh cuma binding ke author-nya...

tulisannya gini:
"There is a binding rule that saves the fatwa pronouncements from creating judicial havoc, whether within a Muslim country or at the level of the Islamic world in general: it is unanimously agreed that a fatwā is only binding on its author."

Alvin Adisasmita at 2:25pm January 29
nah kalo ini mesti kebuka, uda dicoba:
http://en.wikipedia.org/wiki/Fatwa

Haga Ade Wiguna at 2:27pm January 29
thx mas atas informasinya. Semoga fatwa yang akan datang dapat diterima masyarakat dan tidak menjadi "senjata makan tuan" bagi para pembuatnya...

Alvin Adisasmita at 2:37pm January 29
yup yup

Raras Cynanthia at 5:06pm January 29
la la la.

Raras Cynanthia at 5:06pm January 29
KRIK.


Selasa, 30 Desember 2008

Berjalan atau Berlari (?)



Terkadang saat akan melakukan sesuatu, ada desakan dalam hati untuk mengatakan ”nanti saja”, ”besok saja”, ”kapan-kapan saja”, atau apapun yang sejenis. Ada kalanya desakan itu terealisasi dan datang dalam bentuk penyesalan. Kenapa nanti? Kenapa besok? Kenapa kapan-kapan? Mereka bilang kegagalan adalah pembelajaran. Saya tidak mau gagal tapi saya mau belajar. Bahkan pepatah pun berteriak ”jangan tunggu sampai besok apa yang dapat kau kerjakan hari ini”. Saya bisa menyalahkan waktu kalau apa yang dapat saya kerjakan hari ini, saya realisasikan besok. Tapi saya akan menyalahkan diri saya sendiri kalau apa yang seharusnya dapat saya kerjakan besok tidak terealisasi karena besok saya harus mengerjakan yang seharusnya saya kerjakan hari ini. Saya tidak mau bibir dan hati ini berucap, ”Seharusnya saya yang menempati jabatan itu...” atau ” Seharusnya saya yang menjadi pasangan gadis itu...” atau yang paling buruk ”Andai dulu saya lebih serius merencanakan masa depan...”.
Saya tidak ingin merasa sedang menunggu padahal saya sudah tertinggal. Saya tidak ingin merasa menemukan sesuatu yang baru padahal mereka sudah lebih dulu. Mereka menggoyangkan kaki menapaki tanah saat saya menggoyangkan kaki diatas kursi. Saya ingin bertemu dengan si individu yang menyatakan ”waktu terus berjalan”. Kenapa berjalan? Disaat yang lain mengatakan time is running out. Berlari!!! Tidak aneh kalau ”besok saja” dan kawan-kawan sering terucap karena merasa tidak harus mengejar. Tidak aneh kalau ada saat-saat ketinggalan.
Saya ingin menjadi sepasang sepatu bagi waktu yang sedang berlari bukan pemandangan bagi waktu yang ternyata tak pernah berjalan...

Comment(s) via Facebook.com



Yosephin Dewiani at 10:18am December 30, 2008
nyesel emang pasti datengnya belakangan koq...hehm...

Haga Ade Wiguna at 1:48pm December 30, 2008
Ya,biasanya seperti itu.
Saya pgn yang gak biasa.
Penyesalan bisa jd awal buat ketidakgagalan berikutnya...
Thx 4 comment:)

Alvin Adisasmita at 12:55am January 2
...” Seharusnya saya yang menjadi pasangan gadis itu...”

bagian tu menampar muka saya dengan begitu keras bung...
haha...
... Read More
ya tu berarti uda sifat dasarmu menunda-nunda...
kalo belum "kena" beneran brarti belum bakalan berubah...

nah, abis tu tinggal milih, mau nunggu "kena" atau mau berubah dulu?
silikan memilih temanku yang bijak...

cheers!
Alvin

Haga Ade Wiguna at 1:06am January 2
Aku jg pnh tertampar krn menunda2 pada seorang gadis.

haha
mari mulai tidak menunda2 lagi.
*i wish

Paramita Wulandari at 11:14pm May 23
menohok sekali ga

INTERMEZO

Saya masih ingat bagaimana masa-masa kecil saya dan saudara-saudara saya. Semua berjalan sangat indah walaupun kami tidak tahu bagaimana menerbangkan layangan, memainkan kelereng atau semacamnya karena kami tidak merasa tertarik dengan itu. Saya beruntung dibesarkan ditengah keluarga yang hangat. Saudara-saudara yang begitu bersahabat. Kedua orang tua saya adalah penghuni kantor “from ten to five”. Meskipun demikian, saya masih punya “from five to ten” dari sepasang manusia super ini. Jadi, maaf kalau saya tidak pernah merasakan apa yang mereka sebut dengan “korban orangtua workoholic”. Tak berlebihan kalau saya menggunakan kata “beruntung” untuk diri saya sendiri. Begitu cepat waktu berlalu. Saya masih ingat bagaimana reaksi keluarga saya saat pertama kali suara saya berubah menjadi besar sedikit bass. Saya pun sebenarnya bingung saat itu. Pernah saya menemukan kembali celana pendek kecil berwarna biru. Tersenyum kecil, bergumam…ya, saya pernah memakainya dulu sekali sewaktu playgroup jauh sebelum bulu-bulu ini memenuhi paha sampai mata kaki. Banyak hal telah berubah. Rambut ini pernah klimis sewaktu Sekolah Dasar. Sekarang untuk menurunkan rambut yang melawan gravitasi ini saja sulit rasanya. Dulu ketika saya kecil, saya ingin cepat besar. Saya pernah sangat senang saat usia saya melebihi sepuluh, tak terasa itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Meskipun saya tidak ingin kembali menjadi kecil, saya merindukan masa-masa itu. Lihat sekarang, untuk berkumpul bersama sangat susah mencari waktu. Ruang keluarga sudah jarang terisi penuh.
Semakin hari semakin banyak yang saya pelajari. Hidup itu waktu. Rambut yang memenuhi muka akan terus tumbuh meski setiap pagi dicukur. Saya akan meninggalkan dan juga ditinggalkan. Ya Tuhan, hidup itu seperti steak. Sayang ditelan sebelum puas mengunyah meskipun akan kenyang. Saya belum ingin kenyang dengan hidup. Saya masih ingin merasakan kaldu setiap kali mengunyah perjalanan hidup saya. Tidak masalah kalau lidah saya tergigit karena saya akan berhenti sejenak untuk kembali lagi. Ya Tuhan, saya tidak ingin hidup selalu berharap, saya ingin menjadi harapan. Saya takut ”mengecewakan” melebihi takut saya dengan ”dikecewakan”. Saya ingin tersenyum dengan masa depan. Sudah siapkah saya dengan masa depan? Apa dan dimana saya tidak lama lagi? Saya tahu bahwa lelaki dipandang dari pekerjaannya, bukan dari film yang ditontonnya. Jika tiba saatnya, saya ingin memiliki pekerjaan yang terencana kalau memang benar pekerjaan adalah harga diri bagi lelaki. Bahkan jika saya berpendapat bahwa pekerjaan dan harga diri menempati koridor yang berbeda. Saya terkadang bersyukur menjadi pribadi yang memikirkan ini. Saya pun tidak memungkiri kalau saya merindukan masa-masa saya tidak memikirkan ini semua. Masa kecil saya. Tidak berarti saya menolak proses pendewasaan. Ya Tuhan, banyak yang ingin saya utarakan antara kita berdua...

Comment(s) via Facebook.com



Radhyaksa Ardaya at 6:14am December 30, 2008
hiks, haga sangat mengharukan.
besok kutraktir steak de.

Raras Cynanthia at 7:25am December 30, 2008
haga... aku padamu....

Phe Pramanto Hanggoro at 8:18am December 30, 2008
Ga....tidak ikut UAS krn sering bolos tu bs merusak masa depan dan pekerjaan lho

Haga Ade Wiguna at 9:17am December 30, 2008
@caca
emang itu tujuannya,supaya dtrktr steak.hehe

@ayas
aku juga padamu.hoho... Read More

@phe
ikut UAS wekkk.haha

Alvin Adisasmita at 12:52am January 2
Justru bukan menolak ga, yang kamu tulis ki gejala penuaan...

hmmm,,mengenai rambut,, kok semua orang gitu ya?? dulu rambutku lurus banget lo ga... saiki, bahkan untuk bertahan sesuai sisiran awal selama 1 menit sudah jadi keajaiban...

oh, inikah yang dinamakan balada rambut dan steak?

Haga Ade Wiguna at 1:10am January 2
Hahaha
penuaan dini dong mas.

iya,rambutku ga bs turun lg...wkwk
... Read More
rambut dan steak? Jangan pnh mencoba merubah judul note ini !haha

Alvin Adisasmita at 1:13am January 2
haga sudah garing lagi...
lama tidak bertemu dengan teman-temannya di kampus...

sekali ketemu mungkin jadi ceng2an anak2 lagi...
poor haga...

Haga Ade Wiguna at 1:24am January 2
Iya nih, selera humorny drop lagi cz jarang dilatih...
Harus brainstorming lg atau siap2 jd "dia yg dicemooh krn candaan jayusnya"
hahaha
PUAS...PUAS...

Andrea Andjaringtyas Adhi at 11:32pm January 4
oh haga.
mengikat tali kasutmu pun aku tak layaak.. hahhaha.

Haga Ade Wiguna at 11:36pm January 4
jangan bol...jangan...jangan pernah kata2 itu terucap lagi...
kalo berpisah adalah jalan yang terbaik, aku gak mau yang terbaik...
ingat, langkah kakimu adalah langkah kakiku juga...
*makanya lepasin borgolnya!